Hari Pertama Sekolah dan Alasan Saya Jarang Unggah Foto Anak ke Media Sosial

aaron-burden-1zR3WNSTnvY-unsplash
Ilustrasi. (Foto: Unsplash)

Foto-foto orang tua mengantar anak pada hari pertama sekolah mewarnai di media sosial. Tampak kebahagiaan dan kebanggaan dalam unggahan-unggahan tersebut. Saya pun melakukan dan merasakan hal yang sama di momen pertama anak masuk preschool awal 2019.

Cerita soal itu mengalir pula dalam percakapan dengan sekelompok teman. Hanya saja, komentar yang muncul mengubah saya. Beberapa bulan belakangan, saya menjadi orang yang penuh pertimbangan ketika hendak mengunggah foto anak ke media sosial. Kalaupun saya bagikan, wajah anak tertutup mainan, tampak dari jauh, blur, atau mengunggah ke Instagram Story yang hanya tayang 24 jam—yang mulai jarang.

Kenapa begitu? Memang mereka komentar apa? Atau jangan-jangan kamu yang terlalu serius dan perasa dalam menanggapi ucapan orang lain?

Oke. Pada suatu hari, saya menceritakan anak saya yang sudah sekolah kepada beberapa teman. Dari situ, saya berharap mendapat umpan balik positif dan diskusi pendidikan anak mengalir seru. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya.

“Memang anak lo umur berapa, Jeng?”

“Dua setengah tahun.”

“Dua setengah tahun sudah sekolah?”

Preschool, main-main doang kok.”

“Kenapa lo menyekolahkan anak lo di umur segitu?”

“Biar dia pintar Bahasa Inggris, karena bahasa pengantar di sekolahnya Bahasa Inggris.”

“Keponakan gue enggak bisa ngomong karena di sekolah Bahasa Inggris, di rumah Bahasa Indonesia. Anak gue nanti-nanti aja lah sekolahnya.”

“Anak gue mah belajar Bahasa Inggris dari Youtube aja,” teman saya yang lain menimpali.

“Tapi katanya Youtube bisa bikin kecanduan,” saya menanggapi.

“Enggak asal dikasih batasan.”

“Tapi preshool itu ada kegiatan yang melatih motorik anak,” kata saya.

“Yang begitu kan di rumah bisa. Lo males ngurus anak, ya?” dia menimpali lagi.

Dang. Saya kira saya dan teman-teman sudah berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Tapi ternyata, masih ada yang berdiri tapi rendah, duduk tapi tinggi.

“Tapi setiap anak beda-beda kali,” samar-samar, saya mendengar seorang teman yang semula menyimak angkat bicara.

Ya. Keputusan menyekolahkan anak sebenarnya tidak bisa disamaratakan. Semua bergantung pada kesiapan orang tua dan anak. Sama seperti segala sesuatu, preschool juga punya sisi buruk dan baik. Sisi buruknya, yaitu seperti yang terjadi pada keponakan teman saya.

Tapi jangan pula menutup mata dan telinga pada fakta bahwa ada anak yang kemampuan berbahasa asingnya meningkat sejak masuk preschool. Itu terjadi pada anak dari teman suami saya.

Lalu apa hubungannya dengan saya yang jarang unggah foto anak ke media sosial? Mengunggah foto anak ke media sosial sama dengan berbagi cerita tentang anak. Tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang berdiri sama tinggi, duduk sama rendah di situ.

Ujung-ujungnya, muncul lagi arena mompetition. Dari berbagai sumber, mompetition merujuk pada situasi para ibu saling membandingkan dan merasa pola asuh serta anaknya paling hebat. Tapi berdasarkan obrolan saya dengan teman-teman soal preschool, saya sadar mompetition juga terjadi pada sekumpulan orang tua.

Karena malas terjebak di arena tersebut, saya mengurangi frekuensi mengunggah foto anak di media sosial. Saya ingin fokus pada kebahagiaan dan kesehatan anak. Lagipula, saya khawatir segala tindakan atau keputusan saya di media sosial bisa memicu perundungan pada anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s