Takut Saat Menulis

photo-1456324504439-367cee3b3c32
Ilustrasi/Unsplash

Ketika hendak menulis, saya sering berhadapan dengan rasa takut. Contohnya, saat saya menulis tentang kontrasepsi untuk Magdalene. Ide dasar tulisan itu berasal dari pengalaman pribadi, yang kemudian berkembang menjadi sebuah pertanyaan.

Mengapa istri yang melulu harus menelan pil KB, suntik KB, atau dipasang KB spiral, padahal ada banyak risiko kesehatan yang mungkin terjadi pada tubuh istri? Mengapa bukan suami yang memakai alat kontrasepsi?

Saya takut mengejawantahkan itu semua ke dalam tulisan, karena bertentangan dengan kebiasaan umum menurut saya. Saya khawatir akan mendapatkan kritik. Saya cemas akan mendapatkan komentar, “Kamu feminis, ya?”

Namun karena ide itu bikin gemas, saya tetap maju dan kirim. Selang beberapa pekan, kabar baik muncul di Twitter. Tulisan saya sudah tayang di Magdalene.

Senang rasanya, tetapi juga cemas. Apakah akan muncul kritik pedas setelah ini?

Kenyataannya, banyak respons positif berdatangan, khususnya dari teman perempuan saya. Suami juga membagikan tulisan saya di Facebook-nya–ini peristiwa langka.

Beberapa dari mereka ada yang berbagi pengalaman, kebingungan, keyakinan, dan kegelisahan tentang topik yang sama. Meski demikian, komentar yang saya cemaskan tadi muncul juga, dan saya cuma menjawab bahwa tulisan tersebut hanya iseng.

Dan di luar ekspektasi, tulisan itu terpilih untuk diterbitkan dalam buku kumpulan esai oleh Magdalene. Judul bukunya “menjadi perempuan”.

38230728_10212274102035227_79351530838294528_n
Foto: Dok. Magdalene

Girang. Tapi yang lebih menggembirakan adalah tanggapan dari pembaca, bahkan ada yang sampai curhat di Facebook Messenger maupun Direct Message di Instagram.

Dari situ, saya mengetahui bahwa masalah kontrasepsi ternyata menjadi kegelisahan beberapa teman.

Lewat pengalaman ini pula, saya belajar tiga hal.

Pertama, rasa takut itu wajar, namun bukan berarti layak menjadi penghambat. Kalau memang ada kritik atas tulisanmu, maka bersyukurlah. Setidaknya mereka telah membaca tulisan kamu. Ini kata salah satu dosen saya di kampus dulu.

Kedua, sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan umum itu belum tentu salah.

Ketiga, bila kamu bergairah hingga jantung berdebar-debar dalam melakukan sesuatu, teruskan! Itu renjanamu. Berhenti malah membuat kamu menjauh dari hal-hal menakjubkan di ujung sana.

Terakhir, kamu bisa membeli buku “menjadi perempuan” di toko buku kesayangan kamu.

Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s