Takdir Tulisan

Buku Magdalene PO

Segala sesuatu yang ada di tempat fana ini memiliki garis hidupnya masing-masing. Mulai dari hal besar sebagaimana manusia sampai hal sederhana semacam tulisan. Continue reading “Takdir Tulisan”

Dalam Menulis, Jujur Atas Ketidakwarasan Seperti Yayoi Kusama adalah Kunci

IMG_5161
(Aku di antara lukisan karya Yayoi Kusama/Insaf Albert Tarigan)

Beberapa teman pernah bertanya kepada aku tentang cara menulis. Ada pula yang bertanya lebih spesifik tentang bagaimana cara supaya bisa menulis seperti aku. “Pakai hati,” jawabku kepada seorang teman yang mengajukan pertanyaan spesifik itu beberapa hari lalu.

Continue reading “Dalam Menulis, Jujur Atas Ketidakwarasan Seperti Yayoi Kusama adalah Kunci”

Para Pemimpi Benar-Benar Tidak Pernah Bisa Dijinakkan

Sebuah email membuyarkan konsentrasi saya kemarin siang. Email tersebut datang dari salah satu penerbit yang berada di bawah perusahan penerbit besar. Kurang lebih, isi email itu adalah tentang pihak penerbit yang sudah menerima manuskrip novel saya, dan mereka menawarkan beberapa pilihan terkait penerbitannya.

Meski masih mempertimbangkan banyak hal terkait tawaran tersebut, perasaan senang terus berkembang di hati saya. Pengalaman ini juga membuat saya bersentuhan kembali dengan satu peristiwa di masa lalu.

Lo mau bikin novel, Jeng? Novel tentang apa? Pengalaman pribadi lo? Emang ada yang mau baca?

Demikian kata salah satu teman saya, ketika saya mengutarakan keinginan untuk menjadi penulis. Saya ingat sekali, saya masih kuliah waktu itu. Kami mengobrol di suatu tempat, dan saya tidak akan pernah lupa akan mimik wajahnya yang menyeringai, tanda meremehkan.

Saya juga tidak pernah bisa mengabaikan satu komentar dari seorang teman yang lain di media sosial dulu. Walaupun tidak ada hubungannya dengan peristiwa sebelumnya, komentar yang satu ini, entah mengapa, masih melekat di benak saya.

Jadi, ketika itu, saya mengunggah potret judul sebuah bab dari buku Aleph, Paulo Coelho, di Instagram. Ada tertulis begini: Para Pemimpi Tidak Pernah Bisa Dijinakkan.

Lantas, seorang teman yang lain itu berkomentar: Kalau tukang mimpi gimana, Jeng?

Entah mengapa, membaca kalimat itu membuat hati saya kelu. Saya tidak mampu menggerakkan ibu jari untuk memberikan tanggapan. Apakah ini karena kalimat itu semenyakitkan kata-kata seorang teman yang sebelumnya?

Barangkali, ya.

Dulu, saya sempat jatuh karena ucapan-ucapan itu. Saya pernah merasa tidak percaya diri dengan segala yang sudah saya kerjakan. Tapi, karena saya benar-benar suka menulis, suka mengutarakan segala sesuatu lewat tulisan, saya kembali menghadapi kertas putih dan merangkai kata.

Lima tahun, saya merampungkan manuskrip novel pertama saya. Kini, semua itu sudah berbuah—meski saya masih bimbang dan belum mengambil keputusan apa pun atas tawaran penerbit.

Tentu, lima tahun merupakan proses yang sangat lambat. Namun, di dalamnya ada pergulatan yang mendewasakan saya. Kalimat negatif kala itu kadang muncul saat saya mulai kepayahan sendiri. Saya harus berusaha keras meyakinkan diri sendiri bahwa saya mampu.

Dan, saat ini, saya sudah sampai di titik ini, titik di mana saya akan mengatakan kembali bahwa Para Pemimpi Benar-Benar Tidak Pernah Bisa Dijinakkan.

Lebih Asyik Mana, Popolo Coffee Bogor atau Sentul?

image1
Cappuccino di Popolo Coffee Bogor. Porsi yang pas untuk perut yang sensitif terhadap kopi.

Saat sedang penat dengan Jakarta, saya selalu melarikan diri ke Bogor. Beberapa tempat makan di sini menyajikan menu yang nikmat di lidah, sekaligus interior yang sedap di mata. Popolo Coffee Bogor merupakan salah satunya.

Continue reading “Lebih Asyik Mana, Popolo Coffee Bogor atau Sentul?”

Surat Pemberitahuan: Dilan, Aku Mencintai Kamu Sore Ini

Dilan, aku bukan Milea, melainkan Ajeng. Aku adalah perempuan yang ingin mengenal kamu secara instan melalui film. Ketika aku tahu bahwa trailer film kamu sudah beredar, aku langsung menonton, dan aku langsung suka kamu, Dilan.

Continue reading “Surat Pemberitahuan: Dilan, Aku Mencintai Kamu Sore Ini”

Empat Jam Sebelum Hari Ulang Tahunmu

Untuk segala sesuatu yang sudah tamat, semestinya tidak ada kata ‘bersambung’. Kita pun seharusnya demikian. Untuk hubungan yang sudah selesai, semestinya tidak tidak ada lagi pertemuan. Namun mengapa kita lagi-lagi melanggar rumus itu dan meluangkan waktu bersama di Kopibar?

Continue reading “Empat Jam Sebelum Hari Ulang Tahunmu”

Satu Puisi Menjadi Sebuah Lagu

Saya punya teman yang pandai membuat lagu. Dia adalah Maria Dewi Setyorini. Saya bertemu dia kali pertama di acara peluncuran buku kumpulan puisi seorang teman yang lain. Di situ, dia dan suaminya membuat musikalisasi puisi. Hasilnya, indah. Dari situ, saya kepingin.

Continue reading “Satu Puisi Menjadi Sebuah Lagu”

“Cappuccino Grande” dan Bab yang Dihapus

Processed with VSCO with b5 preset

Aku salah memesan minuman tadi. Kepada barista perempuan berkemeja hitam, aku meminta cappuccino panas ukuran grande. Aku sedang sangat lelah dan mengantuk lantaran pekerjaan yang menumpuk. Untuk bisa menjadi pendengar yang baik bagi kamu, laki-laki yang cerewet, aku merasa butuh kopi sebagai doping. Sedangkan kamu memesan cokelat panas dengan ukuran yang sama seperti cappuccino milikku.

Meski sudah memesan roti isi tuna untuk mencegah kembung dan menetralkan efek kopi, aku tetap terjaga hingga dini hari dan memikirkan kamu di sini. Jujur saja, melupakan pertemuan kita tadi malam menjadi hal yang paling sukar. Bagaimana tidak? Setelah lima tahun jembatan komunikasi kita hancur dan aku susah payah menghapus bab tentang kita, kamu hadir dengan segala hal yang belum pernah terungkapkan, malam itu.

“Kita mau ngobrol di mana?” kamu bertanya kepadaku sambil mengemudikan Honda HRV hitam.

Sophie Authentique masih ada?” kamu bertanya lagi sebelum aku sempat menjawab pertanyaanmu sebelumnya.

“Masih, tapi mahal.  Kita pergi ke tempat yang biasa-biasa saja,” jawabku.

“Iya, yang biasa apa? Warkop dekat masjid?”

Aku tertawa.

“Kita minum kopi saja di Seriously, kafe dekat sini,” kataku.

“Seru ya, kamu masih humble.”

Setelah tiba dan memegang pesanan masing-masing, kita menaiki tangga menuju lantai dua. Kita memilih duduk di sofa abu-abu di sudut ruangan. Meski ramai, suhu ruangan terasa sangat dingin. Mungkin karena sore sebelum malam itu mendung. Jadi, aku langsung duduk dan segera menyesap kopi untuk menghangatkan tubuh. Sementara kamu mengambil cukup banyak tisu di meja dekat tangga terlebih dahulu.

“Banyak banget,” aku berkata untuk memecah keheningan di antara kita seraya melirik genggaman tanganmu yang penuh tisu.

“Iya, sudah kebiasaan,” ucapmu sembari duduk di hadapanku. Di tengah kita ada meja kayu berbentuk bundar.

Aku mengangguk.

“Sekarang saya pakai kacamata, Gendis. Ini punya opa, coba lihat deh,” katamu sambil menyodorkan kacamata cokelat itu.

“Sejak kapan mata kamu minus, Pras?” kataku sambil memegang kacamata itu.

“Coba lihat dulu. Bagus, kan?”

“Keren. Lebih kelihatan seperti kacamata gaya, bukan minus,” jawabku sambil mengembalikannya kepadamu.

“Ini kacamata minus. Tapi saya copot aja, karena kamu lebih terbiasa melihat saya seperti ini.”

“Terserah.”

Kemudian, kamu melipat gagang kacamata itu  dan meletakkannya di atas tumpukan tisu yang tidak terlalu tinggi.

“Oke, sekarang, kamu bisa tanya apa aja ke saya.”

“Akhirnya, kita ngobrol lagi,” ucapku singkat.

Kamu pun tertawa, seperti habis mendengar sebuah sindiran.

“Iya. Saya sadar bahwa manusia diberi jeda untuk menjadi dewasa.”

“Iya,” aku menjawab tanpa basa-basi dengan tatapan tetap tertuju kepadamu.

“Ngomong-ngomong, tatapan mata kamu tidak berubah. Masih sama seperti dulu.”

Aku tidak memberi tanggapan atas kalimat itu.

“Gendis, kamu masih ingat Ibu di Bogor?”

“Masih.”

“Satu jam yang lalu, beliau telepon dan menanyakan kabar kamu. Dia mau tau, apakah kamu sudah jadi penulis? Kalau kamu mau jawab, saya telepon Ibu nanti malam.”

“Mohon doanya, Bu. Saya sedang proses nulis buku.”

“Saya sampaikan nanti, ya. Saya juga tidak tahu, kelihatannya beliau terkesan sama kamu waktu itu. Padahal, kalian cuma sempat ngobrol sebentar. Kamu lembut, santun, dan ramah, mungkin juga karena sama-sama Jawa,” katamu.

Aku tersenyum, kemudian menyesap kopi.

“Saya juga masih sayang kamu, Gendis.”

Kali pertama, kalimat itu keluar dari bibirmu. Aku membisu sambil berusaha menebak arah pembicaraanmu selanjutnya.

“Waktu itu, saya meninggalkan kamu, karena emosi kamu benar-benar tidak stabil. Sekarang saya sadar bahwa meninggalkan kamu adalah sebuah kesalahan di dalam hidup saya.”

Aku terpaku. Aku tidak menyangka kamu akan membicarakan tentang perasaan pada pertemuan pertama kita, setelah menahun tidak berjumpa dan bersapa. Kamu mengungkapkan semua dengan lantang dan berani. Sementara aku masih menyimpan kelu. Aku masih meraba setiap kata yang telah dan akan keluar dari bibirmu. Aku khawatir segalanya lagi-lagi adalah sebuah kebohongan.

“Kalau boleh tahu, perasaan kamu ke saya seperti apa? Dari satu sampai sepuluh, atau mungkin sebelas, berapa nilai perasaan kamu untuk saya?”

Pertanyaan kamu sangat sulit. Aku langsung diserang bingung. Aku berusaha keras memilih dan merangkai kalimat dengan tepat.

“Saya tidak tahu perasaan saya seperti apa ke kamu dulu,” ujarku pelan, “setelah menjalin pertemanan yang cukup intens sama kamu, saya merasa takut. Saya takut diabaikan.”

“Maksudnya?”

“Awalnya, saya senang berteman dengan kamu. Selalu ikut kamu pergi, tahu tempat kamu dibesarkan, dan mengenal Ibu adalah pengalaman yang sangat berkesan. Namun setelah semua menjadi semakin intens, kamu seperti menjaga jarak. Ada satu titik ketika saya benar-benar sakit hati karena kamu. Waktu itu, kamu pernah menjadikan saya sebagai bahan taruhan. Ketika pergi bersama teman-teman yang lain, kamu lebih meminjamkan jaket kepada dia ketimbang saya. Kamu juga tidak menolong ketika saya jatuh. Hatimu terlalu keras. Saya takut, sampai-sampai saya pergi dan berusaha menghapus bab tentang kita.”

“Saya minta maaf. Saya yang dulu tidak pandai mengutarakan perasaan.”

It’s okay.

“Semoga setelah ini kita masih bisa ngobrol ya.”

“Iya.”

Setelah cukup berani bicara tentang hati, kamu mulai membahas perihal kesibukan dan hal menarik lainnya. Kamu tetap laki-laki yang ceria dan terbuka. Meski demikian, aku melihat ada beberapa perubahan pada diri kamu. Ya. Kamu tidak lagi bicara dengan menggebu-gebu disertai kening berkerut. Dan, satu transformasi cukup besar yang aku temukan yaitu kamu rendah hati. Kamu mau mengucapkan maaf. Aku senang dengan kamu yang sekarang. Aku senang bisa bercakap-cakap kembali dengan kamu. Semoga kamu selalu bahagia.

*bersambung*

Puas Potong Rambut di Dido Salon Dekat Kemang

Processed with VSCO with c1 preset
Rambut baru untuk menyongsong tahun baru. Hasil karya Mas Joko di Dido Salon.

Ribet. Ya. Saya memang pribadi yang ribet, apalagi kalau sudah urusan potong rambut. Saya sadar bahwa saya punya bentuk wajah yang… sebut saja unik. Jadi, saya merasa membutuhkan kapster bertangan dingin, supaya wajah tampak agak tirus dengan potongan rambut baru.

Continue reading “Puas Potong Rambut di Dido Salon Dekat Kemang”