Empat Jam Sebelum Hari Ulang Tahunmu

Untuk segala sesuatu yang sudah tamat, semestinya tidak ada kata ‘bersambung’. Kita pun seharusnya demikian. Untuk hubungan yang sudah selesai, semestinya tidak tidak ada lagi pertemuan. Namun mengapa kita lagi-lagi melanggar rumus itu dan meluangkan waktu bersama di Kopibar?

Rindu selalu mengalahkan kita. Meski demikian, hasrat untuk berbincang-bincang lebih besar daripada sebuah pelukan. Karena itu, 120 menit menjadi sangat kurang dan kamu minta pertambahan jam.

“Kamu memang belum bosan?” aku bertanya sambil memikirkan bahan obrolan berikutnya.

“Belum. Bahkan kalau bisa, saya ingin mengobrol dengan kamu sampai pagi sambil menunggu hari ulang tahun saya tiba, empat jam dari sekarang,” katamu dengan antusias sekali lalu melirik jam yang melingkari pergelangan tangan kirimu.

“Kamu ulang tahun besok?” aku bertanya seraya mengernyitkan dahi, karena masih merasa heran dengan ucapanmu.

Kamu mengangguk-anggukan kepala pelan sambil tersenyum.

“Serius?” aku memastikan lagi sembari berusaha keras mengingat tanggal ulang tahunmu.

Respons kamu masih sama.

“Oh, ya. Hari ini tanggal 5 Mei, ya?” ucapku.

“Iya. Saya juga baru ingat setelah menerim telepon barusan, kemudian saya melihat tanggal di iPhone. Sebenarnya, saya sudah ingat dari seminggu yang lalu. Saya sempat berpikir untuk tidak bikin party, karena sedang banyak pengeluaran. Tapi sesudah itu, saya lupa.”

Kini giliran aku yang tersenyum menanggapi ucapanmu.

“Semoga bertemu dengan kamu menjelang hari ulang tahun saya merupakan pertanda baik,” kamu berkata lagi.

“Amin,” ucapku dengan mantap.

“Semoga kita bisa bertemu lagi,” ujarmu.

“Tapi,” kataku dengan pelan. Lantas aku ingin mengutarakan sesuatu, namun tertahan karena terlalu sulit untuk mengungkapkannya. Sementara kamu masih diam untuk mendengarkan.

“Saya merasa bahwa di antara kita seperti ada sesuatu yang masih bertautan,” kalimat selanjutnya berhenti di kerongkongan. Aku tidak sanggup berkata-kata lagi sampai-sampai mataku basah. Aku hampir menangis.

“Bicara lagi, Alia. Nanti saya tanggapi.”

“Ya, itu. Saya masih selalu ingin tahu tentang kamu. Saya masih selalu memperhatikan kamu,” kataku lirih.

Kamu diam, tampak menyimak ucapanmu dengan saksama, kemudian berkata, “Bagi saya, kamu yang terbaik, Alia.”

“Bagi saya, kamu yang terburuk. Kamu yang paling banyak menanamkan luka, dan saya butuh waktu cukup lama untuk melupakan itu semua.”

“Oke,” ucapmu singkat.

“Tapi saya sudah memaafkan kamu.”

“Bagus.”

“Dan saya sadar bahwa kita memang tidak pernah bisa bersama, tapi kita punya satu misi. Kamu bertugas mengantarkan saya menjadi pribadi yang lebih baik lewat cara-cara kamu yang dulu, begitu pula tugas saya ke kamu tidak ada beda. Saya sudah banyak berubah sekarang. Saya tumbuh menjadi pribadi yang tabah, lebih percaya diri, dan hidup positif.”

“Saya juga berpikir demikian dan saya yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Saya lebih bisa mendengarkan dan mengucapkan maaf.”

“Iya. Saya pernah dengar satu maaf kamu waktu itu.”

Syahdan kita kehabisan kata. Kita membiarkan lagu yang keluar dari pengeras suara di setiap sudut langit-langit kedai kopi mengisi keheningan di antara kita. Kita mendengarkan lagu itu sambil bertatapan mata. Dalam. Aku melihat jauh ke dalam jiwamu. Di sana, aku ingin menitipkan cinta yang pernah atau mungkin masih ada, meski aku telah terluka karenanya.

Seketika, kamu pun bernyanyi mengikuti lagu di kedai kopi: Sembilu yang dulu biarlah berlalu.

Aku tersenyum sambil terus menatapmu. Dan sungguh, aku tahu bahwa semesta tengah berbicara kepadaku melalui lagu itu. Dia ingin aku meletakkan semua luka di sana, di masa lalu yang temaram. Dia ingin aku memaafkan semua salah di sana, di masa lalu yang kelam. Dengan demikian, aku bisa melangkah ke depan bersama bahagia. Aku juga akan selalu mendoakan kamu, agar senantiasa bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s