Hai

26270-heart-love-cutting-breaking-heartbreak.1200w.tn

(Crosswalk.com)

Hai. Tadi malam sebelum beranjak ke peraduan, aku memikirkan kamu. Di dalam benakku, terbayang kamu duduk di kursi busa ruang keluarga. Aku berada tepat di sisimu. Hari itu hujan. Di hadapan kita, berdiri meja kayu, tempat kamu meletakkan dua cangkir berisi teh panas manis milikmu, dan teh panas tanpa gula milikku. Aku dan kamu menyesap teh sambil membicarakan hari tua kita.

Sejak benih anak pertama kita muncul di rahimmu, kamu selalu bercita-cita ingin pensiun di usia empat puluh lima. Kamu berencana akan tinggal di tanah kelahiranmu, Yogyakarta. Kamu menginginkan hidup tentram di sana sambil bercocok tanam dan beternak ayam.

“Benar, ya, nanti kita pensiun di kampung halamanku,” katamu dengan manja. “Kita akan menanam jagung, cabai, bawang merah, atau kakao setiap hari. Lalu kita merawatnya, menyiraminya, memberinya pupuk, sampai hari panen tiba.”

“Iya, sayang,” kataku sambil membelai rambut hitammu.

“Pokoknya aku mau kita menjalani hidup nyaman, sederhana, dan jauh dari macet. Aku penat dengan Jakarta,” katamu semringah.

“Iya.”

“Terus nanti kita makan siang di ladang. Pagi-pagi buta, aku akan memasak terlebih dulu untuk sarapan suamiku tersayang. Menunya sederhana saja, sayur bayam, tempe goreng, dan sambal. Lalu, kita bawa deh buat bekal di ladang. Begitu saja pasti sudah nikmat kalau kita makan di tengah ladang dengan udara segar, bebas dari polusi Jakarta. Benar, kan?”

“Iya, sayang,” kataku. Aku tidak pernah membantah keinginanmu. Aku selalu mengamini semua cita-cita itu. Sampai hari ini pun aku masih ingin mendengarnya. Berkata-kata lah setiap hari agar harapanmu menjadi kenyataan. Bercita-cita lah sepanjang waktu supaya luluh hati Tuhan.

Pikiranku terus berputar-putar tentang hari tua kita. Aku meletakkan bahagia di sana. Kita menjadi lebih sehat di penghujung hidup. Sesekali aku membantumu memasak di pagi buta. Memasak sayur dan lauk sederhana di atas tungku. Kita tertawa karena panci dan wajan menjadi begitu mudah gosong. Kita terbahak karena asap dari proses memasak itu begitu tebal. kita tertawa karena hal-hal sederhana.

Saat fajar menyapa dan bekal sudah siap, kita bergegas mengayuh sepeda masing-masing menuju ladang. Topi caping melekat di kepala kita. Dari topi itu, ada tali yang melintasi dagu supaya topi tidak terbang bila tertiup angin. Kita mengayuh sepeda dengan santai, melintasi jalan raya nan sepi, karena bus-bus antar kota belum begitu ramai. Di ujung sana, bukit-bukit berdiri gagah. Terasering-terasering yang disirami cahaya matahari dari timur memperindah pagi kita.

Tak hanya memikirkanmu, aku juga merindukanmu malam ini. Aku merindukan kamu yang senang menggodaku, membuka bajuku perlahan sambil meraba dadaku, saat kita baru saja hendak terlelap. Biasanya kalau kamu sudah iseng begitu, hilang sudah rasa kantukku. Maka, yang terjadi kemudian adalah aku mencium bibir tipismu dan melumatnya. Perlahan kubuka kancing baju tidurmu, lalu kuraba buah dadamu. Bibir kita masih terpaut. Dari dada, tanganku kemudian turun perlahan meraba perut, paha, dan bokongmu. Celana dalammu yang bagian depan sudah basah karena cairan pelumas yang keluar dari vaginamu.

Foreplay yang kuberi ternyata berhasil. Namun aku tidak ingin kesempatan indah ini berakhir dengan cepat. Aku masing ingin menyentuhmu, mengecup buah dadamu, dan bercinta denganmu, sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi, dan sekali lagi sampai jantung kita berdesir seperti terbawa ke luar angkasa.

Aku benar-benar merindukanmu. Aku merindukan pernikahan kita yang masih seumur jagung dulu. Waktu itu, kita masih sangat bergairah dan berani bermimpi. Kita begitu mesra. Berbanding terbalik dengan sekarang. Kini kamu terasa begitu jauh. Bila kutanya mengapa, kamu selalu menganggap bahwa semuanya baik-baik saja.

“Tidak ada yang salah dengan pernikahan kita. kamu saja yang terlalu sensitif, mungkin karena kamu sudah tua,” katamu suatu hari dulu. Kamu selalu melabeliku “tua” ketika kuajak bicara tentang pernikahan kita.

“Tapi kita sudah tidak pernah pergi bersama. Kita selalu pergi masing-masing, gereja masing-masing, jalan-jalan masing-masing, semua masing-masing,” ujarku.

“Aku sibuk, pekerjaanku banyak, belum lagi urusan organisasi yang sedang padat. Aku tidak bisa terus-menerus berada di sampingmu.”

“Aku tidak pernah minta terus-menerus, aku hanya ingin sekali saja kita pergi sama-sama.”

“Tidak bisa.”

Waktu itu, aku terkejut mendengar ucapanmu.

“Mengapa tidak bisa?” tanyaku.

“Sakitmu itu…” jawabnya pelan. “Sakitmu itu mengekangku.”

“Ternyata karena itu,” kataku pelan.

“Iya. Sebetulnya aku sudah lama menahan ini, tapi sekarang aku tidak tahan lagi.”

“Pantas saja kamu selalu menghindar.”

“Memang apa lagi yang bisa diharapkan dari seorang laki-laki yang sakit gula?”

Dugaanku benar. “Kalau begitu, kita cerai saja,” kataku.

“Gereja kita mana bisa cerai.”

“Lalu kamu mau apa?”

“Aku ingin bebas, jangan bergantung kepadaku lagi.”

Untuk permintaanmu yang itu, aku juga mengamininya. Aku membebaskanmu, tetapi orang-orang tidak. Kini begitu banyak orang berbicara tentang kamu. Bahkan, saat aku tengah memikirkanmu malam ini, masih saja ada orang yang mencari tahu keberadaanmu.

Mereka bertanya, apakah benar kamu sudah pensiun dan pindah ke Yogyakarta? Mengapa kamu pergi sendiri, sedang aku masih bekerja di Jakarta? Mengapa kita menjalani hidup masing-masing? Dan, pertanyaan yang paling ekstrem, mengapa di Facebook-mu, selalu ada satu pria yang menemani aktivitasmu? Kau pergi ke gereja, dia ada. Kau pelayanan di rumah sakit, dia ada. Kau menghadiri seminar, dia ada. Bahkan, kau pergi ke Bali, dia ada. Sama seperti mereka, aku pun bertanya-bertanya, siapa dia?

Sejak hari itu, sejak kamu meminta kebebasan, malam-malamku selalu dipenuhi dengan bayang-bayang tentangmu. Setiap malam, aku memikirkanmu, berharap kamu pulang setelah kebebasanmu sudah di tangan. Namun, kamu tak kunjung bersuara. Sampai pagi menjelang, aku tersadar bahwa kamu tak ada di sisiku, sayang.

– Untuk sebuah kenyataan tak ideal yang muncul di depan mata, yang sangat ingin aku caci.

Advertisements

2 thoughts on “Hai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s