Senyum Simpul

IMG_20160515_110908

“Perlihatkan gigimu saat tersenyum,” kata suamiku sambil memotretku menggunakan telepon genggam. Dia selalu berkata seperti itu setiap kali mengabadikan wajahku. Dia cerewet kalau sudah menyangkut masalah itu, seolah-olah seorang ibu yang tak pernah lelah menasihati anaknya.

Aku pun ngeyel, seperti seorang anak yang tak suka diatur. Aku berkata kepadanya, “jangan sekarang, lain kali saja. Di kesempatan berbeda, aku pasti akan tersenyum dengan bibir berkembang lebar-lebar sambil memperlihatkan gigi putihku yang berbaris rapi saat dipotret.”

Akan tetapi, dia tidak mengindahkan ucapanku. Dia mengulangi nasihatnya sebanyak tiga kali, dan nasihat yang ketiga itu dia perpanjang kalimatnya. “Perlihatkan gigimu saat tersenyum, ubah senyum simpulmu menjadi senyum lebar,” nada bicaranya lebih mirip komando.

Aku kesal mendengar nasihatnya dan protes, “Mengapa harus begitu?”

“Jujur saja, aku sebal melihat senyummu.”

“Maksudmu, senyumku tak sedap dipandang?”

“Bukan itu maksudku. Aku hanya merasa senyummu penuh rahasia. Setiap kali hendak kupotret, kamu tampak menyembunyikan sesuatu,” dia berkata sambil tetap mengangkat telepon genggam dengan kedua tangannya, siap-siap mengambil gambar wajahku.

“Apa sesuatu itu?”

“Seperti kesedihan,” jawabnya agak lama, “Iya, aku melihat ada kesedihan di balik senyummu.”

“Maksudmu, aku tak bahagia?”

“Aku sudah lama merasakan ada yang berubah dari dirimu,” katanya sambil menurunkan telepon genggam, lantas meletakkannya di atas meja. Dia batal memotretku di kafe yang setiap sudut ruangnya dipermanis dan disegarkan oleh tanaman-tanaman mungil, yang ditanam di pot-pot hitam kecil.

“Sejak kapan kamu merasakan perubahan itu?”

Mimik wajahnya berubah menjadi tegang, sejurus kemudian dia mengeluarkan kalimat-kalimat serius, padahal sedari tadi aku dan dia mencecap topik-topik ringan.

“Tepatnya tiga tahun yang lalu. Kamu menjelma menjadi seorang perempuan yang mudah cemas dan pemarah. Aku tak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya. Dulu aku mengenalmu sebagai perempuan yang ceria dan sabar.”

Aku diam, mencoba memikirkan ucapannya dan bertanya-tanya sendiri, apakah ada yang salah di dalam diriku? Dia pun membisu, tak melanjutkan bicaranya.

“Tapi mungkin aku keliru menilai tentangmu,” katanya memecah keheningan.

“Tidak,” kataku sambil menggelengkan kepala, “mungkin kamu benar.”

“Kamu setuju dengan ucapanku tadi?”

“Lima belas tahun yang lalu, aku memang seorang perempuan yang bahagia, menikah denganmu, punya rumah yang sangat layak untuk ditinggali, kau menghadiahkan anjing-anjing lucu untuk kupelihara di beberapa hari ulang tahunku. Kita berlibur setahun sekali, dan karierku membanggakan. Hidupku tenang dan tenteram. Ketika usiaku memasuki tiga puluh lima tahun, segalanya makin terasa nyaman, tapi sekaligus meresahkan. Pikiranku menjelma monyet yang aktif loncat ke sana ke mari, kadang ke masa lampau, kadang ke masa yang akan datang,” kataku.

“Apa yang kamu cemaskan?”

“Sejak ulang tahunku yang ketiga puluh lima itu…”

“Enam bulan yang lalu?” suamiku menyela.

“Iya,” ucapku, “aku sering terjaga sampai di dini hari yang sunyi. Di dalam kegelapan yang paling gelap, aku terbentur pada pertanyaan yang sama, pada pertanyaan yang tak jua kutemukan jawabannya: Apa tujuan manusia menikah? Kalau manusia tak menikah, bukankan hidup akan tetap baik-baik saja?”

“Kamu baru mempertanyakannya sekarang, sementara pernikahan kita sudah menginjak usia sepuluh tahun?” katanya dengan heran.

“Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul di benakku, menuntut jawaban. Untuk meredakan kegelisahan yang bersarang di hatiku, aku mencoba berjalan dari pagi hingga malam pada suatu hari yang sibuk, tanpa sepengetahuanmu. Aku menemui beberapa teman untuk menemukan jawaban. Aku mengawali perjalanan ke pinggiran kota. Di dalam sebuah kafe, di pagi menjelang siang hari, aku bertemu seorang teman masa kecilku. Dia adalah seorang perempuan yang sedang menyesap secangkir kopi sambil membaca buku, sendirian. Aku duduk di hadapannya, menyapa, dan mengajaknya bicara tentang hal umum, lantas bertanya tentang tujuan manusia menikah.”

“Apa jawabannya?” suamiku bertanya.

“Dia heran mendengar pertanyaanku, sebab, menurut dia, aku sudah hidup bahagia denganmu. Lalu, kujelaskan kepadanya bahwa aku hanya sedang gelisah.”

“Lantas?”

“Dia tampak tak puas dengan jawabanku. Dia menuduh bahwa hubungan rumah tangga kita tak harmoni. Kita akan bercerai. Aku langsung bilang tidak. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku hanya merasa perlu mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang tujuan hidup, tentang tujuan menikah. Tak memedulikan pertanyaan-pertanyaan itu malah membuat hidupku terasa kosong.”

Suamiku terdiam. Dia menyimak ceritaku dengan serius.

Aku berkata lagi, “Setelah itu, dia baru menjawab pertanyaanku. Dia mengatakan bahwa baginya manusia menikah karena membutuhkan teman hidup, teman untuk berbagi suka dan duka.”

“Sungguh alasan yang sangat sederhana,” kata suamiku.

“Itu sebabnya aku membantah ucapannya. Suka dan duka juga bisa dibagikan kepada keluarga atau teman. Manusia tidak perlu menikah bila hanya untuk mencari teman hidup. Aku bilang begitu waktu itu. Karena merasa belum menemukan jawaban yang tepat, aku pun pamit meninggalkan dia, lantas berjalan lagi hingga malam hari. Saat melangkah di sebuah pusat kota yang gemerlap, aku melihat seorang teman semasa kuliah, laki-laki, sedang menikmati segelas wine di dalam sebuah bar. Ketika aku menghampirinya dan bertanya tentang pernikahan, dia bilang bahwa dirinya tidak percaya dengan pernikahan yang didasari cinta. Baginya pernikahan adalah sebuah pintu masuk kepada hubungan seksual yang legal.”

“Jawaban yang terlalu sinis,” suamiku berkomentar.

“Aku juga bilang begitu kepadanya. Namun dia malah menghujatku. Dia bilang bahwa pikiranku terlalu sempit dan aku perlu sering membaca buku, terutama karya penulis yang memiliki gagasan kontroversial. Aku tak mengindahkan ucapannya. Aku berkata kepadanya bahwa pasti ada jawaban lain yang lebih baik dan luhur. Setelah mengucapkan itu, aku langsung pergi tanpa pamit karena kesal. Energiku hampir habis. Namun, karena merasa belum puas, aku memutuskan untuk bertanya kepada satu orang lagi di dalam perjalanan pulang. Beruntungnya, aku dipertemukan dengan tetangga kita di sudut gang di dekat rumah.”

“Dia bilang apa soal pernikahan?”

“Dia mengatakan bahwa… manusia menikah untuk mendapatkan keturunan,” aku bicara dengan perasaan yang sangat berat.

Kemudian aku terdiam, kalimat selanjutnya seakan-akan sulit kuucapkan.

“Lalu?” suamiku bertanya, menuntut cerita selanjutnya.

“Aku mendadak membisu saat mendengar ucapannya.”

“Kamu masih belum ikhlas?”

“Aku hanya merasa gagal menjadi seorang perempuan,” kataku.

“Pastor di paroki kita pernah berkata bahwa tujuan menikah bukan untuk memiliki anak. Menikah adalah panggilan Tuhan. Kita dipanggil untuk menemukan Tuhan lewat hidup berumah tangga. Kalau kamu mencari yang lain, kamu hanya akan kecewa dan senyummu tak akan pernah lebar.”

*cerpen ini dimuat di Majalah Minggua Katolik HIDUP edisi 20, 15 Mei 2016

Advertisements

2 thoughts on “Senyum Simpul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s