“Cappuccino Grande” dan Bab yang Dihapus

Processed with VSCO with b5 preset

Aku salah memesan minuman malam itu. Kepada barista perempuan berkemeja hitam, aku meminta cappuccino panas ukuran grande. Aku sedang sangat lelah dan mengantuk lantaran pekerjaan yang menumpuk. Untuk bisa menjadi pendengar yang baik bagi kamu, laki-laki yang cerewet, aku merasa butuh kopi sebagai doping. Sedangkan kamu memesan cokelat panas dengan ukuran yang sama seperti cappuccino milikku.

Meski sudah memesan roti isi tuna untuk mencegah kembung dan menetralkan efek kopi, aku tetap terjaga hingga dini hari dan memikirkan kamu di sini. Jujur saja, melupakan pertemuan kita tadi malam menjadi hal yang paling sukar. Bagaimana tidak? Setelah lima tahun jembatan komunikasi kita hancur dan aku susah payah menghapus bab tentang kita, kamu hadir dengan segala hal yang belum pernah terungkapkan, malam itu.

“Kita mau ngobrol di mana?” kamu bertanya kepadaku sambil mengemudikan Honda HRV hitam.

Sophie Authentique masih ada?” kamu bertanya lagi sebelum aku sempat menjawab pertanyaanmu sebelumnya.

“Masih, tapi mahal.  Kita pergi ke tempat yang biasa-biasa saja,” jawabku.

“Iya, yang biasa apa? Warkop dekat masjid?”

Aku tertawa.

“Kita minum kopi saja di Seriously, kafe dekat sini,” kataku.

“Seru ya, kamu masih humble.”

Setelah tiba dan memegang pesanan masing-masing, kita menaiki tangga menuju lantai dua. Kita memilih duduk di sofa abu-abu di sudut ruangan. Meski ramai, suhu ruangan terasa sangat dingin. Mungkin karena sore sebelum malam itu mendung. Jadi, aku langsung duduk dan segera menyesap kopi untuk menghangatkan tubuh. Sementara kamu mengambil cukup banyak tisu di meja dekat tangga terlebih dahulu.

“Banyak banget,” aku berkata untuk memecah keheningan di antara kita seraya melirik genggaman tanganmu yang penuh tisu.

“Iya, sudah kebiasaan,” ucapmu sembari duduk di hadapanku. Di tengah kita ada meja kayu berbentuk bundar.

Aku mengangguk.

“Sekarang saya pakai kacamata, Gendis. Ini punya opa, coba lihat deh,” katamu sambil menyodorkan kacamata cokelat itu.

“Sejak kapan mata kamu minus, Pras?” kataku sambil memegang kacamata itu.

“Coba lihat dulu. Bagus, kan?”

“Keren. Lebih kelihatan seperti kacamata gaya, bukan minus,” jawabku sambil mengembalikannya kepadamu.

“Ini kacamata minus. Tapi saya copot aja, karena kamu lebih terbiasa melihat saya seperti ini.”

“Terserah.”

Kemudian, kamu melipat gagang kacamata itu  dan meletakkannya di atas tumpukan tisu yang tidak terlalu tinggi.

“Oke, sekarang, kamu bisa tanya apa aja ke saya.”

“Akhirnya, kita ngobrol lagi,” ucapku singkat.

Kamu pun tertawa, seperti habis mendengar sebuah sindiran.

“Iya. Saya sadar bahwa manusia diberi jeda untuk menjadi dewasa.”

“Iya,” aku menjawab tanpa basa-basi dengan tatapan tetap tertuju kepadamu.

“Ngomong-ngomong, tatapan mata kamu tidak berubah. Masih sama seperti dulu.”

Aku tidak memberi tanggapan atas kalimat itu.

“Gendis, kamu masih ingat Ibu di Bogor?”

“Masih.”

“Satu jam yang lalu, beliau telepon dan menanyakan kabar kamu. Dia mau tau, apakah kamu sudah jadi penulis? Kalau kamu mau jawab, saya telepon Ibu nanti malam.”

“Mohon doanya, Bu. Saya sedang proses nulis buku.”

“Saya sampaikan nanti, ya. Saya juga tidak tahu, kelihatannya beliau terkesan sama kamu waktu itu. Padahal, kalian cuma sempat ngobrol sebentar. Kamu lembut, santun, dan ramah, mungkin juga karena sama-sama Jawa,” katamu.

Aku tersenyum, kemudian menyesap kopi.

“Saya juga masih sayang kamu, Gendis.”

Kali pertama, kalimat itu keluar dari bibirmu. Aku membisu sambil berusaha menebak arah pembicaraanmu selanjutnya.

“Waktu itu, saya meninggalkan kamu, karena emosi kamu benar-benar tidak stabil. Sekarang saya sadar bahwa meninggalkan kamu adalah sebuah kesalahan di dalam hidup saya.”

Aku terpaku. Aku tidak menyangka kamu akan membicarakan tentang perasaan pada pertemuan pertama kita, setelah menahun tidak berjumpa dan bersapa. Kamu mengungkapkan semua dengan lantang dan berani. Sementara aku masih menyimpan kelu. Aku masih meraba setiap kata yang telah dan akan keluar dari bibirmu. Aku khawatir segalanya lagi-lagi adalah sebuah kebohongan.

“Kalau boleh tahu, perasaan kamu ke saya seperti apa? Dari satu sampai sepuluh, atau mungkin sebelas, berapa nilai perasaan kamu untuk saya?”

Pertanyaan kamu sangat sulit. Aku langsung diserang bingung. Aku berusaha keras memilih dan merangkai kalimat dengan tepat.

“Saya tidak tahu perasaan saya seperti apa ke kamu dulu,” ujarku pelan, “setelah menjalin pertemanan yang cukup intens sama kamu, saya merasa takut. Saya takut diabaikan.”

“Maksudnya?”

“Awalnya, saya senang berteman dengan kamu. Selalu ikut kamu pergi, tahu tempat kamu dibesarkan, dan mengenal Ibu adalah pengalaman yang sangat berkesan. Namun setelah semua menjadi semakin intens, kamu seperti menjaga jarak. Ada satu titik ketika saya benar-benar sakit hati karena kamu. Waktu itu, kamu pernah menjadikan saya sebagai bahan taruhan. Ketika pergi bersama teman-teman yang lain, kamu lebih meminjamkan jaket kepada dia ketimbang saya. Kamu juga tidak menolong ketika saya jatuh. Hatimu terlalu keras. Saya takut, sampai-sampai saya pergi dan berusaha menghapus bab tentang kita.”

“Saya minta maaf. Saya yang dulu tidak pandai mengutarakan perasaan.”

It’s okay.

“Semoga setelah ini kita masih bisa ngobrol ya.”

“Iya.”

Setelah cukup berani bicara tentang hati, kamu mulai membahas perihal kesibukan dan hal menarik lainnya. Kamu tetap laki-laki yang ceria dan terbuka. Meski demikian, aku melihat ada beberapa perubahan pada diri kamu. Ya. Kamu tidak lagi bicara dengan menggebu-gebu disertai kening berkerut. Dan, satu transformasi cukup besar yang aku temukan yaitu kamu rendah hati. Kamu mau mengucapkan maaf. Aku senang dengan kamu yang sekarang. Aku senang bisa bercakap-cakap kembali dengan kamu. Semoga kamu selalu bahagia.

*bersambung*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s