Puas Potong Rambut di Dido Salon Dekat Kemang

Processed with VSCO with c1 preset

Rambut baru untuk menyongsong tahun baru. Hasil karya Mas Joko di Dido Salon.

Ribet. Ya. Saya memang pribadi yang ribet, apalagi kalau sudah urusan potong rambut. Saya sadar bahwa saya punya bentuk wajah yang… sebut saja unik. Jadi, saya merasa membutuhkan kapster bertangan dingin, supaya wajah tampak agak tirus dengan potongan rambut baru.

Tapi sudah tahu banyak mau–kepingin punya rambut pendek kayak model-model di Vouge (mimpi!), saya masih saja datang ke salon di dekat rumah. Saya seperti sengaja jatuh di lubang yang sama. Pertimbangan saya sebenarnya agar bisa pulang sebelum anak tidur, dan mursidah alias murah. Tarif potong rambut yang sudah termasuk cuci rambut, yaitu Rp 35 ribu.

Sesungguhnya saya tidak melulu jatuh dan malah sempat selamat, sebab saaya beberapa kali cocok potong rambut di sana. Namun, sial, kali ini tidak. Bukan karena saya minta potong menjadi bentuk yang rumit, melainkan lantaran kapster menantang saya mengganti model potongan rambut.

“Gimana kalau panjang sebelah, Jeng? Biar keliatan beda,” kata kapster laki-laki yang sudah mengenal saya.

“Iya, boleh. Saya juga sedang bosan, mau ubah model rambut,” jawab saya dengan mantap.

Akan tetapi, tantangan tersebut berakhir pada penyesalan. Saya tidak suka dengan hasilnya, karena ada beberapa helai rambut panjang yang lari ke bagian rambut pendek. Setiap habis sisiran, hasilnya selalu begitu. Sangat tidak rapi.

Selang dua minggu, saya nekat datang ke Dido Salon. Ini adalah kali kedua saya potong rambut di sana. Lokasinya di Jalan Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Jadi cukup dekat dari kantor saya. Kalau dari arah Kemang, Dido Salon terletak di sisi kanan jalan.

Saat pertama kali datang ke sana, saya beruntung karena ada Om Dido. Dia adalah hairstylist yang paling banyak dicari orang, bahkan kalangan artis (ini hasil kepo akun instagram @didosalon). Namun sayang, saya tidak dapat bertemu Om Dido saat datang untuk kali kedua pada Senin (18/12/2017).

“Kalau Sabtu dan Senin, Om Dido ada di Bintaro,” kata seorang perempuan kepada saya. Dia adalah orang yang bertugas sebagai kasir sekaligus yang mencuci rambut pelanggan Dido Salon.

“Ya sudah, saya potong dengan yang lain saja,” ucap saya agak kecewa. Tapi karena sudah telanjur meluangkan waktu, saya lanjutkan saja.

“Dengan Mas Joko, ya,” katanya.

Saya setuju dengan tawaran dia sambil berpikir bahwa pantas saja Dido Salon sepi pengunjung sore itu. Saya adalah satu-satunya pelanggan di salon yang tutup pada pukul delapan malam itu.

Sebelum rambut saya dipangkas, saya menjelaskan terlebih dahulu tentang insiden yang menimpa saya. Setelah diskusi, saya menangkap bahwa Mas Joko mengerti keinginan saya.

Benar saja. Hasil potong rambut di Dido Salon benar-benar natural. Kalau dilihat dari sisi kiri sampai kanan, tidak ada hasil potongan yang tampak kaku atau patah di tengah. Tidak masalah rambut saya menjadi semakin pendek, asal rapi (padahal keliatan makin tembam, tapi bodo ah!). Dan yang pasti, tidak ada beberapa helai rambut panjang yang melambai-lambai di antara rambut pendek, hahaha!

Karena itu, saya tidak berat hati mengeluarkan sekitar Rp 150 ribu—atau seingat saya lebih kalau potong dengan Om Dido—sesudahnya. Memang benar kata suami: ada harga, ada rupa.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s