Ibu Bekerja Tak Seharusnya Minta Pemakluman bahwa Dia Seorang Ibu

corinne-kutz-tMI2_-r5Nfo-unsplash
Foto: Unsplash

Setelah menikah dan menjadi ibu, perempuan harus berhadapan dengan banyak pertanyaan. Tak berhenti pada perkara Keluarga Berencana (KB) seperti yang pernah saya tulis di sini. Perempuan sekaligus ibu mesti mampu menaklukan pertanyaan lain ketika ia ingin kembali berkarier. Pertanyaan itu berbunyi: Kalau kamu kerja, bagaimana dengan anak? Bagaimana kalau anak sakit?

Saya menerima sendiri pertanyaan itu, saat saya hendak melamar pekerjaan beberapa tahun lalu. Saya merasa biasa saja, karena saya memang fokus untuk melamar pekerjaan waktu itu. Saya menjawab sesuai dengan kondisi kehidupan kala itu: Saya punya ibu dan pengasuh yang bisa membantu menjaga anak di rumah.

Bulan demi bulan berlalu, saya merenungkan kembali pengalaman itu. Pertanyaan tersebut sesungguhnya sangat patriarki. Kenapa hanya perempuan yang mendapat pertanyaan soal anak, sementara laki-laki tidak? Dari sini, saya melihat bahwa merawat anak adalah semata-mata tugas perempuan, padahal laki-laki juga punya andil, karena kehadiran anak merupakan buah kerja sama pasangan suami istri.

Lantas, apa hubungan semua ini dengan judul di atas? Pertanyaan soal merawat anak sesungguhnya adalah batasan baru bagi ibu yang mau bekerja. Perempuan harus mampu mendobrak batasan itu, jika dia benar-benar ingin menafkahi keluarga, berkarier, atau mengaktualisasi diri.

Bila sudah berhasil menembus pertahanan itu, ibu bekerja tak seharusnya minta pemakluman bahwa dia seorang ibu. Mengapa? Karena pemakluman hanya melemahkan posisi ibu bekerja di kantor. Dia dipandang tak mampu berkontribusi terhadap perusahaan. Sementara perusahaan adalah sistem yang berorientasi pada cuan, bukan kemanusiaan. Pemakluman adalah kekalahan melawan patriarki itu sendiri.

Saya sendiri pernah diberi saran oleh seorang teman, ketika saya kesulitan mencapai target. Teman sekantor saya mengatakan: Lo bilang saja kalau lo punya anak, jadi susah capai target.

Jawaban saya: TIDAK.

Saya tidak ingin menggunakan anak sebagai alasan. Kalau saya belum bisa mencapai target, biar itu menjadi kesalahan saya sebagai pekerja. Sejak saat itu, saya membanting diri untuk mampu mencapai target.

Babak belur? Tentu saja. Tapi saya sudah memutuskan untuk meniti jalan hidup sebagai ibu bekerja, jadi saya berusaha mencintai semua yang ada. Ujung dari semua ini toh demi kehidupan keluarga kecil dan buah hati, serta pengembangan diri sendiri.

Jadi untuk ibu bekerja di seluruh dunia, bekerja keraslah sampai orang lain lupa kalau kau adalah seorang ibu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s