Review Buku Berani Tidak Disukai Karya Penulis Jepang: Bikin Hidup Bebas Lepas

Apakah kalian percaya kalau sebuah buku mampu meringankan langkah kaki di kehidupan? Aku percaya. Buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga adalah salah satu yang punya khasiat meringankan dan membebaskan.

Bila dilihat sekilas, judul buku ini memang seakan tidak memiliki pengaruh yang memerdekakan langkah kaki. Bahkan, judulnya bisa dibilang aneh. Berani Tidak Disukai. Kenapa sih buku ini seperti mengajak pembaca untuk berani dibenci orang lain? Padahal, kebanyakan dari kita punya hasrat untuk disukai oleh sebanyak-sebanyaknya teman. Setuju, enggak?

Jadi, kita sebagai pembaca dibuat bingung dan bertanya-tanya, saat menemukan buku ini di toko. Kenapa sih? Ada apa sih sama buku ini? Apa sih makna di balik keberanian tidak disukai yang menjadi judul buku ini?

Untuk tahu jawabannya, berikut review buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga.

Istilah psikologi yang harus dipahami

Sebelum membaca pertanyaan tadi, aku mau cerita terlebih dahulu soal kesan aku saat membaca bab-bab pembukaan di buku ini.

Ya! Buku ini berisi teori psikologi Alfred Adler. Siapa dia? Dia adalah salah satu dari tiga psikolog terkemuka abad kesembilan belas selain Sigmund Freud dan Carl Jung.

Ketika membaca halaman awal buku ini, aku sebenarnya merasa salah beli, karena buku ini ditulis dengan gaya tanya jawab antara filsuf dan pemuda. Ini mengingatkan aku ke pengalaman membaca rubrik tanya jawab di majalah.

Namun, kesan selanjutnya, saat membaca bab demi bab dari buku ini, aku langsung merevisi pendapat aku. Menurut aku, buku ini keren banget.

Memang, di awal, aku harus memperhatikan dengan saksama istilah-istilah psikologi yang dijelaskan penulis. Ini sebenarnya bertujuan untuk membantu pembaca memahami bab-bab berikutnya yang ada di buku ini.

Contoh istilah psikologi yang harus dipahami di bab-bab awal buku ini adalah aetiologi dan teleologi. Aetiologi adalah studi tentang hubungan sebab dan akibat. Freud memiliki gagasan bahwa luka batin atau trauma di masa lalu menyebabkan ketidakbahagiaan seseorang pada saat ini.

Sementara itu, Adler punya gagasan yang bertentangan. Menurutnya, diri kita ditentukan bukan oleh pengalaman kita sendiri, tapi oleh makna yang kita beri pada pengalaman kita sesuai dengan tujuan kita. Ini yang disebut teleologi.

Intinya, penulis bilang:

Manusia tidak digerakkan oleh pencetus di masa lalu, namu bergerak menuju tujuan yang mereka tetapkan sendiri.

Penulis sebenarnya juga memberikan contoh kasus soal aetiologi dan teleologi. Jadi, kalian tidak perlu khawatir akan kebingungan saat membaca buku ini. Yang mau aku tekankan di sini adalah kalian harus memperhatikan dan memahami konsep-konsep yang disampaikan penulis.

Memahami kompleks inferioritas dan kompleks superioritas

Semakin membaca bab-bab berikutnya, aku ternyata semakin menemukan teori-teori psikologi yang menarik. Kompleks inferioritas dan kompleks superioritas, misalnya. Kompleks inferior adalah kondisi seseorang menjadikan perasaan inferior mereka sebagai alasan.

Setiap orang pada dasarnya memiliki perasaan inferior. Namun, tidak ada yang bisa menanggungnya lebih lama. Saat mengalami kondisi inferior, minder, atau perasaan-perasaan lain yang membuatnya menempatkan diri di bawah, seseorang akan merasakan ada yang hilang dari dirinya.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Bagaimana mengisi bagian yang hilang itu? Cara paling tepat adalah kerja keras dan pengembangan diri. Dengan begitu, orang-orang yang mengalami perasaan inferior memiliki keberanian untuk mengubah hidupnya.

Namun, ada juga orang-orang yang mengalami kompleks inferioritas yang kuat, sehingga dia tidak punya keberanian untuk bekerja keras dan bertumbuh dengan sehat. Di titik ini, orang-orang tersebut berupaya menembusnya dengan cara berbeda. Mereka akan bersikap seakan-akan dirinya superior.

Penulis bilang bahwa mereka mengalami perasaan superior yang semu. Ciri-cirinya adalah mereka memamerkan hubungan baiknya dengan orang berpengaruh. Dengan begitu, dia ingin memberi tahu bahwa dirinya spesial. Dia sebenarnya sedang membuat dirinya tampak superior dengan mengaitkannya ke otoritas. Ini yang disebut kompleks superioritas.

Pada hakikatnya, orang-orang seperti ini sedang menjalani kehidupan orang lain, karena mereka hidup menurut sistem nilai orang lain. Contoh lain dari orang yang mengalami kompleks superioritas adalah senang membanggakan prestasinya dan kehebatannya di masa lampau.

Penulis menyebut bahwa orang-orang seperti sebenarnya tidak memiliki keyakinan pada diri sendiri. Di buku ini juga ditulis pandangan Adler: Mereka yang suka membanggakan diri sendiri melakukannya semata karena merasa inferior.

Kalau seseorang benar-benar yakin pada diri sendiri, dia tidak perlu merasa bangga. Dia melakukan itu, karena perasaan inferior. Ada kekhawatiran bahwa kalau dia tidak melakukannya, tidak ada seorang pun yang akan menerimanya apa adanya.

Jawaban tersimpan di bab tiga

Lalu, ada di mana sih penjelasan mengenai judul buku ini? Pembahasannya ada di bab tiga, judulnya Malam Ketiga – Menyisihkan Tugas-Tugas Orang Lain. Konsep berani tidak disukai sebenarnya berhubungan dengan kompleks superioritas, ketika orang-orang suka membanggakan prestasi untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Menurut penulis, orang-orang yang berharap begitu kuat untuk diakui akan mengarah pada hidup yang dijalani dengan mengikuti ekspektasi orang lain. Dengan begitu, bisa dibilang bahwa kehidupan paling mengekang adalah hidup berdasarkan ekspektasi dan penilaian orang lain.

Penulis bahkan menyatakan bahwa, kebebasan berarti hidup dengan keberanian untuk tidak disukai.

Tidak. Maksudnya bukan berarti kamu harus hidup dengan cara yang membuatmu tidak disukai. Bukan berarti kamu harus terlibat kejahatan. Kamu sewajarnya hidup dengan memilih jalan terbaik sesuai keyakinanmu. Perkara orang lain menyukaimu atau tidak,  itu tugas mereka. Itu bukan tugas kamu.

Karena itu, bab ini diberi judul Menyisihkan Tugas-Tugas Orang Lain. Tugas-tugas orang lain yang dimaksud, yakni tentang mereka menyukaimu atau tidak. Itu tugas orang lain yang harus kamu sisihkan. Tugasmu yang sesungguhnya adalah hidup memilih jalan terbaik sesuai keyakinanmu.

Aku tertarik dengan satu pepatah di buku ini:

Adalah wajar bila seseorang berupaya membawa seekor kuda ke air. Tapi apakah kuda itu minum atau tidak. Itu bukanlah tugasnya.

Jadi, demikian review buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Aku berharap membaca buku ini untuk hidup yang lebih bebas dan lepas. Review buku ini juga bisa kalian tonton di video berikut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s