Di Tepi Pulau Gili Trawangan Kami Memaafkan Masa Lalu

Sore itu mendung, tapi hujan belum turun. Saya dan suami menghentikan kayuh sepeda di depan sebuah kedai gelato – salah satu makanan penutup serupa es krim khas Italia – setelah hampir satu jam mengelilingi Pulau Gili Trawangan. Meskipun matahari senja tertutup awan-awan kelabu, udara di sekitar pulau masih panas sehingga kami tetap ingin menikmati gelato. Tubuh kami masih membutuhkan sesuatu yang menyegarkan selain air.

Kedai yang terletak tak jauh dari pelabuhan ini sepi pengunjung, hanya ada dua perempuan bule yang sedang duduk di kursi yang terbuat dari kayu, di tengah kedai. Mereka mengobrol, sembari memakan gelato. Saya dan suami memilih duduk tak jauh dari mereka, di sofa di pinggir kedai yang berhadapan langsung dengan pantai, laut, dan gunung di kejauhan. Kami menggeser sofa sampai ke tepi kedai supaya lebih dekat dengan pemandangan itu, tapi baru sebentar duduk, gerimis turun. Kami pun buru-buru mengembalikan sofa ke tempat semula.

20151014_153659

Pemandangan dari tepi kedai. (Foto: Birgitta Ajeng)

Sambil menikmati hembusan angin laut yang dingin karena bercampur gerimis, kami memakan gelato dan mengobrol. Obrolan-obrolan yang awalnya ringan berubah menjadi serius dan mengejutkan. Suami saya bilang bahwa tadi malam dia membaca semua chatting saya dengan teman saya, tentang mantan saya.

20151014_152238_HDR-1

Gelato di kedai Vallazza Gourmet Gelato. (Foto: Birgitta Ajeng)

Saya tak akan menceritakan dengan detail apa isi percakapan itu. Yang jelas, isinya telah menyakiti hati suami saya. Saya seperti seorang pencuri yang tertangkap basah mengambil barang orang lain saat mendengar suami saya membeberkan apa yang dia baca.

“Aku cemburu, dan semalam sebetulnya aku sudah tak bergairah,” ucapnya.

Saya membisu, tak sanggup berkata-kata. Saya tahu, saya sepenuhnya salah.

“Aku sedih, tapi setiap orang punya masa lalu yang tak mungkin dilupakan. Semuanya butuh waktu,” ucapnya lagi.

“Aku minta maaf,” kataku.

Ada banyak alasan mengapa sepasang suami-istri berbulan madu. Ada yang mau mencari kesenangan, ada yang ingin menyegarkan jiwa supaya bisa kembali ke rutinitas dengan semangat baru, ada pula yang hendak mencari penyegaran secara sosial dengan mendekatkan diri satu sama lain. Kami telah mendapatkan semuanya dari perjalanan yang baru berlangsung tiga hari. Ada satu bonus lagi yang kami dapatnya dari perjalanan ke Gili Trawangan: kami telah berani menghadapi dan memaafkan masa lalu. Semoga bonus ini semakin memperkuat ikatan kami sebagai suami-istri.

Advertisements

2 thoughts on “Di Tepi Pulau Gili Trawangan Kami Memaafkan Masa Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s