Kita adalah Orang Dewasa yang Terjebak di Labirin “Cyberbullying”

6132017184235

Foto: Birgitta Ajeng

Sebagai orang dewasa, kita kerap merasa prihatin akan fenomena bullying di kalangan anak-anak. Namun sayang, perasaan prihatin tersebut hanyalah perasaan di awang-awang, yang tidak diejawantahkan ke dalam perilaku.

Maria Konnikova, kontributor untuk tulisan psikologi dan sains di Newyorker.com, kurang lebih juga menyatakan hal yang sama di dalam tulisannya berjudul How the Internet Has Changed Bullying. Maria menulis bahwa banyak orang dewasa, yang merupakan pelaku bullying di media sosial, bersembunyi di balik gagasan bahwa bullying hanya terjadi di kalangan anak-anak.

Orang-orang dewasa menganggap diri mereka sebagai orang yang lebih tahu. Di internet, pelaku intimidasi jarang melihat dampak dari kata-kata dan tindakan mereka.

Jadi benar dugaan saya, fenomena bullying tak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga merambah ke dunia orang dewasa via media sosial. Kata-kata negatif dan sarkasme mengalir melalui kolom komentar akun pribadi seseorang, kemudian masuk ke dalam ruang pribadi masing-masing. Fenomena ini disebut cyberbullying.

Meski tidak bertatapan muka secara langsung, kalimat-kalimat pedas di kolom komentar tetap saja melukai perasaan pemilik akun yang di-bully. Alhasil, banyak orang akhirnya menyerah pada media sosial. Siapa saja mereka?

Beberapa korban cyberbullying

Beberapa contoh datang dari kalangan artis. Justin Bieber adalah salah satunya. Mantan kekasih Selena Gomez itu memutuskan menonaktifkan akun Instagram pada Agustus 2016. Justin melakukan hal tersebut setelah penggemarnya melakukan bullying lantaran hubungan dia dengan kekasih barunya, Sofia Richie.

Demi Lovato, penyanyi asal Amerika Serikat, juga sempat keluar dari jagat Twitter. Pada Juni 2016, dia keluar tanpa mengungkapkan alasan yang jelas. Namun bila melihat kata-katanya di Twitter, Demi tampaknya jengah karena opini-opininya sering direspons negatif oleh pengikutnya.

Hanya saja, Demi tidak pergi untuk selamanya. Tak sampai sehari, Demi sudah kembali hadir di Twitter. Dia sempat menjelaskan bahwa dia terlalu mencintai para penggemarnya, dan tidak seharusnya terpengaruh para haters.

Artis dari dalam negeri juga ada yang sudah “kalah bertarung” di ranah dunia maya. Satu di antaranya yaitu Aura Kasih. Bedanya, dia hanya menutup kolom komentar di Instagram, bukan menutup akunnya. Jadi, para follower hanya bisa melihat foto-foto di Instagram Aura Kasih.

Meski bukan artis, saya sendiri sebenarnya pernah di-bully di Instagram. Kronologinya begini: waktu itu, saya mengunggah foto anak saya sedang tengkurap di Instagram. Foto tersebut merupakan foto zoom wajah anak saya, sehingga setiap sudut wajahnya terlihat sangat jelas. Tak lama, ada seorang teman saya berkomentar “pesek”, tanpa emotikon apapun.

Saya sebenarnya adalah tipe orang yang tidak ambil pusing akan komentar negatif dari orang lain, karena saya memang tidak menginginkan adanya perselisihan. Namun, karena orang tersebut sering berkata negatif, saya akhirnya menyerah. Saya menyerah bukan dengan menghapus foto atau akun Instagram, melainkan dengan memutus hubungan dengan seluruh akun sosial media milik dia.

Ada satu kata untuk mencegahnya

Baru-baru ini, data internasional menunjukkan bahwa angka kejadian bullying memang telah menurun sebanyak sepuluh persen di seluruh dunia. Namun bagi korban bullying di media sosial, menemukan jalan keluar dari situ menjadi semakin sulit.

Maksudnya begini, jika seseorang dilecehkan di halaman Facebook-nya, semua orang di situ akan tahu tentang hal itu. Bila cercaan semakin membanjiri kolom komentar, si korban tidak bisa mengadu kepada ibu guru. Wajar bila beberapa artis di atas memilih untuk menonaktifkan akun sosial media mereka.

Namun bisakah fenomena ini dicegah? Rasanya sulit. Catherine Bradshaw, seorang psikolog di University of Virginia, memang telah menemukan pendekatan yang paling efektif untuk mencegah bullying pada anak-anak.

Pendekatan tersebut berlapis-lapis dan mencakup pedoman pelatihan, pedoman perilaku, dan sistem untuk pengumpulan data terperinci. Intinya, pada anak-anak, pencegahan bullying mungkin dapat dilakukan dengan menanamkan kesadaran diri tentang intimidasi melalui intervensi dari seluruh lini sekolah.

Sayangnya, kata Maria, hal tersebut sulit terjadi pada orang dewasa. Mengapa? Ya karena itu tadi, orang dewasa menganggap dirinya yang paling tahu segala hal. Lagipula, internet telah membuat bullying sulit diidentifikasi. Konsekuensi dari perilaku negatif tersebut juga sering tidak terlihat di dunia maya. Alhasil, kita jadi terlena karena kita tidak tahu bahwa perbuatan itu salah.

Untuk mencegah bullying di kalangan orang dewasa, Maria menyarankan satu cara sederhana: introspeksi.

 

Advertisements

One thought on “Kita adalah Orang Dewasa yang Terjebak di Labirin “Cyberbullying”

  1. Rahmad Mhirza says:

    Memang satire, tapi cyber bully kadang menghibur orang lain. Meski begitu, gk semua yg merasa di bully, gk bersalah.
    Ada juga yg memang kelewatan, contoh : YouTube-ClickBaiter,
    Klw di bully karena jelek saya bisa maklumi juga, saya di katain aja cuma diam.
    Bully tdk selalu bully, cuma label yg salah, kenapa tdk kita panggil “kritik?”
    Kebanyakan users di Indonesia juga sdh kelewatan:
    Selfie bareng hewan langka/mati
    Menghina kebijakan pemerintah
    Unggahan foto tak senonoh, yg parahnya pelaku masih di bawah umur.
    I don’t represent any internet ped’s. I just sick of playing around web and found such stupid things.
    Ada tuh youtuber yg di lagunya menyatakan dia siap di hina, di kritik dikit malah lapor polisi atas nama “Cyber Bully”.
    Kalau tdk siap di-bully users harusnya ngerti dulu apa yg di post di media social dilihat banyak orang, ada yg suka, ada yg tidak.
    Bullying punya alasa bahkan sebelum terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s