Peluk

peluk-novel-ajeng-cover

Setiap manusia pernah jatuh ke titik terendah hidup, waktu yang membedakannya.

Haira mengalami itu semasa kuliah. Perpisahan, perjodohan, dan label anak durhaka dari orang tua membuat ia ingin menyudahi hidup.

Satu hal yang membuat ia bertahan adalah bayang-bayang Gama, laki-laki yang pernah ia cinta sekaligus benci. Continue reading “Peluk”

“CAPPUCCINO GRANDE” DAN BAB YANG DIHAPUS (TAMAT)

 

Tidak ada kopi untuk pertemuan kita hari ini. Hari kedua setelah perpisahan yang menahun. Aku cuma ingin mencecap sesuatu yang manis, karena tubuh sedang kepayahan. Akhirnya, pilihan kita jatuh pada sebuah kedai donat di Kemang.

Continue reading ““CAPPUCCINO GRANDE” DAN BAB YANG DIHAPUS (TAMAT)”

Empat Jam Sebelum Hari Ulang Tahunmu

Untuk segala sesuatu yang sudah tamat, semestinya tidak ada kata ‘bersambung’. Kita pun seharusnya demikian. Untuk hubungan yang sudah selesai, semestinya tidak tidak ada lagi pertemuan. Namun mengapa kita lagi-lagi melanggar rumus itu dan meluangkan waktu bersama di Kopibar?

Continue reading “Empat Jam Sebelum Hari Ulang Tahunmu”

Satu Puisi Menjadi Sebuah Lagu

Saya punya teman yang pandai membuat lagu. Dia adalah Maria Dewi Setyorini. Saya bertemu dia kali pertama di acara peluncuran buku kumpulan puisi seorang teman yang lain. Di situ, dia dan suaminya membuat musikalisasi puisi. Hasilnya, indah. Dari situ, saya kepingin.

Continue reading “Satu Puisi Menjadi Sebuah Lagu”

“Cappuccino Grande” dan Bab yang Dihapus

Processed with VSCO with b5 preset

Aku salah memesan minuman tadi. Kepada barista perempuan berkemeja hitam, aku meminta cappuccino panas ukuran grande. Aku sedang sangat lelah dan mengantuk lantaran pekerjaan yang menumpuk. Untuk bisa menjadi pendengar yang baik bagi kamu, laki-laki yang cerewet, aku merasa butuh kopi sebagai doping. Sedangkan kamu memesan cokelat panas dengan ukuran yang sama seperti cappuccino milikku.

Continue reading ““Cappuccino Grande” dan Bab yang Dihapus”

benih ingatan

benih ingatan paling indah yang pernah kau tabur di ladang benakku, yaitu sebuah ritual pilu tentang perpisahan.

berloncatan dari bayang ke mimpi, ingatan tentangmu yang sempat memeluk dan mencium di batas berai.

erat dan basah, itulah jenis peluk dan ciummu yang baru, yang sebelumnya tak pernah datang dari tubuh dan bibirmu, yang kini tumbuh menjadi luka sekaligus kenangan tersubur.

Pulang

coming-home-picture

(Foto: www.redeemedgirl.org)

Aku tak mampu memejamkan mata malam ini. Selama tiga jam, aku sibuk mencari posisi tidur yang pas. Aku tengkurap, lalu menyamping, kemudian telentang, namun itu semua tak jua mengantarku ke dalam tidur yang lelap. Akhirnya aku memutuskan untuk bangun dan menepuk-nepuk punggung adik perempuanku dengan pelan sambil berkata, “Kamu sudah tidur?”

Continue reading “Pulang”