Dalam Menulis, Jujur Atas Ketidakwarasan Seperti Yayoi Kusama adalah Kunci

IMG_5161

(Aku di antara lukisan karya Yayoi Kusama/Insaf Albert Tarigan)

Beberapa teman pernah bertanya kepada aku tentang cara menulis. Ada pula yang bertanya lebih spesifik tentang bagaimana cara supaya bisa menulis seperti aku. “Pakai hati,” jawabku kepada seorang teman yang mengajukan pertanyaan spesifik itu beberapa hari lalu.

“Sulit untuk bisa menulis seperti kamu. Bagaimana caranya?” dia bertanya lagi, karena mungkin merasa belum puas dengan jawabanku di atas.

Jujur saja, aku bingung saat menghadapi pertanyaan itu. Bagiku, pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang paling sulit. Ternyata, aku bisa sangat terbata-bata hanya untuk menjawab pertanyaan perihal sesuatu yang aku lakukan setiap hari.

Sulit.

Selang beberapa hari, aku merasa baru menemukan jawaban yang tepat. Aku mendapatkan jawaban ini setelah menyaksikan dan merefleksikan karya-karya Yayoi Kusama. Kalau kamu sering melihat foto bola kuning besar atau labu raksasa berpola polkadot di media sosial, itulah sebagian kecil karya Yayoi Kusama.

IMG_5411

(Salah satu karya Yayoi Kusama yang ada di Museum MACAN/Birgitta Ajeng)

Yayoi Kusama adalah seniman asal Jepang. Saat ini (12 Mei – 9 September 2018), Yayoi Kusama sedang menggelar pameran di Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN), Jakarta Barat.

Dahulu, Yayoi Kusama kerap mengalami serangan panik dan halusinasi terus-menerus. Pada dinding The Obliteration Room (2009 – sekarang), salah satu karyanya yang ada di Museum MACAN, aku juga membaca tulisan:

Ketika ia masih kecil, ia mulai melihat dunia melalui sebuah layar penuh berisi polkadot mungil, menyelubungi apapun yang ia lihat – dinding, langit-langit, dan bahkan seluruh tubuhnya. Selama lebih dari 40 tahun, ia telah membuat lukisan, patung, dan karya fotografi menggunakan polkadot untuk menutupi bermacam-macam permukaan dan mengisi ruangan. Kusama menyebut proses ini ‘kemusnahan’ yang berarti hancur dan hilangnya suatu benda tanpa bekas sama sekali.

IMG_5447

(Suasana di dalam The Obliteration Room pada 17 Mei 2018/Birgitta Ajeng)

Melalui fakta tersebut, aku berkesimpulan bahwa kesuksesan Yayoi Kusama sebagai seniman berawal dari kejujurannya. Ya. Dia dengan jujur mengakui sering mengalami halusinasi tentang polkadot. Dengan jujur dan berani pula, dia melampiaskan halusinasi ini ke dalam karya berpola polkadot.

Dia bisa saja menutupi halusinasi yang dia derita dengan berkarya memakai pola lain, seperti kotak-kotak misalnya. Dia bisa saja menutupi kekurangannya. Tapi, dia tidak melakukan itu. Dia tetap memilih mengekspresikan penyakit mentalnya lewat seni. Bahkan, dia juga berusaha melawan rasa takutnya terhadap seks lewat karya seni video yang menampilkan hubungan intim antara laki-laki dan perempuan.

Berdasarkan Popbela, Yayoi Kusama mempunyai trauma mendalam terhadap seks, sebab ia pernah menjadi saksi mata atas tingkah ayahnya yang ‘gila perempuan’. Masih dari sumber yang sama, Yayoi Kusama juga sempat memilih tinggal di rumah sakit gangguan mental. Namun, pada masa ini, dia justru tetap dapat menghasilkan karya serta menulis puisi dan fiksi surreal.

Menurut aku, untuk dapat menghasilkan tulisan yang enak dibaca dan berkesan di hati, kamu perlu jujur terlebih dahulu seperti Yayoi Kusama. Kamu perlu mengakui dengan berani tentang hal-hal yang membuat kamu gelisah, sedih, marah, menangis, bahkan tertawa. Kemudian, lampiaskanlah ke dalam tulisan.

IMG_5322

(Aku di dalam salah satu karya Yayoi Kusama/Insaf Albert Tarigan)

Mungkin ini terkesan ‘menelanjangi diri sendiri’, tapi begitulah cara kerja untuk menghasilkan karya yang autentik. Beberapa penulis juga menulis berdasarkan pengalaman pribadinya. Kalau kamu malah menuliskan sesuatu yang jauh dari diri kamu, tulisan kamu pasti kosong. Tidak ada arti.

Jadi, jujurlah dalam berkarya! Jujur atas ketidakwarasan seperti Yayoi Kusama adalah kunci.

Advertisements

3 thoughts on “Dalam Menulis, Jujur Atas Ketidakwarasan Seperti Yayoi Kusama adalah Kunci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s