“Reputation” adalah Cara Taylor Swift Melawan Perisak

10142017173937

Foto: dok. Birgitta Ajeng

Seorang psikolog pernah berkata tentang perisakan (bullying) kepada teman saya di media sosial. Dia bilang, perisak harus mendapatkan teriakan balik dengan tujuan bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk mendidik perisak. Dan menurut saya, Reputation, album baru Taylor Swift, sejalan dengan ucapan psikolog itu.

Benar. Kita tentu masih ingat peristiwa menyedihkan yang menimpa Taylor di panggung MTV Video Music Awards (VMA) 2009. Waktu itu, lagu You Belong With Me meraih penghargaan untuk kategori Best Female Video. Saat Taylor Swift tengah berpidato atas kemenangannya, Kanye tiba-tiba naik ke atas panggung, lalu mengambil mikrofon dari Taylor.

Seperti ditulis Rolling Stone, Kanye berkata, “Yo Taylor, I’m really happy for you, I’ll let you finish, but Beyoncé has one of the best videos of all time. One of the best videos of all time!

Argh. Menurut saya, itu adalah perisakan yang paling parah. Sebab, Kanye tidak hanya merisak Taylor di depan umum, tetapi juga di hadapan seluruh dunia. Perisakan tersebut tentu sangat menyakiti hati  perempuan Sagitarius yang punya kemampuan membuat lagu dan lirik emosional itu.

Jadi, wajar bila Taylor masih mengingat masa-masa itu dan mengungkitnya di Reputation. Tidak hanya sekadar mengenang, tetapi Taylor juga mencoba bangkit dan melawan para perisak.

Dengar saja Look What You Made Me Do. Lirik lagu tersebut menggambarkan rasa tidak suka Taylor terhadap Kanye. Taylor juga berusaha melawan dengan kata-kata, “But I got smarter, I got harder in the nick of time.

Bahkan, Taylor juga berkali-kali mengatakan dengan suara lantang—bahkan berteriak di akhir—bahwa, “I don’t trust nobody and nobody trusts me. I’ll be the actress starring in your bad dreams.

Selain itu, dengar pula This Is Why We Can’t Have Nice Things. Lagu tersebut menggambarkan hubungan pertemanan Taylor dengan Kanye yang tidak pernah baik, karena Kanye kerap memutarbalikkan fakta atau membicarakan hal buruk tentang Taylor. Saya mencoba menarik kesimpulan ini dari lirik, “This is why we can’t have nice things, honey. Did you think I wouldn’t hear all the things you said about me?

Bila ada kritik bahwa Taylor dalam Reputation tidak bisa move on dari masa lalu yang kelam, saya ingin bilang bahwa kritik itu kurang tepat. Taylor justru perlu melawan para perisak dan dia sudah sampai pada tahap itu. Dia sudah meneriakkan kembali apa yang pernah diteriakkan para perisak. Dengan cepat, dia berhasil mendewasakan diri dalam menghadapi perisakan.

Lagu-lagu tentang cinta di dalam Reputation juga merupakan bentuk perlawanan terhadap gosip yang melabeli playgirl pada Taylor. Meski ada sedikit lagu yang masih berbau si mantan (mungkin karena masih membekas di hati, eh!), tetapi dia mulai merepresentasikan diri sebagai perempuan yang setia pada satu pasangan lewat lagu …Ready For It?So It Goes…, dan Gorgeus.

Akhir kata, saya ingin memberikan tepuk tangan untuk Taylor. Sebab, dia berhasil melawan para perisak dengan cara elegan, yaitu melalui karya. Dia tidak menyerang balik dengan menginterupsi pidato seseorang di mata dunia.

Saya juga ingin memberikan selamat kepada Taylor Swift, karena telah konsisten berkarya di dalam kondisi apapun, entah saat patah hati, atau ketika kasmaran. Bahkan, dia telah berani tampil beda lewat Reputation. Sementara Adele masih kesulitan dalam membuat lagu baru, karena merasa hidupnya sudah bahagia.

Advertisements

2 thoughts on ““Reputation” adalah Cara Taylor Swift Melawan Perisak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s