Takdir Tulisan

Buku Magdalene PO

Segala sesuatu yang ada di tempat fana ini memiliki garis hidupnya masing-masing. Mulai dari hal besar sebagaimana manusia sampai hal sederhana semacam tulisan.

Sungguh. Seperti kekasih, setiap tulisan akan menemukan takdirnya sendiri. Tiap-tiap buah pikir yang menjelma kalimat bisa saja berakhir di buku harian, jurnal pribadi di internet, dan portal media.

Atau secara tidak terduga terpatri di atas kertas sebuah buku, sama seperti salah satu esaiku beberapa bulan lalu. Pada mulanya, aku hanya ingin menulis sebuah esai untuk aku kirim ke Magdalene tanpa memikirkan imbalan atau honor.

Tetapi, suami malah meledek saat aku menulis.

“Lihat tuh, Cel. Bundamu menulis sampai malam, tapi enggak dibayar,” kata suami menyebut nama anakku yang sudah tidur. Dia jelas melontarkan guyonan.

“Ini soal reputasi, sayang. Rasanya beda kalau tulisan aku dimuat di Magdalene,” aku berkelakar sambil tetap menulis.

Lagipula, ide tulisan itu sudah semacam tinja, yang kalau tidak segera dikeluarkan akan membikin mulas. Gemas. Jadi, aku melanjutkan menulis dengan senang hati dan ikhlas. Pada akhirnya, tulisan tersebut benar-benar dimuat di Magdalene dan aku sungguh girang.

Tetapi, aku mendapati satu orang lagi yang mempertanyakan tentang imbalan dari itu. Dia adalah seorang teman di kantor.

“Menulis di situ dibayar enggak, Jeng?”

Enggak,” jawabku waktu itu. Aku ingin menjelaskan lebih lanjut tentang alasanku menulis di Magdalene, tapi khawatir dia tidak memahaminya. Jadi, kata-kataku berhenti di situ.

Selang beberapa bulan, aku mendapatkan sebuah e-mail yang mengejutkan. Aku menerima e-mail itu di kereta, ketika pulang dari kantor menuju rumah.

Judul e-mail itu adalah Esai Penerbitan Buku Magdalene. Inti dari e-mail itu adalah Magdalene akan meluncurkan buku kumpulan esai dan esai yang aku tulis terpilih untuk buku itu. Mereka membutuhkan persetujuan secara tertulis dari aku terkait izin penerbitan, hak cipta, dan sebagainya.

Mereka juga bilang bahwa pihak penerbit akan memberikan honor, walaupun mungkin tidak banyak.

Ah, hatiku langsung melonjak bahagia. Sampai-sampai, aku menangis karena terharu. Lewat cerita ini, aku tidak ingin mengungkapkan atau melebih-lebihkan sesuatu yang telah aku kerjakan. Aku hanya ingin bilang, bahwa setiap tulisan memiliki takdirnya sendiri.

Meski tidak ada imbalan, asalkan aku menulis dengan bahagia dan tulisan itu dimuat, bukankah sudah cukup? Anggap saja penerbitan buku ini sebagai hadiah dari Tuhan atas keikhlasanku.

Oh ya, kalau kalian mau pesan buku menjadi perempuan: kumpulan esai dari Magdalene, silakan saja menghubungi kontak yang tertera pada foto di atas, ya.

Terima kasih 😊

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Takdir Tulisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s