Lagu yang Mengantarku Kepada Seseorang

 

efc566e119cb230f9fb43d89eb319429

Foto: flickr.com

Apakah kau percaya bahwa sebuah lagu bisa mengantarkanmu kepada seseorang? Seorang teman laki-laki pernah bertanya tentang hal itu kepadaku dulu, dan aku tak pernah menyetujuinya. Bagiku, lagu ya lagu, hanya bisa didengar, dinyanyikan, dijadikan teman untuk menari, atau untuk mengantarkan kita kepada tidur yang nyenyak, bukan kepada seseorang.

Namun, baru-baru ini, sebuah peristiwa membuatku memercayai pertanyaan itu. Lebih tepatnya sepekan lalu. Waktu itu adalah sore. Di kedai kopi yang kebanyakan pengunjungnya memesan minuman hangat gara-gara kuyup diguyur hujan, aku mendengar sebuah lagu.

Lagu itu keluar dari pengeras suara di setiap sudut langit-langit saat aku tengah menyesap secangkir Caramel Macchiato hangat. Volume-nya cukup besar. Lagu itu merambat pelan memasuki telingaku, lantas menghampiri ingatan usang di sudut pikir yang sunyi. Dia tak segan-segan mengajak ingatanku pergi keluar. Bahkan seseorang di dalam kehidupanku, yang sebelumnya tak pernah kupikirkan berani disapanya. Memang kurang ajar dia.

Lagu itu laksana sihir bagiku, karena berhasil membuatku terpaku. Aku tak mampu melawan ketika melodi dan liriknya memasuki setiap inci tubuhku. Sejurus kemudian, sosok seseorang itu mendadak berdiri tak jauh dari hadapanku dan tersenyum.

Hal pertama yang kupikirkan tentangnya adalah rindu.

Di dalam senyumnya, aku seperti mendengar dia memanggil namaku. Aku ingin sekali berlari dan rubuh di dalam pelukannya, tetapi mengapa yang bisa kulakukan hanya berdiri dan… menangis?

Buru-buru aku menyeka air mata yang menetes dari sudut-sudut mataku. Selagi aku melakukannya, dia melangkah menghampiriku. Di dekatku, dia berkata, “Aku rindu.”

Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi padaku. Sambil berdiri di hadapannya, aku bertanya dengan pelan, lebih tepatnya berbisik, “Apakah benar lagu ini telah mengantarkanku kepadamu?”

“Benar. Kamu harus percaya,” katanya.

“Tapi…” kataku agak terbata, “Aku tak mau lagi memercayai ucapanmu.”

Bukannya berkata-kata untuk menanggapi ucapanku, dia malah mengulurkan kedua tangannya. Kurasa dia berharap aku ikut mengulurkan tanganku, kemudian menggenggam tangannya. Tapi ketika dia melakukan itu, aku berjalan mundur satu langkah.

“Bahkan kamu juga tak ingin memercayai kehadiranku saat ini?” tanyanya.

“Tidak,” jawabku tegas.

“Kita tidak akan pernah bertemu lagi di hari-hari depan. Yang bisa kita harapkan hanya kebetulan-kebetulan yang entah kapan. Jadi… genggamlah tanganku dan peluklah aku sekarang.”

“Untuk apa?”

“Supaya aku bisa mengenangmu.”

“Kita sudah punya banyak kenangan,” kataku.

“Iya, tapi semua menyakitkan. Beri aku satu kenangan indah,” pintanya.

“Tidak. Kamu perlu merasakan penolakan seperti yang pernah kurasakan,” ucapku.

“Aku menyayangimu, sampai hari ini pun masih. Aku tak layak mendapat penolakan darimu karena aku tak tahu bagaimana cara menyayangimu dulu. Kumohon pegang tanganku.”

“Tidak,” jawabku sambil menggelengkan kepala.

Lama kami terdiam. Aku masih berdiri di depannya sambil menatapnya lekat-lekat, memperhatikan rambutnya, matanya, hidungnya, bibirnya, dan tubuhnya. Semua masih sama, tak ada yang berubah pada diri laki-laki di hadapanku. Dia masih seorang laki-laki tampan. Aku adalah perempuan yang pernah menyayanginya, dan… sama seperti dia, sampai hari ini pun aku masih menyayanginya.

Akan tetapi, kehidupan telah maju dan berubah. Aku tak mungkin menjatuhkan diri lagi ke dalam pelukannya hanya untuk menciptakan satu kenangan indah. Bila pahit yang sudah tertulis, biarlah pahit. Tak usah memaksa takdir untuk mengubahnya menjadi manis.

“Kita tidak perlu mempertaruhkan hidup hanya untuk mengulang atau menciptakan kenangan di antara kita. Mari kita pulang ke pelukan kekasih kita masing-masing,” kataku memecah keheningan.

“Tidak,” katanya dengan lantang. Mendadak, dia menarik tanganku dan mendekapku. Aku tak mampu melawan karena pelukannya begitu erat.

“Sekali ini saja,” katanya, “Dulu kita tidak pernah sedekat ini, bukan?”

Aku menggeleng pelan.

Aku dan dirinya tidak pernah sedekat ini dulu. Entah cinta macam apa yang pernah tumbuh di antara kami waktu itu. Rasanya begitu dalam, tapi masing-masing dari kami sama-sama bodoh. Kami tak tahu bagaimana cara mengutarakannya. Cinta bagi kami sebatas curi-curi pandang, bertegur sapa via telepon genggam, kemudian terberai begitu saja karena… dia tak pantas untukku? Ah, itu versinya. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah karena perselingkuhan.

“Aku minta maaf, mungkin ada banyak hal tidak berkenan di hatimu,” ujarnya pelan, masih sambil memelukku.

“Iya,” jawabku.

“Pelukan ini akan kujadikan kenangan terindah, dan… terakhir,” ujarnya.

Setelah dia mengatakan hal itu, lagu yang tadi merambat pelan memasuki telingaku berhenti bernyanyi. Aku pun ternyata tak lagi berada di dalam dekapannya. Aku tesadar, aku telah berdiri cukup lama seperti orang linglung di dekat tempat dudukku di kedai kopi. Aku duduk perlahan di kursiku tadi. Kulihat ponselku. Di layarnya, aku menemukan sebuah pesan singkat yang bertuliskan:

Vena, apa kabar? Tadi malam aku memimpikanmu.
-Bayu-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s