Empat Jam Sebelum Hari Ulang Tahunmu

Untuk segala sesuatu yang sudah tamat, semestinya tidak ada kata ‘bersambung’. Kita pun seharusnya demikian. Untuk hubungan yang sudah selesai, semestinya tidak tidak ada lagi pertemuan. Namun mengapa kita lagi-lagi melanggar rumus itu dan meluangkan waktu bersama di Kopibar?

Continue reading “Empat Jam Sebelum Hari Ulang Tahunmu”

Advertisements

Satu Puisi Menjadi Sebuah Lagu

Saya punya teman yang pandai membuat lagu. Dia adalah Maria Dewi Setyorini. Saya bertemu dia kali pertama di acara peluncuran buku kumpulan puisi seorang teman yang lain. Di situ, dia dan suaminya membuat musikalisasi puisi. Hasilnya, indah. Dari situ, saya kepingin.

Continue reading “Satu Puisi Menjadi Sebuah Lagu”

“Cappuccino Grande” dan Bab yang Dihapus

Processed with VSCO with b5 preset

Aku salah memesan minuman tadi. Kepada barista perempuan berkemeja hitam, aku meminta cappuccino panas ukuran grande. Aku sedang sangat lelah dan mengantuk lantaran pekerjaan yang menumpuk. Untuk bisa menjadi pendengar yang baik bagi kamu, laki-laki yang cerewet, aku merasa butuh kopi sebagai doping. Sedangkan kamu memesan cokelat panas dengan ukuran yang sama seperti cappuccino milikku.

Meski sudah memesan roti isi tuna untuk mencegah kembung dan menetralkan efek kopi, aku tetap terjaga hingga dini hari dan memikirkan kamu di sini. Jujur saja, melupakan pertemuan kita tadi malam menjadi hal yang paling sukar. Bagaimana tidak? Setelah lima tahun jembatan komunikasi kita hancur dan aku susah payah menghapus bab tentang kita, kamu hadir dengan segala hal yang belum pernah terungkapkan, malam itu.

“Kita mau ngobrol di mana?” kamu bertanya kepadaku sambil mengemudikan Honda HRV hitam.

Sophie Authentique masih ada?” kamu bertanya lagi sebelum aku sempat menjawab pertanyaanmu sebelumnya.

“Masih, tapi mahal.  Kita pergi ke tempat yang biasa-biasa saja,” jawabku.

“Iya, yang biasa apa? Warkop dekat masjid?”

Aku tertawa.

“Kita minum kopi saja di Seriously, kafe dekat sini,” kataku.

“Seru ya, kamu masih humble.”

Setelah tiba dan memegang pesanan masing-masing, kita menaiki tangga menuju lantai dua. Kita memilih duduk di sofa abu-abu di sudut ruangan. Meski ramai, suhu ruangan terasa sangat dingin. Mungkin karena sore sebelum malam itu mendung. Jadi, aku langsung duduk dan segera menyesap kopi untuk menghangatkan tubuh. Sementara kamu mengambil cukup banyak tisu di meja dekat tangga terlebih dahulu.

“Banyak banget,” aku berkata untuk memecah keheningan di antara kita seraya melirik genggaman tanganmu yang penuh tisu.

“Iya, sudah kebiasaan,” ucapmu sembari duduk di hadapanku. Di tengah kita ada meja kayu berbentuk bundar.

Aku mengangguk.

“Sekarang saya pakai kacamata, Gendis. Ini punya opa, coba lihat deh,” katamu sambil menyodorkan kacamata cokelat itu.

“Sejak kapan mata kamu minus, Pras?” kataku sambil memegang kacamata itu.

“Coba lihat dulu. Bagus, kan?”

“Keren. Lebih kelihatan seperti kacamata gaya, bukan minus,” jawabku sambil mengembalikannya kepadamu.

“Ini kacamata minus. Tapi saya copot aja, karena kamu lebih terbiasa melihat saya seperti ini.”

“Terserah.”

Kemudian, kamu melipat gagang kacamata itu  dan meletakkannya di atas tumpukan tisu yang tidak terlalu tinggi.

“Oke, sekarang, kamu bisa tanya apa aja ke saya.”

“Akhirnya, kita ngobrol lagi,” ucapku singkat.

Kamu pun tertawa, seperti habis mendengar sebuah sindiran.

“Iya. Saya sadar bahwa manusia diberi jeda untuk menjadi dewasa.”

“Iya,” aku menjawab tanpa basa-basi dengan tatapan tetap tertuju kepadamu.

“Ngomong-ngomong, tatapan mata kamu tidak berubah. Masih sama seperti dulu.”

Aku tidak memberi tanggapan atas kalimat itu.

“Gendis, kamu masih ingat Ibu di Bogor?”

“Masih.”

“Satu jam yang lalu, beliau telepon dan menanyakan kabar kamu. Dia mau tau, apakah kamu sudah jadi penulis? Kalau kamu mau jawab, saya telepon Ibu nanti malam.”

“Mohon doanya, Bu. Saya sedang proses nulis buku.”

“Saya sampaikan nanti, ya. Saya juga tidak tahu, kelihatannya beliau terkesan sama kamu waktu itu. Padahal, kalian cuma sempat ngobrol sebentar. Kamu lembut, santun, dan ramah, mungkin juga karena sama-sama Jawa,” katamu.

Aku tersenyum, kemudian menyesap kopi.

“Saya juga masih sayang kamu, Gendis.”

Kali pertama, kalimat itu keluar dari bibirmu. Aku membisu sambil berusaha menebak arah pembicaraanmu selanjutnya.

“Waktu itu, saya meninggalkan kamu, karena emosi kamu benar-benar tidak stabil. Sekarang saya sadar bahwa meninggalkan kamu adalah sebuah kesalahan di dalam hidup saya.”

Aku terpaku. Aku tidak menyangka kamu akan membicarakan tentang perasaan pada pertemuan pertama kita, setelah menahun tidak berjumpa dan bersapa. Kamu mengungkapkan semua dengan lantang dan berani. Sementara aku masih menyimpan kelu. Aku masih meraba setiap kata yang telah dan akan keluar dari bibirmu. Aku khawatir segalanya lagi-lagi adalah sebuah kebohongan.

“Kalau boleh tahu, perasaan kamu ke saya seperti apa? Dari satu sampai sepuluh, atau mungkin sebelas, berapa nilai perasaan kamu untuk saya?”

Pertanyaan kamu sangat sulit. Aku langsung diserang bingung. Aku berusaha keras memilih dan merangkai kalimat dengan tepat.

“Saya tidak tahu perasaan saya seperti apa ke kamu dulu,” ujarku pelan, “setelah menjalin pertemanan yang cukup intens sama kamu, saya merasa takut. Saya takut diabaikan.”

“Maksudnya?”

“Awalnya, saya senang berteman dengan kamu. Selalu ikut kamu pergi, tahu tempat kamu dibesarkan, dan mengenal Ibu adalah pengalaman yang sangat berkesan. Namun setelah semua menjadi semakin intens, kamu seperti menjaga jarak. Ada satu titik ketika saya benar-benar sakit hati karena kamu. Waktu itu, kamu pernah menjadikan saya sebagai bahan taruhan. Ketika pergi bersama teman-teman yang lain, kamu lebih meminjamkan jaket kepada dia ketimbang saya. Kamu juga tidak menolong ketika saya jatuh. Hatimu terlalu keras. Saya takut, sampai-sampai saya pergi dan berusaha menghapus bab tentang kita.”

“Saya minta maaf. Saya yang dulu tidak pandai mengutarakan perasaan.”

It’s okay.

“Semoga setelah ini kita masih bisa ngobrol ya.”

“Iya.”

Setelah cukup berani bicara tentang hati, kamu mulai membahas perihal kesibukan dan hal menarik lainnya. Kamu tetap laki-laki yang ceria dan terbuka. Meski demikian, aku melihat ada beberapa perubahan pada diri kamu. Ya. Kamu tidak lagi bicara dengan menggebu-gebu disertai kening berkerut. Dan, satu transformasi cukup besar yang aku temukan yaitu kamu rendah hati. Kamu mau mengucapkan maaf. Aku senang dengan kamu yang sekarang. Aku senang bisa bercakap-cakap kembali dengan kamu. Semoga kamu selalu bahagia.

*bersambung*

benih ingatan

benih ingatan paling indah yang pernah kau tabur di ladang benakku, yaitu sebuah ritual pilu tentang perpisahan.

berloncatan dari bayang ke mimpi, ingatan tentangmu yang sempat memeluk dan mencium di batas berai.

erat dan basah, itulah jenis peluk dan ciummu yang baru, yang sebelumnya tak pernah datang dari tubuh dan bibirmu, yang kini tumbuh menjadi luka sekaligus kenangan tersubur.

Hai

26270-heart-love-cutting-breaking-heartbreak.1200w.tn

(Crosswalk.com)

Hai. Tadi malam sebelum beranjak ke peraduan, aku memikirkan kamu. Di dalam benakku, terbayang kamu duduk di kursi busa ruang keluarga. Aku berada tepat di sisimu. Hari itu hujan. Di hadapan kita, berdiri meja kayu, tempat kamu meletakkan dua cangkir berisi teh panas manis milikmu, dan teh panas tanpa gula milikku. Aku dan kamu menyesap teh sambil membicarakan hari tua kita.

Continue reading “Hai”

Pulang

coming-home-picture

(Foto: www.redeemedgirl.org)

Aku tak mampu memejamkan mata malam ini. Selama tiga jam, aku sibuk mencari posisi tidur yang pas. Aku tengkurap, lalu menyamping, kemudian telentang, namun itu semua tak jua mengantarku ke dalam tidur yang lelap. Akhirnya aku memutuskan untuk bangun dan menepuk-nepuk punggung adik perempuanku dengan pelan sambil berkata, “Kamu sudah tidur?”

Continue reading “Pulang”

Tulus, Pamitmu Palsu

Perpisahan di antara kita bukan sekadar hanya.
Kau harus tahu, tak lagi aku milikmu adalah sebuah perkara besar,
begitu juga tentang kehilanganmu.
Kau harus mengerti,
kita tak akan lagi saling sentuh sapa.
Untuk melihatmu saja, aku harus mengandalkan kebetulan-kebetulan
yang diciptakan semesta, yang entah kapan
hingga hati meradang gegara rindu terpendam.

Tulus,
pamitmu palsu.
Dan menjadi teman baik diantara kita
hanya ilusi.

 

Lagu yang Mengantarku Kepada Seseorang

 

efc566e119cb230f9fb43d89eb319429
Foto: flickr.com

Apakah kau percaya bahwa sebuah lagu bisa mengantarkanmu kepada seseorang? Seorang teman laki-laki pernah bertanya tentang hal itu kepadaku dulu, dan aku tak pernah menyetujuinya. Bagiku, lagu ya lagu, hanya bisa didengar, dinyanyikan, dijadikan teman untuk menari, atau untuk mengantarkan kita kepada tidur yang nyenyak, bukan kepada seseorang.

Continue reading “Lagu yang Mengantarku Kepada Seseorang”