Memahami Levels Of Consciousness Hawkins, Mengenal Diri Sendiri

Kalau pernah membaca cerpen Firasat di buku Rectoverso karya Dewi Lestari, kalian pasti ingat dengan pertemuan bernama Klub Firasat. Sebuah pertemuan yang memfasilitasi orang-orang untuk menghidupkan kembali kemampuan mereka membaca hati.

Sejak pertengahan tahun kedua pandemi, aku juga menemukan perkumpulan yang bisa dikatakan sama dengan Klub Firasat. Tidak diadakan rutin sebulan sekali, pertemuan ini membahas soal kehidupan untuk kemudian lebih dapat mengenal diri sendiri. Pertemuan ini selalu dibuka dan ditutup dengan meditasi.

Belum lama ini, aku mengikuti pertemuan itu untuk kali ketiga yang membahas tentang peta kesadaran (consciousness) manusia yang dicetuskan David R. Hawkins. Dia adalah psikiater, physician, peneliti, guru spiritual, sekaligus dosen.

Mengenal peta kesadaran ini membuatku memahami posisiku sekarang. Buat teman-teman yang memiliki ketertarikan pulang ke dalam diri, mengenal peta kesadaran ini tentu hal menarik.

Jadi, Hawkins membagi level kesadaran manusia dari 17 (level paling rendah) sampai 1 (level paling tinggi). Dia juga membaginya menjadi dua kelompok: 17-10 sebagai kelompok FORCE, dan 9-1 sebagai kelompok POWER.

Secara umum, FORCE adalah level kesadaran di mana seseorang masih merasa kurang, butuh validasi, tidak percaya pada hidup. Sedangkan POWER adalah level kesadaran di mana seseorang tidak lagi butuh validasi, ia merasa hidupnya berkelimpahan entah dalam bentuk apa pun, dia percaya pada dirinya sendiri. Kalian bisa melihat grafik di bawah ini sebagai gambaran.

Level of consciousness atau tingkat kesadaran manusia dikatakan bisa naik turun setiap harinya. Seseorang yang masih berada di level FORCE, tingkat kesadarannya bisa naik turun di jajaran FORCE saja. Sementara itu, seseorang yang sudah pernah berada di level POWER, kemudian turun, dia bisa naik kembali ke level POWER.

Setiap pengalaman hidup, baik maupun buruk, sebenarnya bisa membawa level kesadaranmu naik atau turun. Setiap kesadaran juga tidak bisa dipaksakan.

Misalnya, kamu menerima curhatan seorang teman yang menganggap hidupnya menyedihkan dan ingin dia menjadi pribadi berdaya. Kamu bisa memberikan pemahaman soal pribadi berdaya, tapi kamu tidak bisa memaksanya naik ke level kesadaran itu. Dia bisa naik bila telah menemukan pengalaman hidup yang mengubahnya.

Jadi, di manakah level kesadaran kamu sekarang? Yuk, kenalan lebih jauh dengan masing-masing levelnya.

FORCE

17. Shame (Malu)

Ini adalah level kesadaran terendah manusia. Seseorang yang berada di level ini menganggap hidup menyedihkan. Baginya, Tuhan merendahkannya. Level kesadaran ini sering terjadi pada orang yang memiliki keinginan bunuh diri atau mengalami pelecehan seksual.

16. Guilty (Bersalah)

Seseorang yang ingin bunuh diri tadi bisa naik ke level destruction alias menghancurkan diri sendiri, seperti bulimia, dan lainnya. Lalu, dia menyalahkan diri sendiri dan tidak bisa memaafkan diri sendiri. Dunia tampak jahat dan dia menyalahkan Tuhan.

15. Apathy (Apatis)

Di level ini, seseorang mulai putus asa dan apatis terhadap hidup. Dia melihat dunia sebagai hal yang sia-sia dan merasa menjadi korban. Contohnya, orang-orang yang menjadi golongan kelas bawah secara struktural.

14. Grief (Duka cita)

Seseorang yang ingin bunuh diri tadi menyesal telah melakukan hal-hal yang menyiksa dirinya. Dia merasa sedih. Orang-orang yang berduka cita atas meninggalnya orang terdekat atau korban perkosaan juga berada di level ini. Dia melihat dunia begitu tragis.

13. Fear (Takut)

Di level kesadaran ini, seseorang menarik diri dari kehidupan. Dia melihat Tuhan sebagai sosok penghukum. Dia juga defensif dan berusaha melindungi diri sendiri, tapi sebenarnya ini wujud dari anxiety.

12. Desire (Keinginan)

Seseorang mulai memiliki hasrat dan keinginan kuat karena sudah bisa keluar dari proses menarik diri dari kehidupan. Dia mulai belanja-belanja atau melakukan hal-hal lain sebagai bentuk obsesi akibat kebutuhan masa lalu.

11. Anger (Marah)

Di level kesadaran ini, seseorang sudah bisa menyatakan sikap. Ia menyatakan kemarahannya dan apa yang membuatnya tidak nyaman. Kemarahannya bisa membuat dia jatuh ke level kesadaran sebelumnya atau justru naik karena energi kemarahan ini begitu besar.

Saat dia melawan dan memberontak, ini bisa menjadi batu loncatan untuk naik ke level kesadaran selanjutnya. Kemarahan bisa menjadi negatif dan membawa ke kesadaran yang lebih rendah bila menimbulkan masalah baru. Kemarahan bisa menjadi positif dan membawa ke kesadaran yang lebih tinggi bila ada negosiasi.

10. Pride (Bangga)

Seseorang sudah mulai merasa positif, tapi sebenarnya semu. Hal ini lantaran kebanggaannya masih tergantung oleh hal eksternal.

POWER

9. Courage (Berani)

Di sini, seseorang mulai berani mendobrak pola lama. Tegas. Dia merasa harus berubah dan tidak mau hidupnya dikontrol orang lain. Dia berdaya. Empowerment. Hidupnya tidak lagi diombang-ambing hal eksternal karena dia merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan diri sendiri. Orang lain memang menyebabkannya terluka, tapi ia merasa healing adalah tanggung jawabnya.

Ia merasa kehidupan sebagai sesuatu yang layak dijalani. Dia melihat banyak pintu kesempatan terbuka. All is well, baginya, karena ia melihat Tuhan sebagai Yang Memperbolehkan Apa Pun. Tuhan Yang Maha Asik.

8. Neutrality (Netralitas)

Setelah berdaya, dia mau membebaskan diri dari keterikatan terhadap apa pun. Hal ini karena ia percaya dan yakin bahwa segala sesuatu yang dikerjakannya secara maksimal pasti berbuah. Dia melihat dunai apa adanya.

7. Willingness (Kemauan)

Setelah tidak terikat terhadap apa pun, dia memiliki motivasi menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Dia punya kemauan dan penuh harapan. Dia melihat segalanya mungkin karena Tuhan adalah sosok yang mengilhami baginya.

6. Acceptance (Penerimaan)

Dia tidak terpengaruh keadaan. Dia melampaui batasan dan menciptakan realitas hidupnya sendiri. Dia proaktif dan biasanya sel healing dari suatu penyakit bisa terjadi di level ini. Di sini, dia juga memaafkan diri sendiri atau orang lain. Baginya, Tuhan adalah penyayang.

5. Reason (Berpikir)

Di level kesadaran ini, seseorang mulai berpikir mendalam. Dia berusaha memahami hidup. Semua pengalaman hidupnya menjadi bukti atau teori baru. Orang-orang yang merefleksikan dirinya pasti menemukan wisdom-nya sendiri. Penemu-penemu besar juga menemukan teori besar di level kesadaran ini.

4. Love (Kasih)

Seseorang mulai memiliki realitasnya sendiri dan damai dengan hidupnya. Dia mulai tahu misi hidupnya. Dia memiliki rasa hormat mendalam terhadap kehidupan dan hidup untuk kebaikan umat manusia. Contoh orang yang ada di level kesadaran ini adalah Bunda Teresa.

3. Joy (Suka cita)

Ada tragedi yang menguncang hidup dan bisa menjadi transformasi level kesadarannya. Dia bisa menginspirasi dan memberdayakan orang lain. Contoh, korban pelecehan seksual yang mendirikan LSM.

2. Peace (Kedamaian)

Level kesadaran di mana seseorang sampai di keheningan. Sedikit orang yang bisa mencapai level ini, ada satu berbanding 10 juta orang. Namun, satu orang ini sebenarnya bisa mengajak orang lain untuk naik level.

1. Enlighment (Pencerahan)

Ini adalah kesadaran murni yang tidak terlukiskan.

One thought on “Memahami Levels Of Consciousness Hawkins, Mengenal Diri Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s