Bagaimana Rasanya Punya Anak?

Processed with VSCO with c1 preset

Sampai hari ini — setidaknya sampai tulisan ini dibuat — saya masih menerima pertanyaan itu dari beberapa teman. Jawaban saya kerap berubah-ubah. Kadang, saya menjawab senang. Namun pada kesempatan lain, saya spontan menjawab lelah.

Setelah saya pikir-pikir, kedua jawaban tersebut ada benarnya. Punya anak memang membuat hati senang. Namun membesarkannya sebaik yang saya dan Abang mau, butuh kerja keras yang tentu melelahkan. Kerja keras tersebut bermula dari masa hamil, kemudian melahirkan.

Masih segar di benak saya ingatan tentang bagaimana saya bersusah-payah menjalani hari keempat setelah melahirkan. Waktu itu adalah Senin, semua orang rumah sudah harus kembali bekerja, sehingga saya terpaksa sendirian di rumah dan mulai menjalankan peran sebagai ibu.

Menjalankan peran tersebut dengan kondisi tubuh yang belum benar-benar pulih usai operasi caesar sangat sulit. Terlebih, luka bekas operasi masih memberikan sensasi nyeri yang hebat di bagian perut bawah. Jadi untuk bangun dari tempat tidur, duduk, berdiri, berjalan, menyusui, dan memerah ASI, semua itu saya lakukan dengan sangat pelan, sambil menahan rasa sakit.

Beberapa hari kemudian, saya juga sempat mencoba mencuci pakaian Sheryl yang sudah menumpuk. Awalnya, saya sanggup, tetapi ketika sudah terlalu lama berdiri, kepala saya pening dan keringat menetes. Akhirnya, saya duduk sepanjang menyuci dan menjemur baju.

Waktu itu, saya pernah bilang kepada ibu untuk segera mempekerjakan seorang asisten rumah tangga. Namun ibu menjawab bahwa saya terlalu manja. Untuk apa ada asisten rumah tangga, toh saya kan masih cuti sampai tiga bulan. Begitulah kira-kira pemikiran ibu. Akhirnya, saya minta ditemani bulik (Bahasa Jawa dari kata “tante”) yang tinggal di dekat rumah.

Kehadiran bulik memang sangat membantu. Namun hal itu tetap tidak dapat menjauhkan saya dari satu masalah lain: Baby Blues Syndrome, yang datang dan pergi berulang kali sepanjang dua minggu pertama setelah melahirkan. Saya bisa tiba-tiba menangis saat menyusui, mandi, atau ketika hendak tidur, karena merasa belum siap atau tidak mampu menjadi seorang ibu.

Ditambah dengan jam tidur Sheryl belum teratur di bulan pertama setelah melahirkan. Jadi, saya terpaksa bangun tengah malam atau dini hari untuk menyusui Sheryl. Lagi-lagi, saya melakukan ini dengan kondisi tubuh yang belum sehat.

Kalau ingin dijabarkan satu per satu, rasanya masih banyak hal-hal melelahkan lainnya pasca-melahirkan yang terkadang menguras air mata dan amarah. Namun di balik semua rasa lelah itu, saya menemukan kebahagiaan yang jumlahlah dua kali lipat dari rasa lelah.

Saya bahagia karena saya dan Abang telah dimampukan dan dikuatkan melewati fase tersebut, sehingga tidak terasa Sheryl sudah berusia satu tahun.

Saya juga bahagia karena Sheryl yang awalnya adalah seorang bayi mungil yang saya tidak kenal, kini telah tumbuh menjadi seorang anak yang…

selalu teriak dan tunjuk tangan ke atas saat melihat cicak, selalu duduk dan tepuk tangan saat bangun tidur, selalu mencium dengan giginya saat saya minta dia mencium pipi saya, selalu bilang nyem nyem nyem saat minta minum, selalu meluncur saat merangkak, selalu joget saat mendengar lagu, selalu tersenyum saat main ci luk ba pakai selimut, selalu nangis kencang setiap tangannya kejepit atau kepalanya terantuk sedikit saja, dan masih banyak lagi polahnya yang menggemaskan sekaligus menyebalkan.

Saya sadar, kehadiran dia, yang sempat membuat saya lelah jiwa raga, ternyata telah memberikan kesempatan kepada saya untuk merasakan jatuh cinta lagi.

Kini, saya sangat bersyukur karena bisa mendampingi Sheryl meniup lilin ulang tahunnya yang pertama. Rasa lelah yang kemarin biarlah menjadi pelajaran yang membuat saya dan keluarga lebih tabah menghadapi kelelahan lain di kemudian hari. Dan, kalau ada orang lain yang bertanya lagi, bagaimana rasanya punya anak, jawaban saya mungkin akan masih sama. Senang dan lelah tetap satu paket.

631201719155
Selamat ulang tahun, Sheryl.
Advertisements

Chester Bennington dan Kita yang Sempat Ingin Bunuh Diri

675091390
istockphoto.com

Saya bukan penggemar Linkin Park, bukan pula pengagum Chester Bennington. Saya justru adalah orang yang sebal dengan lagu mereka karena gaduh. Namun setelah kabar Chester meninggal lantaran bunuh diri mulai ramai, saya baru mendengarkan Numb dan Heavy secara saksama.

Di dalam lagu itu, ternyata, saya menemukan diri saya sendiri yang pernah kelam.

Continue reading “Chester Bennington dan Kita yang Sempat Ingin Bunuh Diri”

Liburan Dua Hari Satu Malam di R Hotel Rancamaya Bogor

IMG-20170528-WA0034_1
Foto ini diambil oleh Abang pukul enam pagi. Matahari masih ngumpet di balik gunung.

Saya sudah lama merindukan liburan bersama Abang dan Sheryl. Rencana liburan ke tempat yang dekat seperti Bandung atau Puncak sempat terpikir, tetapi batal karena saya belum berani melakukannya. Saya khawatir lalu lintas di hari libur atau akhir pekan akan sangat macet, sehingga membuat Sheryl tak nyaman selama perjalanan. Continue reading “Liburan Dua Hari Satu Malam di R Hotel Rancamaya Bogor”

Kita adalah Orang Dewasa yang Terjebak di Labirin “Cyberbullying”

6132017184235
Foto: Birgitta Ajeng

Sebagai orang dewasa, kita kerap merasa prihatin akan fenomena bullying di kalangan anak-anak. Namun sayang, perasaan prihatin tersebut hanyalah perasaan di awang-awang, yang tidak diejawantahkan ke dalam perilaku.

Continue reading “Kita adalah Orang Dewasa yang Terjebak di Labirin “Cyberbullying””