Teman Perempuan Hebat

Saya punya banyak teman perempuan, tetapi hanya satu yang istimewa. Saat bertemu dengan dia, saya tidak menemukan kalimat cibiran di tengah obrolan kami. Tidak ada pula gosip perihal teman ini, teman itu, artis ini, atau artis itu. Fokus perhatian dia hanya tertuju kepada saya, apa saja yang harus saya lakukan supaya dapat menjadi istri sekaligus ibu yang tetap berkarya.

Pertemuan kami waktu itu bermula dari saya yang sedang merasa tidak berguna karena telah lama tidak menulis — gara-gara keseringan mengedit tulisan di kantor. Perasaan tersebut mendorong saya untuk bertanya sesuatu kepada dia pagi hari via Messenger Facebook.

Lice, lo masih berlangganan Spirit Woman (renungan harian untuk pembaca Kristen)? Kalau iya, gue mau minta tolong kirimin foto tulisan di Spirit Woman. Gue pingin kirim tulisan ke sana, tapi pingin tahu dulu gaya penulisan mereka seperti apa.

Dia baru menjawab sore hari.

Gue kasih aja nih renungannya, mau? Gue emang ngasih ke orang-orang, kok, Jeng, biar lo bisa baca juga. Yang Agustus nih kalau mau ambil ya.

Saya langsung menjawab.

Difotoin aja nggak apa-apa, Lice. Tapi nanti aja kalau lo udah ada waktu luang. Makasih ya, Lice. Maaf ya ngerepotin.

Hahahaha.. nggak ngerepotin, Jeng. Seneng gue denger lo mau nulis buat renungan harian lagi,” tulisnya.

Eh tapi komentar lo gitu sih. Gue jadi kesindir nih karena udah lama nggak nulis renungan.

Hahahaha. Kan lo nulis buat sekuler, Jeng. Nulis buat renungan kan harus panggilan, kalau nggak mah nggak bisa,” kata dia.

Akhirnya, beberapa hari setelah percakapan virtual itu, kami bertatap muka sepulang kerja, di sebuah pusat jajanan, di Depok. Pembukaan percakapan kami berbeda dengan dulu, tidak ada basa-basi tentang pacar. Dia malah mencecar saya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pekerjaan. Saya juga cerita tentang perasaan tidak berguna saya tadi.

Setelah cukup banyak cerita, dia akhirnya menyarankan saya untuk menulis kembali dan mencari passive income.

“Kita nggak tahu ya apa yang akan terjadi di depan. Jadi, mulai sekarang lo nulis dan cari passive income untuk mendukung keuangan keluarga lo. Kalau lo memang mau jadi penulis, lo harus punya portofolio. Pertama-tama, lo harus mulai nulis untuk Spirit Woman, lalu nulis blog tapi jangan terlalu serius dan bukan puisi atau cerpen. Gue saranin lo nulis tentang family. Terus, lo harus nerbitin buku.”

Target yang dia berikan cukup banyak. Di mata dia seakan tidak ada tembok besar – yang selama ini tampak di mata saya – yang menjadi penghalang antara perempuan, menikah, dan mengejar karier atau cita-cita.

Dan entah mengapa, setelah pertemuan itu, satu atau dua proyek menulis kecil-kecilan datang kepada saya. Mungkin semesta memang sedang bekerja sama untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya (?)

Melalui tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada dia, seorang teman perempuan hebat, yaitu Alicia Van Akker. Setelah berjumpa dengan dia, hidup saya kembali optimis dan penuh target, hehehe.

Processed with VSCO with m5 preset

Nah, ini foto orangnya. Dia juga kasih tahu gue metode menabung dia yaitu setiap ada uang kertas recehan yang masih mulus, dia langsung tabung.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s