Sungguh, Saya Ingin Bulan Madu Lagi di Gili Trawangan

20151012_122310
Pemandangan sewaktu menyeberang dari Pelabuhan Bangsal di Lombok Utara ke Pulau Gili Trawangan. (Foto: Birgitta Ajeng)

Kapal melaju dengan lambat di tengah laut biru, meninggalkan Pelabuhan Bangsal, menuju Pulau Gili Trawangan. Ombaknya kala itu memang tak terlalu lincah bergerak, tetapi tetap memabukkan, membuat tubuh terombang-ambing, dan kepala sedikit pening. Beberapa orang di sekitar memilih untuk bersandar sambil memejamkan mata. Sementara saya asyik sendiri, sesekali mencelupkan jemari tangan ke permukaan laut, sesekali tertegun memandangi sekitar, sesekali memotret menggunakan smartphone. Cekrek! Ada pemandangan indah yang tak boleh luput dari mata kamera.

20151015_082423_1

Harga tiket kapal umum untuk satu orang. (Foto: Birgitta Ajeng)

Penyeberangan siang itu tak memakan waktu lama. Sekitar tiga puluh menit, kapal bertarif ekonomis yang saya dan suami tumpangi sudah tiba di pelabuhan. Bila kalian bertanya, apa yang terlintas di benak saya saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Gili Trawangan? Saya akan menjawab: Gili Trawangan ada pulau kecil yang sibuk.

Iya, benar. Bayangkan saja, ada begitu banyak orang berseliweran di jalan setapak, ada pula orang-orang yang asyik bersepeda, yang ribut membunyikan bel bila kayuhan mereka terhalang para pejalan kaki, ditambah lagi suara nyaring para pedagang yang menjajakan dagangannya. Ah, belum lagi suara musik yang berasal dari penginapan-penginapan dan kedai-kedai makanan. Oh, masih ada lagi, suara-suara sepatu kuda dari cidomo — kereta kuda khas Lombok — yang berlalu-lalang mengantar penumpang. Pokoknya ruame tenan.

Saya agak heran, kenapa bisa seramai ini. Ternyata usut punya usut, daerah di sekitar pelabuhan itu merupakan “jantung kota”-nya Pulau Gili Trawangan.

20151012_174226

Suasana di jalan di “jantung kota” Gili Trawangan. (Foto: Birgitta Ajeng)

Lantas di mana kah keberadaan Hotel Ombak Sunset, tempat saya dan suami menginap? Menurut seorang pak kusir, letaknya cukup jauh dari pelabuhan. Rasanya akan sangat melelahkan bila harus ditempuh dengan berjalan kaki, apalagi sambil membawa koper. Kalau ingin menggunakan alat transportasi, pilihannya hanya dua: sepeda atau cidomo. Tentu Anda tahu alat transportasi apa yang kami pilih.

Lagu-lagu Bervolume Maksimal

Saya dan suami tidak diperbolehkan menyetop cidomo sesuka hati seperti menyetop taksi, angkutan umum, atau ojek di Jakarta. Seorang pak kusir yang lain bilang kepada kami bahwa kami harus mengambil nomor antre bila ingin naik kereta kuda yang ukurannya lebih kecil dari delman itu.

IMG_20160304_194044

Cidomo. (Foto: Birgitta Ajeng)

Nomor antre sudah di tangan. Cidomo datang tanpa perlu menunggu lama. Pemandangan di sekitar berubah saat cidomo melaju perlahan menjauhi pelabuhan. Toko-toko dan penginapan-penginapan di kiri dan kanan jalan berganti menjadi hamparan laut biru, pantai berpasir putih, dan gunung di kejauhan. Ada pula ladang dengan pepohonan yang mengering, sebuah bukit batu, dan satu-dua kedai makanan serta penginapan.

Lanskap memang berganti, namun tetap saja, masih ada suasana ingar-bingar menemani. Sebab, setiap kedai makanan dan penginapan memutar lagu-lagu dengan volume maksimal. Saya sendiri akhirnya menjadi hafal, ada satu lagu yang sering diputar di sana. Sampai sekarang, setiap mendengar lagu itu, ingatan saya langsung melompat ke masa bulan madu di Pulau Gili Trawangan. Lagu itu adalah Cheerleader.

 

Lima belas menit berlalu, saya dan suami sudah sampai di hotel. Menurut saya, dengan jarak tempuh yang ternyata tak terlalu jauh, tarif cidomo dari pelabuhan menuju hotel cukup mahal, seratus ribu rupiah.

Air Asin, Makanan dan Minuman Mahal

Saya dan suami tak pernah memesan kamar khusus untuk bulan madu. Saat melakukan reservasi lewat ombaksunset.com, jauh sebelum bulan madu, suami saya hanya memastikan bahwa kasur di kamar yang kami pesan adalah kasur besar untuk dua orang. “Maklum pengantin baru,” tulis suami saya saat mengirim surel kepada pihak hotel.

Mungkin, karena itu, ketika tiba di kamar, kasur kami sudah berhiaskan taburan bunga berbentuk love, dan sepasang bebek — yang terbuat dari handuk — sedang bercumbu. Di depan pintu kamar kami juga diletakkan dua payung kecil berwarna kuning, yang ternyata merupakan tanda bahwa di kamar itu sedang ada pasangan berbulan madu. Saat malam, pihak hotel juga memberi kami kue kecil yang bertuliskan “Happy Honeymoon“. Kejutan-kejutan kecil ini membuat bulan madu kami menjadi lebih berkesan.

20151012_135342_1

Suasana kamar di Hotel Ombak Sunset saat pertama kali saya masuk. (Foto: Birgitta Ajeng)

Akan tetapi, ada juga lho kejutan yang tak berkenan di hati. Masa sih? Iya, serius ada. Saya menemukannya saat mengecek kamar mandi. Betapa terkejutnya saya saat mengetahui bahwa air yang keluar dari setiap keran rasanya asin. Saat berenang di kolam renang hotel pun, airnya asin. Aneh. Mandi jadi terasa tak bersih, dan gosok gigi jadi terasa ganjil. Sepertinya air di Pulau Gili Trawangan memang begitu, sebab suami saya pernah memesan teh manis di salah satu warung nasi di dekat pelabuhan, dan rasanya… kayak ada asin-asinnya.

Hal lain yang juga tak berkenan adalah masalah harga. Harga makanan dan minuman di Pulau Gili Trawangan benar-benar tak berkenan di kantong. Contoh, air mineral ukuran satu setengah liter. Di Jakarta, harganya tak sampai tujuh ribu rupiah, tapi di Pulau Gili Trawangan, harganya sepuluh ribu rupiah. Contoh satu lagi, Chitato ukuran besar yang kalau di Jakarta dijual dengan harga sepuluh ribu rupiah, di Pulau Gili Trawangan dijual dengan harga dua puluh ribu rupiah. Apakah hal ini terjadi lantaran semua bahan makanan dan minuman dibawa dari luar pulau menggunakan kapal? Mungkin.

Untuk bisa makan dengan harga sewajarnya, saya dan suami makan di warung nasi di dalam gang-gang di sekitar pelabuhan. Sekali saja kami makan seafood di pasar malam di dekat pelabuhan. Harga seafood-nya juga lumayan mahal. Iseng, saya mencoba menawar harga dengan bilang bahwa saya orang lokal, dan berhasil.

IMG_20151020_202006

Selain seafood yang masih segar, stan-stan di pasar malam juga menyediakan menu barbeque dan nasi campur. (Foto: Birgitta Ajeng)

Ingin Kembali ke Gili Trawangan

Bulan madu empat hari tiga malam — sejak 12-15 Oktober 2015 — terasa kurang. Padahal dulu — saat merencanakan bulan madu — saya sempat khawatir akan merasa bosan bila berbulan madu di Pulau Gili Trawangan. Namun, ternyata, saya salah. Andai waktu bisa diputar, saya ingin bulan madu lebih lama.

Ada banyak alasan yang membuat saya terkesan akan Pulau Gili Trawangan. Sebab, ada begitu banyak aktivitas sederhana, namun membahagiakan, yang bisa saya lakukan bersama suami. Pertama, kami bisa menyaksikan matahari terbenam di tepi pantai, kapan pun kami mau. Kedua, kami makan gelato, di kedai di tepi pantai sambil menantikan matahari terbenam. Ketiga, kami snorkeling, menyelam ke dalam laut sambi melihat terumbu karang, ikan-ikan yang cantik, dan penyu yang katanya sulit sekali ditemukan.

Keempat, kami bersepeda mengelilingi pulau sambil melihat air laut yang biru jernih, pantai berpasir putih, dan awan-awan yang berarakan di langit. Kelima, kami minum kelapa muda di tepi pantai, ditemani angin pantai dan debur ombak, setelah lelah bersepeda. Keenam, kami menemukan beberapa hal yang tak berkenan, yang menurut saya justru menjadi penyedap bulan madu kami. Dan.. ketujuh, kami benar-benar bahagia.

Bila di hari depan masih ada kesempatan, sungguh, saya ingin bulan madu lagi di Gili Trawangan.

IMG_20160304_195724

Fasilitas ayunan dari Hotel Ombak Sunset. Letaknya persis di tepi pantai di depan hotel. Siapa pun boleh foto di sini, gratis. (Foto: Birgitta Ajeng)

 

Advertisements

2 thoughts on “Sungguh, Saya Ingin Bulan Madu Lagi di Gili Trawangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s