Peluk

peluk-novel-ajeng-cover

Setiap manusia pernah jatuh ke titik terendah hidup, waktu yang membedakannya.

Haira mengalami itu semasa kuliah. Perpisahan, perjodohan, dan label anak durhaka dari orang tua membuat ia ingin menyudahi hidup.

Satu hal yang membuat ia bertahan adalah bayang-bayang Gama, laki-laki yang pernah ia cinta sekaligus benci. Continue reading “Peluk”

Gaji Wartawan Kecil, Ladang Belajarnya yang Besar

brooke-cagle-1181689-unsplash

Instagram Stories seorang teman menggelitik aku. Dia mengunggah foto mobil dengan teks di atasnya: “Kamu masih kemahalan kalau belinya pakai slip gaji wartawan. Nanti ya kalau toko rotinya sudah lima, aku ajak kamu pulang.”

Apakah sesulit itu memboyong Mazda 6 Elite Estate dengan upah wartawan?

Continue reading “Gaji Wartawan Kecil, Ladang Belajarnya yang Besar”

Untuk Segala Sesuatu di Bawah Langit Ada Waktunya

IMG_6766
Di sela-sela liputan gala premier film Asal Kau Bahagia, aku berfoto di Kapal Pesiar Genting Dream dari Singapura-Malaysia-Singapura, Jumat (21/12/2018).

Pengkhotbah bilang bahwa untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam.

Continue reading “Untuk Segala Sesuatu di Bawah Langit Ada Waktunya”

Bertahan dengan Dia yang Tak Mau Meluangkan Waktu

IMG_6357
Ilustrasi. (Foto: Birgitta Ajeng)

Kalau dia tidak pernah ada buat kamu, kenapa masih bertahan?

Kalau pertanyaan itu tiba-tiba dilemparkan di hadapan kamu, apa jawaban yang bakal kamu berikan? Belum lama ini, aku mengajukan pertanyaan itu di Instagram Stories. Dari 184 orang yang melihat, ada 10 yang menjawab.

Continue reading “Bertahan dengan Dia yang Tak Mau Meluangkan Waktu”

Review Novel Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat: Memaafkan Kegagalan Pernikahan Pertama

IMG_5081

Saya terlambat membaca novel karya Mira W. berjudul Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat. Saya baru menikmatinya setelah 36 tahun buku ini terbit. Ketertarikan bermula ketika trailer film Arini garapan sutradara Ismail Basbeth muncul pada April 2018. Continue reading “Review Novel Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat: Memaafkan Kegagalan Pernikahan Pertama”

Para Pemimpi Benar-Benar Tidak Pernah Bisa Dijinakkan

Sebuah email membuyarkan konsentrasi saya kemarin siang. Email tersebut datang dari salah satu penerbit yang berada di bawah perusahan penerbit besar. Kurang lebih, isi email itu adalah tentang pihak penerbit yang sudah menerima manuskrip novel saya, dan mereka menawarkan beberapa pilihan terkait penerbitannya.

Meski masih mempertimbangkan banyak hal terkait tawaran tersebut, perasaan senang terus berkembang di hati saya. Pengalaman ini juga membuat saya bersentuhan kembali dengan satu peristiwa di masa lalu.

Lo mau bikin novel, Jeng? Novel tentang apa? Pengalaman pribadi lo? Emang ada yang mau baca?

Demikian kata salah satu teman saya, ketika saya mengutarakan keinginan untuk menjadi penulis. Saya ingat sekali, saya masih kuliah waktu itu. Kami mengobrol di suatu tempat, dan saya tidak akan pernah lupa akan mimik wajahnya yang menyeringai, tanda meremehkan.

Saya juga tidak pernah bisa mengabaikan satu komentar dari seorang teman yang lain di media sosial dulu. Walaupun tidak ada hubungannya dengan peristiwa sebelumnya, komentar yang satu ini, entah mengapa, masih melekat di benak saya.

Jadi, ketika itu, saya mengunggah potret judul sebuah bab dari buku Aleph, Paulo Coelho, di Instagram. Ada tertulis begini: Para Pemimpi Tidak Pernah Bisa Dijinakkan.

Lantas, seorang teman yang lain itu berkomentar: Kalau tukang mimpi gimana, Jeng?

Entah mengapa, membaca kalimat itu membuat hati saya kelu. Saya tidak mampu menggerakkan ibu jari untuk memberikan tanggapan. Apakah ini karena kalimat itu semenyakitkan kata-kata seorang teman yang sebelumnya?

Barangkali, ya.

Dulu, saya sempat jatuh karena ucapan-ucapan itu. Saya pernah merasa tidak percaya diri dengan segala yang sudah saya kerjakan. Tapi, karena saya benar-benar suka menulis, suka mengutarakan segala sesuatu lewat tulisan, saya kembali menghadapi kertas putih dan merangkai kata.

Lima tahun, saya merampungkan manuskrip novel pertama saya. Kini, semua itu sudah berbuah—meski saya masih bimbang dan belum mengambil keputusan apa pun atas tawaran penerbit.

Tentu, lima tahun merupakan proses yang sangat lambat. Namun, di dalamnya ada pergulatan yang mendewasakan saya. Kalimat negatif kala itu kadang muncul saat saya mulai kepayahan sendiri. Saya harus berusaha keras meyakinkan diri sendiri bahwa saya mampu.

Dan, saat ini, saya sudah sampai di titik ini, titik di mana saya akan mengatakan kembali bahwa Para Pemimpi Benar-Benar Tidak Pernah Bisa Dijinakkan.

Surat Pemberitahuan: Dilan, Aku Mencintai Kamu Sore Ini

Dilan, aku bukan Milea, melainkan Ajeng. Aku adalah perempuan yang ingin mengenal kamu secara instan melalui film. Ketika aku tahu bahwa trailer film kamu sudah beredar, aku langsung menonton, dan aku langsung suka kamu, Dilan.

Continue reading “Surat Pemberitahuan: Dilan, Aku Mencintai Kamu Sore Ini”