Review Buku When to Walk Away Karya Gary Thomas: Tentang Toxic People & Toxic Relationship

Kita ibarat hidup di zaman yang sulit, seperti ungkapan yang sering kita dengar. Kita kesulitan bersikap romantis karena takut dibilang galau. Kita malas peduli dengan orang lain karena takut dibilang kepo. Demikian pula kita tidak berani melabeli orang toxic karena takut dibilang sok suci.

Ketakutan itu sebenarnya hal wajar. Namun, tahukah kamu apa akibat bila kamu takut melabeli orang-orang toxic di sekitar? Tentu saja, kamu akan kesulitan mencapai misi kamu dalam hidup.

Ya, ampun, kakak serius banget. Hidup itu mengalir saja, enggak usah pakai misi segala.

Serius? Apakah kamu yakin bahwa kamu tidak punya cita-cita dalam menjalani hidup? Kamu tidak punya harapan untuk menjadi orang sukses demi diri sendiri dan orang-orang yang kamu sayang?

Aku rasa setiap orang pasti punya harapan dan cita-cita dalam hidup. Kalau kalian ingin fokus mencapai misi dalam hidup, melabeli toxic people di sekitar kalian adalah hal penting.

Kalian juga akan lebih mengenal diri sendiri dan memahami apakah kalian termasuk toxic people atau bukan. Kalau sudah kenal dan paham, kalian akan lebih mudah untuk menentukan apakah kalian ingin tetap menjadi toxic people atau berubah menjadi lebih baik?

Tapi, bagaimana cara menyadari keberadaan toxic people tersebut? Apa ciri-cirinya? Dan bagaimana cara kita menjalani hidup sementara ada toxic people di dekat kita? Buku When to Walk Away (Waktunya Menyingkir): Menemukan Kebebasan dari Toxic People & Toxic Relationship karya Gary Thomas ini sebenarnya bisa memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Nah, bagaimana sih review aku terhadap buku ini?

Ciri-ciri toxic people

When to Walk Away merupakan buku tentang bagaimana berurusan dengan toxic people dari sudut pandang rohani khususnya Kristen, bukan psikologi. Bab awal dari buku ini langsung secara gamblang menceritakan pengalaman penulis tentang rekan-rekannya yang berurusan dengan toxic people, termasuk ciri-ciri toxic people.

Ciri-ciri toxic people mungkin sudah banyak dibahas di artikel, jurnal, atau buku-buku psikologi lainnya. Namun, membaca tentang toxic people dari sudut pandang rohani semakin meyakinkan aku tentang keberadaan toxic people dan cara menyikapinya.

Yesus juga sebenarnya pernah bertemu dengan toxic people semasa hidupnya, seperti Yudas Iskariot. Yesus pun sering menyingkir atau membiarkan orang lain menyingkir dari-Nya. Bahkan, penulis menghitung ada empat puluh satu peristiwa semacam itu di Injil. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak selalu berakar pada konflik. Kadang, Yesus menyingkir dari orang-orang yang menginginkan lebih banyak dari Dia.

Di beberapa peristiwa lain, Dia undur diri demi beristirahat dan memulihkan diri atau menyelamatkan diri. Intinya, Yesus tidak membiarkan kebutuhan, permohonan, serangan, atau perbuatan tidak bertanggung jawab orang lain mengalihkan perhatian-Nya dari misi-Nya, yakni menyebarkan ajaran kasih.

Lantas, seperti apa ciri-ciri orang toxic menurut buku ini? Penulis menyebut bahwa toxic people bukan sekadar orang sulit dan bukan orang yang tidak menyenangkan belaka. Penulis bilang bahwa toxic people biasanya menonjol dalam setidaknya satu dari tiga unsur. Tiga unsur yang dimaksud adalah roh yang membunuh, tabiat haus kendali, dan hati yang mencintai kebencian.

Terkait roh yang membunuh, membunuh di sini bukan berarti membunuh dalam arti yang sebenarnya. Tapi ada beberapa ciri khas roh pembunuh yang disebutkan di buku ini:

  • Konsisten menciptakan kekacauan dalam hubungan.
  • Kita mengenalnya dari hal-hal yang ia tentang, ketimbang nilai-nilai yang dipertahankan.
  • Cenderung ingin membungkam kamu.
  • Berupaya menghentikan kamu untuk melakukan misi kamu.
  • Melemahkan kekuatan kamu.
  • Mengkambinghitamkan kamu dan orang lain, sehingga kesalahan mereka sendiri tidak terlihat terlalu buruk.

Terkait unsur tabiat haus kendali, toxic people biasanya berusaha mengendalikan orang lain sehingga membuat fokus kita terhadap misi pun teralihkan. Untuk unsur mencintai kebencian, ini jelas sekali ciri-cirinya, yakni menunjukkan kemarahan, kegeraman, kedengkian, fitnah, perkataan kotor, dan dusta. Jadi, mereka benar-benar fokus pada apa yang mereka benci.

Buku ini bukan hanya membahas tentang melindungi diri sendiri dari toxic people, tetapi juga lebih melindungi misi kamu dari serangan-serangan beracun. Misi. Lagi-lagi, aku menyebut kata misi. Sebagai orang yang dibesarkan dalam keluarga Katolik, aku sering mendengar kata-kata talenta. Bakat. Banyak juga perumpamaan tentang talenta di Alkitab. Setiap orang diberikan anugerah talenta yang berbeda-beda, entah menulis, menyanyi, melukis, memotret atau lainnya. Nah, misi kita adalah mengembangkan talenta itu.

Di awal, aku bilang di awal bahwa penting untuk melabeli toxic people. Melabeli atau labeling sendiri berbeda dengan menjuluki atau name-calling. Melabeli adalah memahami, sedangkan menjuluki adalah tentang melukai, merendahkan, dan menggunakan kata-kata sebagai senjata.

Melabeli toxic people adalah penting. Bukan untuk menyerang mereka, melainkan demi kebaikan diri kamu sendiri. Melabeli toxic people untuk menyerang mereka justru bisa sangat menyakitkan kamu karena toxic people pada dasarnya adalah orang-orang yang doyan konflik.

Melabeli toxic people sangat penting untuk diri kamu sendiri karena akan membuat kamu lebih memahami masa lalu, menyetel ulang ekspektasi, dan menyusun strategi yang lebih efektif untuk masa depan kamu.

Karena itu, cara terbaik berhadapan dengan toxic people adalah dengan tetap fokus pada misi. Kamu hanya perlu fokus mengembangkan talenta yang telah diberikan oleh Tuhan.

Penulis juga menegaskan di buku ini:

Cara terbaik yang bisa Anda lakukan bagi orang beracun yang secara tidak adil menentang Anda adalah memastikan bahwa mereka gagal mengalihkan perhatian Anda dari misi yang diberikan Allah kepada Anda.

Buku When to Walk Away (Waktunya Menyingkir): Menemukan Kebebasan dari Toxic People & Toxic Relationship karya Gary Thomas

Jangan menjadi racun bagi diri sendiri

Hal lain yang juga menarik dari buku ini adalah bab penutupnya yang berjudul Jangan Menjadi Racun Bagi Diri Anda Sendiri. Sejak awal sampai menjelang bab terakhir, penulis secara konsisten menunjukkan ciri-ciri toxic people dan toxic relationship—bahkan hubungan keluarga juga bisa menjad toxic relationship.

Kemudian, penulis menutup bab ini secara menarik dengan mengajak pembaca untuk mengenal toxic people di dalam diri sendiri. Ya, banyak dari kita mungkin masih menjadi racun bagi diri sendiri. Kita sering menggunakan kata-kata negatif untuk menilai diri sendiri, seperti ‘saya begitu lemah’ atau ‘saya merasa malu dengan diri saya sendiri’ atau ‘bagaimana aku bisa sebodoh itu’ dan sederet kata-kata negatif lainnya.

Untuk kamu yang masih suka menilai diri sendiri dengan kata-kata negatif, penulis punya satu pesan:

Apa pun yang tidak ingin Anda katakan kepada orang lain, berhentilah mengatakannya kepaa diri Anda sendiri.

Buku When to Walk Away (Waktunya Menyingkir): Menemukan Kebebasan dari Toxic People & Toxic Relationship karya Gary Thomas

Jadi, mulai sekarang, berhentilah berbicara kepada diri sendiri dengan kemarahan dan bahasa kotor dan jadilah orang yang lemah lembut kepada diri kamu sendiri.

Buku ini juga merupakan salah satu buku favorit aku, karena mengajak aku berkenalan lebih jauh tentang toxic people dan toxic relationship. Aku pun bisa memahami diri sendiri dan posisi aku saat ini ada di mana terkait toxic people dan misi aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s