Gaslighting, Pelecehan Emosional yang Bikin Kamu Meragukan Diri Sendiri


Ilustrasi. (Foto: Unsplash)

Istilah gaslighting sering banget berseliweran di media sosial. Setiap kali ada yang posting tentang ini, aku pasti langsung berhenti scroll layar smartphone, lalu membacanya.

Kenapa? Kamu emang pernah punya mantan gaslighter alias pelaku gaslighting?

Lah, jadi bahas mantan?

Ya,karena gaslighting biasanya ditemukan dalam hubungan percintaan.

Tunggu. Tunggu. Tenang. Itu tadi cuma dialog imajiner kok. Haha.

Tapi gaslighting banyak terjadi di hubungan romansa, ini fakta, karena hubungan ini lebih intens dan punya rasa saling percaya yang tinggi. Di luar hubungan itu, seperti hubungan dengan teman, rekan kerja, dan keluarga.

Gaslighting juga sempat dibahas singkat di buku yang sudah aku baca, yakni Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang karya Jeong Moon Jeong.

Istilah ini bermula dari kisah seorang suami yang meredupkan lampu-lampu gas di rumahnya dan ketika istrinya bertanya kenapa rumah mereka gelap, suami berkata rumah mereka tidak gelap, istrinya hanya terlalu baper. Jadi, istri mulai meragukan penilaiannya sendiri.

Contoh lain dari gaslighting dalam hubungan pertemanan, yakni kamu sedang mengalami masalah yang benar-benar berat. Kemudian kamu curhat ke seorang teman bahwa kamu lagi stres banget gara-gara masalah itu berat banget. Teman kamu bilang bahwa itu tidak berat, kamu saja yang manja.

Jadi, apakah kamu pernah berada dalam kondisi gaslighting ? Kalau aku, pernah. Pernah banget, tapi bukan sama mantan kok. Haha.

Gaslighting sendiri sebenarnya dianggap sebagai bentuk pelecehan emosinal, karena korban menjadi curiga akan pendiriannya. Mirip pepatah lama, dia seperti air di atas daun talas.

Lama-kelamaan, dia menjadi sangat bergantung kepada gaslighter dan hidupnya semakin sulit. Ada beberapa ciri orang-orang yang menjadi korban gaslighting.

Korban gaslighting sering meminta maaf, dan merasa seakan-akan semua hal adalah tanggung jawab dan kewajibannya. Mereka juga sulit mengambil keputusan, karena mereka meragukan penilaiannya sendiri.

Kemudian, mereka sering menyalahkan diri sendiri. Para korban gaslighting juga menjadi pribadi yang tertutup dan berupaya melindungi gaslighter, karena dia menaruh kepercayaan penuh kepada gaslighter. Pada akhirnya, mereka menjadi pribadi yang pesimis.

Untuk bisa keluar dari gaslighting, korban harus percaya pada diri sendiri, intuisinya sendiri, dan perasaannya sendiri. Kalian jangan terlalu percaya pada orang lain, karena mereka belum tentu benar. Mereka bisa saja sedang memanipulasi kalian demi keuntungan pribadinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s