Pernah Menjadi Baik

Ilustrasi. (Foto: Birgitta Ajeng)

Aku pernah berusaha keras menjadi manusia baik. Keras. Benar-benar keras. Aku pernah memberikan pipi kiriku, setelah mereka menampar pipi kananku dengan kata-kata negatif. Aku pernah melapangkan dada atas semua caci maki yang mereka hunuskan dari balik punggungku.

Aku pernah terluka dan diam atas itu semua. Aku tidak melawan. Aku hanya menutup satu per satu jembatan komunikasi dengan mereka, karena jemu. Aku muak melihat kata-kata buruk mereka yang berceceran di setiap ruang publik, yang menular seperti penyakit.

Sampai di suatu titik, aku pernah memaafkannya. Ada satu celah jembatan kecil, yang menghubungkan aku dengannya, yang aku biarkan terbuka. Aku tersenyum kepadanya sambil tetap menyembuhkan luka lama. Aku mengulurkan tangan kepadanya sambil tetap menahan perih.

Namun, lagi-lagi, dia menamparku dengan kata-kata tercela yang ternyata sudah mandarah di dagingnya. Aku terluka. Kembali terluka. Aku sudah memaafkannya, tapi membiarkan satu jembatan itu terbuka ternyata adalah kebodohan.

Aku sudah memaafkannya, tapi bukan berarti aku siap ditikam lagi, lagi, dan lagi. Aku pernah menjadi baik, tapi bukan berarti aku rela dicaci lagi, lagi, dan lagi. Jadi, buat apa ada jembatan itu, bila mereka hanya ingin menyeberang untuk menyerang?

Maka, pada bulan terakhir, aku mengambil kayu, minyak, dan pemantik api. Aku membakar jembatan di antara aku dan mereka sambil membawa luka yang masih basah. Aku pernah menjadi baik bagi orang lain. Kini, aku ingin menjadi baik bagi diriku sendiri.

Selamat tinggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s