Pulang

coming-home-picture

(Foto: www.redeemedgirl.org)

Aku tak mampu memejamkan mata malam ini. Selama tiga jam, aku sibuk mencari posisi tidur yang pas. Aku tengkurap, lalu menyamping, kemudian telentang, namun itu semua tak jua mengantarku ke dalam tidur yang lelap. Akhirnya aku memutuskan untuk bangun dan menepuk-nepuk punggung adik perempuanku dengan pelan sambil berkata, “Kamu sudah tidur?”

“Hampir,” jawabnya dengan suara lirih. Posisi tidurnya masih menyamping, membelakangiku.

“Aku ingin bicara, lebih tepatnya bertanya.”

“Jika pertanyaanmu masih sama seperti hari-hari kemarin, maka jawabanku juga akan sama.”

“Kapan kamu akan pulang, Antarina?” aku menuntut.

“Aku sudah bilang, jawabanku tetap sama. Aku tidak mau pulang,” jawab adikku yang dua hari lalu genap berusia tiga puluh tahun.

“Kamu sudah lima belas tahun meninggalkan rumah, sejak lulus kuliah. Mengapa kamu sama sekali tak ingin pulang?”

“Ya… Tidak…”

“Itu bukan jawaban. Mengapa tidak?”

“Aku malas pulang ke Jakarta, Mbak.”

“Mengapa malas?”

“Tidak apa-apa.”

“Malas kan pasti ada alasannya.”

“Pokoknya tidak.”

“Mengapa tidak?”

“Cukup! Kehadiranmu selama dua hari di sini benar-benar mengganggu hidupku. Aku sudah bahagia hidup jauh dari kota terkutuk itu, Mbak,” katanya, geram.

Kemudian dia bangun, lalu berjalan menuju pintu. Ditekannya saklar putih yang ada di sebelah pintu. Lampu kamar menyala, menyilaukan mata. Lantas kami duduk berhadapan, namun jaraknya tak terlalu dekat.

“Jangan berkata seperti itu. Aku ini kakakmu. Apakah kamu ingat, ketika kamu masih balita, aku harus mengusap-usap kepalamu cukup lama supaya kamu bisa tidur dengan nyenyak? Sebenarnya, tadi, aku rindu mengusap-usap kepalamu, tapi kamu pasti marah kalau aku melakukannya,” ucapku dengan pelan.

Dia menatapku lekat-lekat tanpa suara. Meski kami duduk berjauhan, aku mampu melihat sesuatu yang berbeda dari pandangan matanya. Aku seperti menangkap kesedihan yang menyembul di pinggir-pinggir matanya yang kecil.

“Aku ingin mengajukan satu pertanyaan,” akhirnya dia bicara sambil memasang wajah serius.

“Apakah pertanyaan itu penting?”

“Sangat penting.”

“Apa?”

“Apakah kamu pernah menggambar bunga?”

Aku tertawa, lalu bertanya, “Apa maksudmu?”

“Aku sedang tidak bercanda, Mbak.”

“Baik,” aku menganggukkan-anggukkan kepala. “Aku pernah menggambar bunga.”

“Kapan pertama kali kamu melakukannya?”

“Saat aku masuk kelas satu SD.”

“Aku juga. Kamu menggambar bunga warna apa waktu itu, Mbak?” ucapnya dengan wajah yang masih serius.

“Aku menggambar bunga warna merah.”

“Daun dan tangkainya warna apa?”

“Aku beri warna hijau. Tapi, tunggu, apa hubungannya dengan ucapanmu tadi? Mengapa kamu malas pulang, Antarina?”

“Aku belum selesai bercerita.”

***

Aku tidak seperti kamu dan tidak seperti kebanyakan murid di kelas. Waktu itu, ketika aku masih menjadi siswa kelas satu Sekolah Dasar, aku menggambar bunga dengan banyak warna. Ada merah, kuning, hijau, biru, dan ungu. Aku suka warna-warninya. Namun, ketika aku sedang asyik mewarnai, ibu guru datang kepadaku dan bertanya dengan nada mengintimidasi. “Apa yang sedang kamu lakukan?”

“Mewarnai, Bu,” jawabku kala itu.

Bukannya memberi tanggapan yang memotivasi, ibu guru malah merespons dengan berbagai tudingan. “Jangan mengerjakan tugas dengan asal-asalan. Kelopak bunga itu berwarna merah dan daunnya berwarna hijau. Kamu harus menggambar seperti itu. Tidak perlu melihat bunga dengan cara lain. Warnai saja seperti yang sudah ibu guru katakan tadi, seperti bunga yang sering kita lihat di dekat pintu gerbang sekolah.”

Aku protes. Aku berkata kepada ibu guru bahwa begitu banyak warna pelangi, tentu bunga-bunga juga memiliki beragam warna. “Jadi, mengapa aku harus menggambar bunga hanya dengan warna merah dan hijau, bu?”

Ibu guru murka setelah mendengar ucapanku. Dia bilang bahwa aku lancang. Kemudian, ibu guru menghukumku.

“Kamu harus berdiri di depan kelas!” Ibu guru membentak. Suaranya yang keras seperti aba-aba perwira melumpuhkanku.

Perintahnya belum selesai. Dia berseru lagi bahwa aku tidak boleh pergi sampai aku bisa memahami warna bunga yang benar.

Aku merasa sangat kesepian saat berdiri di sudut kelas, di samping papan tulis. Rasa takut menaungi hatiku saat itu. Aku melihat puluhan pasang mata menyerangku dengan berbagai tuduhan: bodoh, nakal, pembangkang. Aku bisa menangkap semua itu dari sorot mata mereka yang tajam.

Aku ingin menangis saat berada di sudut sepi itu. Tapi aku malu. Aku tidak ingin kelihatan cengeng di depan mereka. Maka aku hanya berdiri sambil menunduk.

Ketika kelas hampir berakhir, ibu guru memanggilku dan memintaku datang ke mejanya. Dia bertanya apakah aku sudah mengerti cara mewarnai bunga yang benar. Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil berkata, “Iya, warna kelopak bunga adalah merah dan daunnya berwarna hijau.”

Lalu, ibu guru menulis angka lima di atas gambarku tadi.

Aku pulang sambil menggendong ranselku dan menjinjing buku gambarku. Rasa takut juga harus kupikul dan kubawa pulang. Ibu pasti marah saat melihat nilaiku.

Sesampainya di depan rumah, aku turun dari mobil jemputan dan mendengar Ibu sedang bercengkerama dengan teman-temannya. Mereka tertawa riang. Aku pernah mendengar bahwa mereka menamai pertemuan itu “arisan”. Ibu memintaku menghampirinya terlebih dulu setelah aku mengetuk pintu yang terbuka. Semua temannya tersenyum dan menyapa dengan hangat.

Ibu bertanya dengan manis, “Kamu tadi belajar apa, sayang?”

“Menggambar,” jawabku sambil duduk di pangkuan Ibu.

“Kamu dapat nilai berapa tadi, cantik?” tanya seorang teman Ibu.

Ibu langsung meraih buku gambarku dan mengintip isinya.

“Dia mendapat nilai sembilan,” kata Ibu.

Semua orang yang ada di situ langsung melemparkan pujian kepadaku. Ibu mengucapkan terima kasih seraya mengantarku ke dapur untuk makan siang.

“Mengapa Ibu berbohong?” tanyaku.

“Nilaimu sangat memalukan,” kata Ibu sambil memasang wajah tegang. “Mengapa pontenmu jelek?”

“Tadi aku sudah menggambar bunga warna-warni, tapi ibu guru bilang tidak perlu melihat bunga dengan cara lain. Warnai saja kelopak bunga dengan warna merah dan warnai tangkainya dengan warna hijau seperti bunga yang sering kita lihat di dekat pintu gerbang sekolah. Aku tidak mau mewarnai seperti itu, sebab begitu banyak warna dalam pelangi, tentu bunga-bunga juga memiliki banyak warna.”

“Lalu ibu guru bilang apa?”

“Ibu guru bilang kalau aku lancang. Lalu dia menyuruhku berdiri di samping papan tulis. Dia menghukumku.”

“Mungkin kamu memang bodoh dan nakal.”

Kukira Ibu akan mendukungku dan menganggap bahwa ibu guru salah, tapi ternyata tidak. Semenjak itu, aku percaya bahwa aku tak becus mengerjakan tugas sekolah. Aku tidak bisa mendapat nilai bagus karena aku bodoh dan nakal.

***

“Ibu memang tidak pernah memukuliku, dia tidak pernah membanting barang-barang ketika marah, namun cintanya kepadaku adalah cinta bersyarat. Dia baru memberikan kasih sayang jika aku menjadi anak berprestasi. Kalau tidak, Ibu hanya memberi kasih sayang yang sudah didiskon. Sialnya pula, aku bukan anak yang pandai. Aku tak mampu jadi juara kelas sepertimu. Aku tak mampu meraih beasiswa untuk kuliah di universitas negeri sepertimu. Otakku hanya mampu menempuh pendidikan di universitas swasta dan menjadi pegawai swasta. Berbeda denganmu yang akhirnya menjadi pegawai negeri,” katanya menggebu-gebu.

“Mengapa kamu baru mengungkapkan hal itu sekarang, Antarina?”

“Kamu sibuk dengan dirimu sendiri di luar kota. Demi kesuksesanmu, kamu sama sekali tak memedulikan keadaan rumah. Ayah juga sama.”

Aku membisu, merenungkan kata-katanya di dalam hatiku. Dia bisa jadi benar. “Lalu, apa alasanmu tak mau pulang?”

“Sakit hati terdalam seorang anak justru bersumber dari rumahnya sendiri.”

“Maksud kamu?”

Dia terdiam sesaat, lalu berkata pelan-pelan seolah kata-kata berikutnya sangat sulit untuk dia utarakan. “Aku malas pulang karena aku benci Ibu.”

“Ya… Itu… Tak ada yang salah dengan itu,” kataku berusaha tenang, ”Tapi kamu harus tahu satu hal, tak ada sekolah untuk menjadi orangtua di dunia ini.”

“Justru itu orangtua harus meluangkan waktu untuk belajar sekaligus menjalin komunikasi dengan anaknya. Ayah terlalu sibuk bekerja di luar kota. Ibu sibuk dengan teman-temannya dan hal-hal yang tak penting saban hari. Mereka…”

“Antarina, ada satu hal lagi yang kamu harus tahu,” aku menyela ucapannya.

“Aku belum selesai bicara,” sergahnya.

“Dengarkan aku dulu. Ini penting,” kataku, “Dua hari sebelum ulang tahunmu, sebelum aku berangkat ke sini, aku memimpikan Ibu. Dia datang ke rumah siang hari sambil menjerit minta tolong di depan pintu karena banyak iblis menarik tubuhnya. Bukannya menolong, kamu malah melarikan diri ke ruang makan karena takut setengah mati. Kamu mengintip Ibu yang masih memekik pilu dari balik dinding. Tak lama, jeritan itu lenyap. Iblis-iblis itu berhasil menyeret Ibu,” ujarku.

“Aku pernah memimpikan hal yang sama,” katanya lirih.

“Pulanglah, Antarina. Sama seperti manusia lemah lainnya, Ibu tidak pernah mempersiapkan diri untuk mati. Jenguklah Ibu di pusaranya, maafkan dia.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s