Sesederhana Itukah Vaksin MR di Posyandu?

Jam di ponsel menunjukkan pukul delapan pagi. Sesuai saran dokter dua bulan lalu, saya dan suami membawa Celil ke posyandu untuk suntik vaksin Campak (Measles) dan Rubella alias vaksin MR. Jarak antara rumah dan posyandu sangat dekat, kami sudah sampai dalam waktu kurang dari lima belas menit.

Saya mendapati situasi posyandu yang masih sepi anak-anak, baru ada tiga balita dan lima ibu petugas posyandu berpakaian merah muda. Celil merupakan peserta ketiga.

Karena biasa vaksin di rumah sakit, saya diminta untuk mengisi beberapa data di selembar kertas terlebih dahulu – bukan di buku khusus seperti yang sudah biasa ke posyandu – untuk membedakan bahwa anak saya adalah peserta baru.

Setelah itu, saya diminta untuk mengukur berat badan Celil sambil menunggu bidan yang akan memberikan vaksin. Seorang ibu petugas tampak sibuk mondar-mandir dengan ponsel di tangannya. Dia sempat berkata bahwa ibu bidan semestinya datang jam delapan, tapi ternyata telat.

Saya pun masih menunggu di dalam ruang posyandu yang sempit, yang juga semakin ramai dengan anak dan ibu. Selang sekitar empat puluh lima menit, ibu bidan sudah datang. Saya sebelumnya sudah sempat pulang sebentar untuk mengambil makanan, karena Celil sudah lapar.

Ibu bidan tiba persis di tengah sesi sarapan Celil di dalam posyandu. Akhirnya, kami melanjutkan makan di luar, di depan jendela posyandu yang terbuka. Sambil menggendong dan menyuapi Celil, saya memperhatikan situasi di dalam posyandu.

P_20170914_084657

Satu hal yang saya lihat yaitu proses vaksin ini kisruh. Riweuh kalau kata orang Sunda, teh. Peserta vaksin dipanggil tidak sesuai urutan kedatangan. Anak dengan ibu bekerja didahulukan. Mungkin niat para petugas itu baik, tetapi hal ini menimbulkan kerumunan tak keruan di depan ruang penyuntikan.

Di tengah kerumunan itu juga ada anak yang mendadak menangis karena takut disuntik. Saat namanya dipanggil dan diminta masuk, anak usia enam tahun ini semakin histeris. Tangannya menggenggam erat daun pintu.

Bukannya ditenangkan, tubuh anak ini justru ditarik paksa, entah oleh semua petugas atau oleh neneknya. Saya tidak memperhatikan. Saya hanya melihat kursi plastik biru – yang biasa ada di warung tenda – rubuh saat neneknya hendak memangkunya. Kemudian petugas mengelilingi dia. Mungkin, ketika itu, anak ini disuntik dengan paksa.

Peristiwa ini tentu menimbulkan kengerian di dalam diri anak-anak lain yang hendak vaksin. Celil yang merupakan peserta selanjutnya juga mendapatkan perlakuan yang mirip. Saat saya duduk di hadapan ibu bidan sambil menggendong Celil, seorang ibu berpakai kuning sudah siap berdiri di sisi kiri saya sambil memegang suntikan. Anak saya menangis. Tanpa ditenangkan terlebih dahulu, ibu berbaju kuning itu langsung menggenggam erat lengan tangan Celil, dan menyuntiknya.

Proses vaksin berlangsung dengan cepat, membuat saya tidak sempat berpikir atau berkata sesuatu. Seorang teman yang anaknya vaksin setelah Celil juga mengeluhkan hal yang sama.

Berbeda dengan rumah sakit, proses vaksin di posyandu – yang diberikan oleh petugas kesehatan dari puskesmas secara cuma-cuma – bahkan tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk berkonsultasi terlebih dahulu. Petugas kesehatan juga tidak bertanya tentang riwayat anak sebelumnya. Vaksin yang tampak membingungkan di mata saya, seperti kelihatan sederhana bagi mereka.

Padahal komunikasi dua arah sebelum vaksin sangat penting.  Sebab, setahu saya ada beberapa kondisi yang merupakan kontraindikasi vaksin MR, salah satunya demam tinggi. Kalau hal ini tidak ditanyakan terlebih dahulu kepada orang tua yang mungkin kebetulan minim pengetahuan tentang vaksin MR, dampak buruk pada anak bisa saja terjadi usai vaksin.

 

 

Advertisements

Bagaimana Rasanya Punya Anak?

Processed with VSCO with c1 preset

Sampai hari ini — setidaknya sampai tulisan ini dibuat — saya masih menerima pertanyaan itu dari beberapa teman. Jawaban saya kerap berubah-ubah. Kadang, saya menjawab senang. Namun pada kesempatan lain, saya spontan menjawab lelah.

Setelah saya pikir-pikir, kedua jawaban tersebut ada benarnya. Punya anak memang membuat hati senang. Namun membesarkannya sebaik yang saya dan Abang mau, butuh kerja keras yang tentu melelahkan. Kerja keras tersebut bermula dari masa hamil, kemudian melahirkan.

Masih segar di benak saya ingatan tentang bagaimana saya bersusah-payah menjalani hari keempat setelah melahirkan. Waktu itu adalah Senin, semua orang rumah sudah harus kembali bekerja, sehingga saya terpaksa sendirian di rumah dan mulai menjalankan peran sebagai ibu.

Menjalankan peran tersebut dengan kondisi tubuh yang belum benar-benar pulih usai operasi caesar sangat sulit. Terlebih, luka bekas operasi masih memberikan sensasi nyeri yang hebat di bagian perut bawah. Jadi untuk bangun dari tempat tidur, duduk, berdiri, berjalan, menyusui, dan memerah ASI, semua itu saya lakukan dengan sangat pelan, sambil menahan rasa sakit.

Beberapa hari kemudian, saya juga sempat mencoba mencuci pakaian Sheryl yang sudah menumpuk. Awalnya, saya sanggup, tetapi ketika sudah terlalu lama berdiri, kepala saya pening dan keringat menetes. Akhirnya, saya duduk sepanjang menyuci dan menjemur baju.

Waktu itu, saya pernah bilang kepada ibu untuk segera mempekerjakan seorang asisten rumah tangga. Namun ibu menjawab bahwa saya terlalu manja. Untuk apa ada asisten rumah tangga, toh saya kan masih cuti sampai tiga bulan. Begitulah kira-kira pemikiran ibu. Akhirnya, saya minta ditemani bulik (Bahasa Jawa dari kata “tante”) yang tinggal di dekat rumah.

Kehadiran bulik memang sangat membantu. Namun hal itu tetap tidak dapat menjauhkan saya dari satu masalah lain: Baby Blues Syndrome, yang datang dan pergi berulang kali sepanjang dua minggu pertama setelah melahirkan. Saya bisa tiba-tiba menangis saat menyusui, mandi, atau ketika hendak tidur, karena merasa belum siap atau tidak mampu menjadi seorang ibu.

Ditambah dengan jam tidur Sheryl belum teratur di bulan pertama setelah melahirkan. Jadi, saya terpaksa bangun tengah malam atau dini hari untuk menyusui Sheryl. Lagi-lagi, saya melakukan ini dengan kondisi tubuh yang belum sehat.

Kalau ingin dijabarkan satu per satu, rasanya masih banyak hal-hal melelahkan lainnya pasca-melahirkan yang terkadang menguras air mata dan amarah. Namun di balik semua rasa lelah itu, saya menemukan kebahagiaan yang jumlahlah dua kali lipat dari rasa lelah.

Saya bahagia karena saya dan Abang telah dimampukan dan dikuatkan melewati fase tersebut, sehingga tidak terasa Sheryl sudah berusia satu tahun.

Saya juga bahagia karena Sheryl yang awalnya adalah seorang bayi mungil yang saya tidak kenal, kini telah tumbuh menjadi seorang anak yang…

selalu teriak dan tunjuk tangan ke atas saat melihat cicak, selalu duduk dan tepuk tangan saat bangun tidur, selalu mencium dengan giginya saat saya minta dia mencium pipi saya, selalu bilang nyem nyem nyem saat minta minum, selalu meluncur saat merangkak, selalu joget saat mendengar lagu, selalu tersenyum saat main ci luk ba pakai selimut, selalu nangis kencang setiap tangannya kejepit atau kepalanya terantuk sedikit saja, dan masih banyak lagi polahnya yang menggemaskan sekaligus menyebalkan.

Saya sadar, kehadiran dia, yang sempat membuat saya lelah jiwa raga, ternyata telah memberikan kesempatan kepada saya untuk merasakan jatuh cinta lagi.

Kini, saya sangat bersyukur karena bisa mendampingi Sheryl meniup lilin ulang tahunnya yang pertama. Rasa lelah yang kemarin biarlah menjadi pelajaran yang membuat saya dan keluarga lebih tabah menghadapi kelelahan lain di kemudian hari. Dan, kalau ada orang lain yang bertanya lagi, bagaimana rasanya punya anak, jawaban saya mungkin akan masih sama. Senang dan lelah tetap satu paket.

631201719155
Selamat ulang tahun, Sheryl.

Chester Bennington dan Kita yang Sempat Ingin Bunuh Diri

675091390
istockphoto.com

Saya bukan penggemar Linkin Park, bukan pula pengagum Chester Bennington. Saya justru adalah orang yang sebal dengan lagu mereka karena gaduh. Namun setelah kabar Chester meninggal lantaran bunuh diri mulai ramai, saya baru mendengarkan Numb dan Heavy secara saksama.

Di dalam lagu itu, ternyata, saya menemukan diri saya sendiri yang pernah kelam.

Continue reading “Chester Bennington dan Kita yang Sempat Ingin Bunuh Diri”