Para Pemimpi Benar-Benar Tidak Pernah Bisa Dijinakkan

Sebuah email membuyarkan konsentrasi saya kemarin siang. Email tersebut datang dari salah satu penerbit yang berada di bawah perusahan penerbit besar. Kurang lebih, isi email itu adalah tentang pihak penerbit yang sudah menerima manuskrip novel saya, dan mereka menawarkan beberapa pilihan terkait penerbitannya.

Meski masih mempertimbangkan banyak hal terkait tawaran tersebut, perasaan senang terus berkembang di hati saya. Pengalaman ini juga membuat saya bersentuhan kembali dengan satu peristiwa di masa lalu.

Lo mau bikin novel, Jeng? Novel tentang apa? Pengalaman pribadi lo? Emang ada yang mau baca?

Demikian kata salah satu teman saya, ketika saya mengutarakan keinginan untuk menjadi penulis. Saya ingat sekali, saya masih kuliah waktu itu. Kami mengobrol di suatu tempat, dan saya tidak akan pernah lupa akan mimik wajahnya yang menyeringai, tanda meremehkan.

Saya juga tidak pernah bisa mengabaikan satu komentar dari seorang teman yang lain di media sosial dulu. Walaupun tidak ada hubungannya dengan peristiwa sebelumnya, komentar yang satu ini, entah mengapa, masih melekat di benak saya.

Jadi, ketika itu, saya mengunggah potret judul sebuah bab dari buku Aleph, Paulo Coelho, di Instagram. Ada tertulis begini: Para Pemimpi Tidak Pernah Bisa Dijinakkan.

Lantas, seorang teman yang lain itu berkomentar: Kalau tukang mimpi gimana, Jeng?

Entah mengapa, membaca kalimat itu membuat hati saya kelu. Saya tidak mampu menggerakkan ibu jari untuk memberikan tanggapan. Apakah ini karena kalimat itu semenyakitkan kata-kata seorang teman yang sebelumnya?

Barangkali, ya.

Dulu, saya sempat jatuh karena ucapan-ucapan itu. Saya pernah merasa tidak percaya diri dengan segala yang sudah saya kerjakan. Tapi, karena saya benar-benar suka menulis, suka mengutarakan segala sesuatu lewat tulisan, saya kembali menghadapi kertas putih dan merangkai kata.

Lima tahun, saya merampungkan manuskrip novel pertama saya. Kini, semua itu sudah berbuah—meski saya masih bimbang dan belum mengambil keputusan apa pun atas tawaran penerbit.

Tentu, lima tahun merupakan proses yang sangat lambat. Namun, di dalamnya ada pergulatan yang mendewasakan saya. Kalimat negatif kala itu kadang muncul saat saya mulai kepayahan sendiri. Saya harus berusaha keras meyakinkan diri sendiri bahwa saya mampu.

Dan, saat ini, saya sudah sampai di titik ini, titik di mana saya akan mengatakan kembali bahwa Para Pemimpi Benar-Benar Tidak Pernah Bisa Dijinakkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s