Chester Bennington dan Kita yang Sempat Ingin Bunuh Diri

675091390

istockphoto.com

Saya bukan penggemar Linkin Park, bukan pula pengagum Chester Bennington. Saya justru adalah orang yang sebal dengan lagu mereka karena gaduh. Namun setelah kabar Chester meninggal lantaran bunuh diri mulai ramai, saya baru mendengarkan Numb dan Heavy secara saksama.

Di dalam lagu itu, ternyata, saya menemukan diri saya sendiri yang pernah kelam.

Ya. Sama seperti kalian dan Chester, saya pernah berada di titik terendah di dalam hidup. Sebuah pengalaman perjodohan dengan seorang pria, membuat saya gila. Hidup sudah modern waktu itu, tetapi saya seperti bernapas di zaman Siti Nurbaya.

Hati saya merasa sesak karena orangtua saya memaksa saya berpacaran dengan pria itu, supaya kelak bisa menikah dengan dia setelah lulus kuliah. Saya yang masih menyelesaikan skripsi saat itu, jelas menolak permintaan tersebut mentah-mentah.

Saya masih muda. Saya masih ingin bekerja. Namun ibu bilang bahwa tidak apa-apa pacaran dulu, toh pekerjaan laki-laki itu juga sangat bagus, pegawai negeri, masa depan saya kelak terjamin bila hidup bersama dia. Bapak juga bilang bahwa saya adalah perempuan, dan perempuan itu dipilih.

Saya merasa sangat geram dan sedih saat mendengar wejangan orangtua saya. Mereka tampak tidak peduli dengan anak perempuannya yang ingin belajar mandiri. Mereka hanya memikirkan masa depan yang entah baik untuk siapa (?)

Dan ketika mereka memohon lagi kepada saya untuk pacaran dan kelak menikah dengan pria itu, Saya tentu lagi-lagi menolak permintaan mereka. Ketika saya menolak dengan geram, mereka malah menangis dan mencap saya sebagai anak durhaka.

Anak durhaka. Ya. Kata-kata itu membekas di benak saya dan benar-benar membuat saya jatuh ke titik terendah di dalam hidup. Saya tersungkur. Di satu sisi, saya merasa gagal menjadi seorang anak. Saya merasa tertekan dengan label tersebut. Di sisi lain, saya juga merasa memiliki beban hidup yang sangat berat sebagai remaja.

Persis seperti lirik di dalam lagu HeavyI’m holding on, why is everything so heavy, holding on, so much more than I can carry.

Saudara dan teman-teman saya terasa begitu jauh waktu itu. Jadi, saya sempat berpikir ingin bunuh diri untuk melarikan diri dari masalah. Melalui media sosial dan kepada beberapa teman, saya bertanya, apakah bunuh diri itu dosa?

Saya sempat membenturkan kepala beberapa kali ke dinding dan mengambil gunting hitam besar sambil membayangkan menghunuskannya ke nadi. Namun, ternyata saya takut melakukannya. Saya enggan hidup, tetapi saya ternyata lebih takut mati. Akhirnya, saya mengurungkan niat untuk bunuh diri.

Tidak mudah sebenarnya menceritakan pengalaman ini dan tentang keinginan saya untuk mengakhiri hidup. Namun saya yakin bahwa saya tidak sendiri. Faktanya, setiap tahun, puluhan ribu orang Amerika meninggal karena bunuh diri. Jadi, tidak sedikit orang seperti saya dan Chester Bennington, yang sempat terpuruk dan dekat dengan bunuh diri.

Pikiran tentang bunuh diri mungkin tidak normal atau lebay bagi kebanyakan orang. Namun mengutip kata-kata Paulo Coelho di dalam buku Veronika Memutuskan Mati, “Di dunia ini, di mana setiap orang berjuang mati-matian untuk hidup, bagaimana mungkin orang bisa menghakimi orang lain yang memutuskan mati? Tidak seorang pun bisa menghakimi. Setiap orang mengetahui batas ketabahannya, atau mengetahui hidupnya bermakna atau tidak.

Jadi, tiada kata lain selain, selamat jalan Chester Bennington. Terima kasih untuk lagu-lagu yang sudah kamu buat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s