Gaji Wartawan Kecil, Ladang Belajarnya yang Besar

brooke-cagle-1181689-unsplash

Instagram Stories seorang teman menggelitik aku. Dia mengunggah foto mobil dengan teks di atasnya: “Kamu masih kemahalan kalau belinya pakai slip gaji wartawan. Nanti ya kalau toko rotinya sudah lima, aku ajak kamu pulang.”

Apakah sesulit itu memboyong Mazda 6 Elite Estate dengan upah wartawan?

Mari berhitung. Harga Mazda 6 Elite Estate pada Agustus 2018, yaitu Rp 554.8 juta. Anggap uang muka Rp 100 juta atau Rp 150 juta untuk cicilan lima tahun. Jadi, setiap bulan harus tersedia dana Rp 7.5 juta atau Rp 6.7 juta untuk Mazda 6 Elite Estate.

Sementara itu, gaji wartawan yang baru lulus kuliah sampai pengalaman lima tahun masih kurang dari atau sama dengan biaya cicilan. Untuk bisa membawa pulang mobil itu, dibutuhkan pengalaman kerja lebih dari sepuluh tahun. Itu pun kalau wartawannya bekerja di perusahaan media yang sejahtera.

Namun sesejahtera-sejahteranya perusahaan media, tetap saja ada getirnya. Aku pernah bekerja di salah satu “majalah tua” di Tanah Air. Belum genap dua tahun aku bekerja, ada efisiensi besar-besaran di perusahaan.

Banyak karyawan lama pensiun dini dan pegawai kontrak (yang sudah dua tahun) tidak diangkat tetap. Mereka malah ditawarkan dirumahkan sebulan untuk kemudian jadi karyawan kontrak lagi. Seorang karyawan senior berkata kepadaku, “Dulu itu enak banget, enggak kayak sekarang. Kamu masuk di waktu yang enggak pas.”

Enak dalam kalimat itu berarti majalah masih berjaya. Enggak enak berarti majalah sedang meraba-raba dalam menghadapi era digital.

Aku pindah ke perusahaan majalah lain yang kelihatan dari luar baik-baik saja, tapi ternyata kondisinya mirip-mirip. Majalah yang gagap bertemu era digital. Aku mendengar lagi kalimat: “Dulu itu enak banget, sekarang enggak.”

Bahkan, ada kebijakan pembayaran gaji karyawan dicicil dua kali dalam sebulan selama setahun. Bonus tahunan pun nihil.

Belum lagi bicara beban pekerjaan. Enggak cuma menulis berita dan liputan. Aku juga pernah diminta membuat advertorial, menjadi panitia perhelatan peragaan busana, bikin konten media sosial, bikin survei pembaca. Ah, belum lagi harus tektokan dengan tim iklan, fotografer, desain grafis, dan masih banyak lagi. Bahkan belakangan ini, ada wartawan yang kudu membikin vlog.

Duh, banyak banget tugasnya. Kepala mau pecah. Aku sering mengeluh begitu dulu. Untung saja pacar—yang sekarang jadi suami aku—selalu bilang, “Bukannya kerja di situ jadi cita-cita kamu dari dulu, ya?”

Dia benar. Cita-cita aku sudah dikabulkan dan aku enggak seharusnya bersambat. Sekarang, aku pun bersyukur ditempa banyak hal dulu. Salah satunya, aku mensyukuri diberi kesempatan belajar menulis advertorial. Kemampuan itu sangat dibutuhkan belakangan ini.

Lagipula kerja bukan cuma soal gaji dan bonus. Ada pengalaman yang harus dikejar. Ada ilmu yang kudu diraih. Aku dulu culun banget. Pertama kali meliput peluncuran butik di Grand Indonesia, aku diminta mewawancarai sosialita. Waktu itu, aku baru banget lulus kuliah dan masih minder banget. Untuk masuk ke mal di pusat ibu kota saja, aku keringat dingin. Aku takut menyodorkan alat perekam suara ke hadapan narasumber. Akhirnya, aku kehilangan kesempatan doorstop.

Tapi dengan menjadi takut, aku belajar berani. Lama-lama, aku terbiasa berkomunikasi dengan narasumber—baik masyarakat biasa, dokter, artis, maupun pejabat—untuk menggali data dan fakta. Mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut mereka adalah hal paling seru. Aku belajar hal baru. Aku tahu hal baru. Akses informasi jauh lebih luas.

Bonusnya, undangan liputan ke luar kota atau negeri. Setiap tahun ada saja yang mengundang liputan ke negara-negara di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Untuk kelas kroco kayak aku dapat gilirannya masih di negara-negara Asean. Pola yang aku baca: Semakin lama bekerja di suatu media, kesempatan liputan ke luar negeri semakin banyak dan jangkauan negaranya semakin luas.

Meski memboyong Mazda 6 Elite Estate dengan upah wartawan pengalaman kerja kurang dari lima tahun itu sulit, enggak apa-apa.

Meminjam kata-kata Rando Kim dalam bukunya berjudul Time of Your Life, “Ketika kamu menikmati apa yang kamu lakukan, kamu akan cenderung bekerja lebih giat, dan pekerjaan yang baik akan diterjemahkan dengan promosi dan kompensasi yang lebih baik. Gajimu mungkin lebih rendah dari apa yang kamu harapkan, dan kemapananmu dalam bekerja mungkin juga lebih rendah dari yang lain, tetapi sejalan dengan waktu, perbedaan tersebut akan mengecil.”

 

 

Advertisements

One thought on “Gaji Wartawan Kecil, Ladang Belajarnya yang Besar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s