“CAPPUCCINO GRANDE” DAN BAB YANG DIHAPUS (TAMAT)

Tidak ada kopi untuk pertemuan kita hari ini. Hari kedua setelah perpisahan yang menahun. Aku cuma ingin mencecap sesuatu yang manis, karena tubuh sedang kepayahan. Akhirnya, pilihan kita jatuh pada sebuah kedai donat di Kemang.

Kamu memesan tiga donat dengan taburan kacang almon. Sementara aku meminta semangkuk yoghurt dengan isi yang sama seperti donat kamu. Kudapan ini sesungguhnya tidak begitu pas dengan hawa dingin di luar akibat mendung. Namun, kamu bilang bahwa kita tetap serasi sore ini.

“Sama-sama almon,” kata kamu sambil tersenyum.

Kita duduk berhadapan. Aku tidak memberikan komentar apa-apa. Hanya senyum tipis. Kemudian, seperti biasa, cerita mengalir deras dari bibirmu ke telingaku. Semua masih tentang remeh-temeh, masing seputar hal-hal kecil dari kehidupanmu.

Kamu bilang bahwa kamu habis memberikan materi untuk teman-teman organisasi di kampus. Lalu, mereka minta kamu merumuskan kembali entah apa itu, untuk keperluan organisasi yang sama. Dan, bla… bla… bla…

Sejujurnya, aku tidak benar-benar menyimak ucapanmu. Di dalam kepala, aku sibuk mempertanyakan siapa kamu. Mengapa dalam satu bulan, kamu bisa berada di beberapa negara, dan untuk urusan apa? Namun, aku tahu bahwa kamu tidak akan membeberkan semua dengan gamblang. Seperti kata ibu, kamu hanya mempersilakan orang lain duduk di teras. Kamu tidak mengizinkan mereka masuk ke dalam rumah jiwamu.

Jadi, aku diam saja dan masih mendengarkan. Sampai suatu titik, kamu lanjut bertanya, “Boleh saya pinjam lap kacamata?”

“Boleh, tunggu sebentar,” jawabku.

Aku segera membuka tas, lalu merogohnya. Aku mengeluarkan lap itu dari kotak kacamata hitam. Kemudian, aku menyerahkan lap itu menggunakan tangan kanan, dan kamu menyambutnya dengan tangan yang sama.

“Kacamata kamu yang sekarang beda dengan yang dulu. Saya masih ingat, kacamata kamu yang dulu warna ungu. Norak. Sekarang jauh lebih keren.”

Aku terbahak.

“Kapan kamu akan putus dengan pacar kamu?”

Pertanyaan yang keluar dari mulutmu membungkam tawaku.

“Itu tidak mungkin,” jawabku agak lama.

“Kenapa?”

“Kami akan menikah.”

“Padahal, saya menginginkan kamu,” katamu sambil mengembangkan senyum.

Aku ikut tersenyum, kemudian berkata, “Itu pasti omong kosong.”

“Terserah kamu mau komentar apa.”

“Kamu memang seperti itu ‘kan? Kamu menginginkan saya, tapi yang terjadi pada kita tidak pernah lebih dari teman,” kataku.

“Tapi saya menganggap kita pacaran, dulu.”

Aku tersenyum menyeringai, tanda tidak setuju.

“Dulu kita selingkuh,” ucapku.

Kamu diam.

“Tidak ada yang membahagiakan dari hubungan kita dan semua itu sangat mengganggu kehidupan saya. Karena itu, saya memutuskan pergi. Saya benci kamu.”

“Kenapa sampai benci?”

“Keinginan kamu untuk memiliki saya itu hanya ilusi, hanya ada di dalam angan-angan kamu. Sejak dulu, kamu tidak pernah mewujudkannya.”

Kamu masih diam. Sebenarnya, aku masih ingin bicara. Aku masih ingin marah. Aku ingin menuntut kamu dengan pertanyaan, kamu ada di mana ketika saya kesepian? Apakah kamu sudah puas bersenang-senang dengan dirimu sendiri? Mengapa kamu pergi, kemudian datang tanpa merasa salah? Aku ingin meneriaki kamu dengan seruan, kamu adalah yang paling buruk di dalam hidup saya!

Namun, aku lagi-lagi memilih diam.

“Maaf,” katamu sambil melabuhkan pandangan ke mataku.

“Saya memaafkan kamu. Saya memaafkan kita.”

“Tapi kita masih bisa ngobrol, kan?”

“Masih. Tapi, kita mungkin tidak perlu terlalu sering bertemu.”

“Sayang sekali. Padahal, saya masih punya rencana untuk ajak kamu makan gado-gado enak di Bangka,” kamu masih menyelipkan canda di tengah kecanggungan kita.

“Tidak usah. Saya bisa datang sendiri ke sana.”

“Oke.”

Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Kedai donat ini tidak terlalu ramai, dan ternyata turun hujan deras di luar. Hujan yang sama ketika kita berpapasan di perpustakaan kampus waktu itu. Namun, kamu seperti tidak mengenal aku, saat kamu berjalan berdampingan dengan dia. Meski hujan kali ini tidak ada petir yang serupa amarah, aku tetap merasa dingin dan sakit. Aku mendekap diriku sendiri sambil berharap di dalam hati. Semoga semua lekas baik-baik saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s