Satu Puisi Menjadi Sebuah Lagu

Saya punya teman yang pandai membuat lagu. Dia adalah Maria Dewi Setyorini. Saya bertemu dia kali pertama di acara peluncuran buku kumpulan puisi seorang teman yang lain. Di situ, dia dan suaminya membuat musikalisasi puisi. Hasilnya, indah. Dari situ, saya kepingin.

Continue reading “Satu Puisi Menjadi Sebuah Lagu”

Advertisements

“Cappuccino Grande” dan Bab yang Dihapus

Processed with VSCO with b5 preset

Aku salah memesan minuman tadi. Kepada barista perempuan berkemeja hitam, aku meminta cappuccino panas ukuran grande. Aku sedang sangat lelah dan mengantuk lantaran pekerjaan yang menumpuk. Untuk bisa menjadi pendengar yang baik bagi kamu, laki-laki yang cerewet, aku merasa butuh kopi sebagai doping. Sedangkan kamu memesan cokelat panas dengan ukuran yang sama seperti cappuccino milikku.

Meski sudah memesan roti isi tuna untuk mencegah kembung dan menetralkan efek kopi, aku tetap terjaga hingga dini hari dan memikirkan kamu di sini. Jujur saja, melupakan pertemuan kita tadi malam menjadi hal yang paling sukar. Bagaimana tidak? Setelah lima tahun jembatan komunikasi kita hancur dan aku susah payah menghapus bab tentang kita, kamu hadir dengan segala hal yang belum pernah terungkapkan, malam itu.

“Kita mau ngobrol di mana?” kamu bertanya kepadaku sambil mengemudikan Honda HRV hitam.

Sophie Authentique masih ada?” kamu bertanya lagi sebelum aku sempat menjawab pertanyaanmu sebelumnya.

“Masih, tapi mahal.  Kita pergi ke tempat yang biasa-biasa saja,” jawabku.

“Iya, yang biasa apa? Warkop dekat masjid?”

Aku tertawa.

“Kita minum kopi saja di Seriously, kafe dekat sini,” kataku.

“Seru ya, kamu masih humble.”

Setelah tiba dan memegang pesanan masing-masing, kita menaiki tangga menuju lantai dua. Kita memilih duduk di sofa abu-abu di sudut ruangan. Meski ramai, suhu ruangan terasa sangat dingin. Mungkin karena sore sebelum malam itu mendung. Jadi, aku langsung duduk dan segera menyesap kopi untuk menghangatkan tubuh. Sementara kamu mengambil cukup banyak tisu di meja dekat tangga terlebih dahulu.

“Banyak banget,” aku berkata untuk memecah keheningan di antara kita seraya melirik genggaman tanganmu yang penuh tisu.

“Iya, sudah kebiasaan,” ucapmu sembari duduk di hadapanku. Di tengah kita ada meja kayu berbentuk bundar.

Aku mengangguk.

“Sekarang saya pakai kacamata, Gendis. Ini punya opa, coba lihat deh,” katamu sambil menyodorkan kacamata cokelat itu.

“Sejak kapan mata kamu minus, Pras?” kataku sambil memegang kacamata itu.

“Coba lihat dulu. Bagus, kan?”

“Keren. Lebih kelihatan seperti kacamata gaya, bukan minus,” jawabku sambil mengembalikannya kepadamu.

“Ini kacamata minus. Tapi saya copot aja, karena kamu lebih terbiasa melihat saya seperti ini.”

“Terserah.”

Kemudian, kamu melipat gagang kacamata itu  dan meletakkannya di atas tumpukan tisu yang tidak terlalu tinggi.

“Oke, sekarang, kamu bisa tanya apa aja ke saya.”

“Akhirnya, kita ngobrol lagi,” ucapku singkat.

Kamu pun tertawa, seperti habis mendengar sebuah sindiran.

“Iya. Saya sadar bahwa manusia diberi jeda untuk menjadi dewasa.”

“Iya,” aku menjawab tanpa basa-basi dengan tatapan tetap tertuju kepadamu.

“Ngomong-ngomong, tatapan mata kamu tidak berubah. Masih sama seperti dulu.”

Aku tidak memberi tanggapan atas kalimat itu.

“Gendis, kamu masih ingat Ibu di Bogor?”

“Masih.”

“Satu jam yang lalu, beliau telepon dan menanyakan kabar kamu. Dia mau tau, apakah kamu sudah jadi penulis? Kalau kamu mau jawab, saya telepon Ibu nanti malam.”

“Mohon doanya, Bu. Saya sedang proses nulis buku.”

“Saya sampaikan nanti, ya. Saya juga tidak tahu, kelihatannya beliau terkesan sama kamu waktu itu. Padahal, kalian cuma sempat ngobrol sebentar. Kamu lembut, santun, dan ramah, mungkin juga karena sama-sama Jawa,” katamu.

Aku tersenyum, kemudian menyesap kopi.

“Saya juga masih sayang kamu, Gendis.”

Kali pertama, kalimat itu keluar dari bibirmu. Aku membisu sambil berusaha menebak arah pembicaraanmu selanjutnya.

“Waktu itu, saya meninggalkan kamu, karena emosi kamu benar-benar tidak stabil. Sekarang saya sadar bahwa meninggalkan kamu adalah sebuah kesalahan di dalam hidup saya.”

Aku terpaku. Aku tidak menyangka kamu akan membicarakan tentang perasaan pada pertemuan pertama kita, setelah menahun tidak berjumpa dan bersapa. Kamu mengungkapkan semua dengan lantang dan berani. Sementara aku masih menyimpan kelu. Aku masih meraba setiap kata yang telah dan akan keluar dari bibirmu. Aku khawatir segalanya lagi-lagi adalah sebuah kebohongan.

“Kalau boleh tahu, perasaan kamu ke saya seperti apa? Dari satu sampai sepuluh, atau mungkin sebelas, berapa nilai perasaan kamu untuk saya?”

Pertanyaan kamu sangat sulit. Aku langsung diserang bingung. Aku berusaha keras memilih dan merangkai kalimat dengan tepat.

“Saya tidak tahu perasaan saya seperti apa ke kamu dulu,” ujarku pelan, “setelah menjalin pertemanan yang cukup intens sama kamu, saya merasa takut. Saya takut diabaikan.”

“Maksudnya?”

“Awalnya, saya senang berteman dengan kamu. Selalu ikut kamu pergi, tahu tempat kamu dibesarkan, dan mengenal Ibu adalah pengalaman yang sangat berkesan. Namun setelah semua menjadi semakin intens, kamu seperti menjaga jarak. Ada satu titik ketika saya benar-benar sakit hati karena kamu. Waktu itu, kamu pernah menjadikan saya sebagai bahan taruhan. Ketika pergi bersama teman-teman yang lain, kamu lebih meminjamkan jaket kepada dia ketimbang saya. Kamu juga tidak menolong ketika saya jatuh. Hatimu terlalu keras. Saya takut, sampai-sampai saya pergi dan berusaha menghapus bab tentang kita.”

“Saya minta maaf. Saya yang dulu tidak pandai mengutarakan perasaan.”

It’s okay.

“Semoga setelah ini kita masih bisa ngobrol ya.”

“Iya.”

Setelah cukup berani bicara tentang hati, kamu mulai membahas perihal kesibukan dan hal menarik lainnya. Kamu tetap laki-laki yang ceria dan terbuka. Meski demikian, aku melihat ada beberapa perubahan pada diri kamu. Ya. Kamu tidak lagi bicara dengan menggebu-gebu disertai kening berkerut. Dan, satu transformasi cukup besar yang aku temukan yaitu kamu rendah hati. Kamu mau mengucapkan maaf. Aku senang dengan kamu yang sekarang. Aku senang bisa bercakap-cakap kembali dengan kamu. Semoga kamu selalu bahagia.

*bersambung*

Puas Potong Rambut di Dido Salon Dekat Kemang

Processed with VSCO with c1 preset
Rambut baru untuk menyongsong tahun baru. Hasil karya Mas Joko di Dido Salon.

Ribet. Ya. Saya memang pribadi yang ribet, apalagi kalau sudah urusan potong rambut. Saya sadar bahwa saya punya bentuk wajah yang… sebut saja unik. Jadi, saya merasa membutuhkan kapster bertangan dingin, supaya wajah tampak agak tirus dengan potongan rambut baru.

Continue reading “Puas Potong Rambut di Dido Salon Dekat Kemang”

“Reputation” adalah Cara Taylor Swift Melawan Perisak

10142017173937
Foto: dok. Birgitta Ajeng

Seorang psikolog pernah berkata tentang perisakan (bullying) kepada teman saya di media sosial. Dia bilang, perisak harus mendapatkan teriakan balik dengan tujuan bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk mendidik perisak. Dan menurut saya, Reputation, album baru Taylor Swift, sejalan dengan ucapan psikolog itu.

Continue reading ““Reputation” adalah Cara Taylor Swift Melawan Perisak”

Sesederhana Itukah Vaksin MR di Posyandu?

Jam di ponsel menunjukkan pukul delapan pagi. Sesuai saran dokter dua bulan lalu, saya dan suami membawa Celil ke posyandu untuk suntik vaksin Campak (Measles) dan Rubella alias vaksin MR. Jarak antara rumah dan posyandu sangat dekat, kami sudah sampai dalam waktu kurang dari lima belas menit.

Saya mendapati situasi posyandu yang masih sepi anak-anak, baru ada tiga balita dan lima ibu petugas posyandu berpakaian merah muda. Celil merupakan peserta ketiga.

Karena biasa vaksin di rumah sakit, saya diminta untuk mengisi beberapa data di selembar kertas terlebih dahulu – bukan di buku khusus seperti yang sudah biasa ke posyandu – untuk membedakan bahwa anak saya adalah peserta baru.

Setelah itu, saya diminta untuk mengukur berat badan Celil sambil menunggu bidan yang akan memberikan vaksin. Seorang ibu petugas tampak sibuk mondar-mandir dengan ponsel di tangannya. Dia sempat berkata bahwa ibu bidan semestinya datang jam delapan, tapi ternyata telat.

Saya pun masih menunggu di dalam ruang posyandu yang sempit, yang juga semakin ramai dengan anak dan ibu. Selang sekitar empat puluh lima menit, ibu bidan sudah datang. Saya sebelumnya sudah sempat pulang sebentar untuk mengambil makanan, karena Celil sudah lapar.

Ibu bidan tiba persis di tengah sesi sarapan Celil di dalam posyandu. Akhirnya, kami melanjutkan makan di luar, di depan jendela posyandu yang terbuka. Sambil menggendong dan menyuapi Celil, saya memperhatikan situasi di dalam posyandu.

P_20170914_084657

Satu hal yang saya lihat yaitu proses vaksin ini kisruh. Riweuh kalau kata orang Sunda, teh. Peserta vaksin dipanggil tidak sesuai urutan kedatangan. Anak dengan ibu bekerja didahulukan. Mungkin niat para petugas itu baik, tetapi hal ini menimbulkan kerumunan tak keruan di depan ruang penyuntikan.

Di tengah kerumunan itu juga ada anak yang mendadak menangis karena takut disuntik. Saat namanya dipanggil dan diminta masuk, anak usia enam tahun ini semakin histeris. Tangannya menggenggam erat daun pintu.

Bukannya ditenangkan, tubuh anak ini justru ditarik paksa, entah oleh semua petugas atau oleh neneknya. Saya tidak memperhatikan. Saya hanya melihat kursi plastik biru – yang biasa ada di warung tenda – rubuh saat neneknya hendak memangkunya. Kemudian petugas mengelilingi dia. Mungkin, ketika itu, anak ini disuntik dengan paksa.

Peristiwa ini tentu menimbulkan kengerian di dalam diri anak-anak lain yang hendak vaksin. Celil yang merupakan peserta selanjutnya juga mendapatkan perlakuan yang mirip. Saat saya duduk di hadapan ibu bidan sambil menggendong Celil, seorang ibu berpakai kuning sudah siap berdiri di sisi kiri saya sambil memegang suntikan. Anak saya menangis. Tanpa ditenangkan terlebih dahulu, ibu berbaju kuning itu langsung menggenggam erat lengan tangan Celil, dan menyuntiknya.

Proses vaksin berlangsung dengan cepat, membuat saya tidak sempat berpikir atau berkata sesuatu. Seorang teman yang anaknya vaksin setelah Celil juga mengeluhkan hal yang sama.

Berbeda dengan rumah sakit, proses vaksin di posyandu – yang diberikan oleh petugas kesehatan dari puskesmas secara cuma-cuma – bahkan tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk berkonsultasi terlebih dahulu. Petugas kesehatan juga tidak bertanya tentang riwayat anak sebelumnya. Vaksin yang tampak membingungkan di mata saya, seperti kelihatan sederhana bagi mereka.

Padahal komunikasi dua arah sebelum vaksin sangat penting.  Sebab, setahu saya ada beberapa kondisi yang merupakan kontraindikasi vaksin MR, salah satunya demam tinggi. Kalau hal ini tidak ditanyakan terlebih dahulu kepada orang tua yang mungkin kebetulan minim pengetahuan tentang vaksin MR, dampak buruk pada anak bisa saja terjadi usai vaksin.

 

 

Teman Perempuan Hebat

Saya punya banyak teman perempuan, tetapi hanya satu yang istimewa. Saat bertemu dengan dia, saya tidak menemukan kalimat cibiran di tengah obrolan kami. Tidak ada pula gosip perihal teman ini, teman itu, artis ini, atau artis itu. Fokus perhatian dia hanya tertuju kepada saya, apa saja yang harus saya lakukan supaya dapat menjadi istri sekaligus ibu yang tetap berkarya.

Pertemuan kami waktu itu bermula dari saya yang sedang merasa tidak berguna karena telah lama tidak menulis — gara-gara keseringan mengedit tulisan di kantor. Perasaan tersebut mendorong saya untuk bertanya sesuatu kepada dia pagi hari via Messenger Facebook.

Lice, lo masih berlangganan Spirit Woman (renungan harian untuk pembaca Kristen)? Kalau iya, gue mau minta tolong kirimin foto tulisan di Spirit Woman. Gue pingin kirim tulisan ke sana, tapi pingin tahu dulu gaya penulisan mereka seperti apa.

Dia baru menjawab sore hari.

Gue kasih aja nih renungannya, mau? Gue emang ngasih ke orang-orang, kok, Jeng, biar lo bisa baca juga. Yang Agustus nih kalau mau ambil ya.

Saya langsung menjawab.

Difotoin aja nggak apa-apa, Lice. Tapi nanti aja kalau lo udah ada waktu luang. Makasih ya, Lice. Maaf ya ngerepotin.

Hahahaha.. nggak ngerepotin, Jeng. Seneng gue denger lo mau nulis buat renungan harian lagi,” tulisnya.

Eh tapi komentar lo gitu sih. Gue jadi kesindir nih karena udah lama nggak nulis renungan.

Hahahaha. Kan lo nulis buat sekuler, Jeng. Nulis buat renungan kan harus panggilan, kalau nggak mah nggak bisa,” kata dia.

Akhirnya, beberapa hari setelah percakapan virtual itu, kami bertatap muka sepulang kerja, di sebuah pusat jajanan, di Depok. Pembukaan percakapan kami berbeda dengan dulu, tidak ada basa-basi tentang pacar. Dia malah mencecar saya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pekerjaan. Saya juga cerita tentang perasaan tidak berguna saya tadi.

Setelah cukup banyak cerita, dia akhirnya menyarankan saya untuk menulis kembali dan mencari passive income.

“Kita nggak tahu ya apa yang akan terjadi di depan. Jadi, mulai sekarang lo nulis dan cari passive income untuk mendukung keuangan keluarga lo. Kalau lo memang mau jadi penulis, lo harus punya portofolio. Pertama-tama, lo harus mulai nulis untuk Spirit Woman, lalu nulis blog tapi jangan terlalu serius dan bukan puisi atau cerpen. Gue saranin lo nulis tentang family. Terus, lo harus nerbitin buku.”

Target yang dia berikan cukup banyak. Di mata dia seakan tidak ada tembok besar – yang selama ini tampak di mata saya – yang menjadi penghalang antara perempuan, menikah, dan mengejar karier atau cita-cita.

Dan entah mengapa, setelah pertemuan itu, satu atau dua proyek menulis kecil-kecilan datang kepada saya. Mungkin semesta memang sedang bekerja sama untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya (?)

Melalui tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada dia, seorang teman perempuan hebat, yaitu Alicia Van Akker. Setelah berjumpa dengan dia, hidup saya kembali optimis dan penuh target, hehehe.

Processed with VSCO with m5 preset
Nah, ini foto orangnya. Dia juga kasih tahu gue metode menabung dia yaitu setiap ada uang kertas recehan yang masih mulus, dia langsung tabung.

 

 

 

 

 

Bagaimana Rasanya Punya Anak?

Processed with VSCO with c1 preset

Sampai hari ini — setidaknya sampai tulisan ini dibuat — saya masih menerima pertanyaan itu dari beberapa teman. Jawaban saya kerap berubah-ubah. Kadang, saya menjawab senang. Namun pada kesempatan lain, saya spontan menjawab lelah.

Setelah saya pikir-pikir, kedua jawaban tersebut ada benarnya. Punya anak memang membuat hati senang. Namun membesarkannya sebaik yang saya dan Abang mau, butuh kerja keras yang tentu melelahkan. Kerja keras tersebut bermula dari masa hamil, kemudian melahirkan.

Masih segar di benak saya ingatan tentang bagaimana saya bersusah-payah menjalani hari keempat setelah melahirkan. Waktu itu adalah Senin, semua orang rumah sudah harus kembali bekerja, sehingga saya terpaksa sendirian di rumah dan mulai menjalankan peran sebagai ibu.

Menjalankan peran tersebut dengan kondisi tubuh yang belum benar-benar pulih usai operasi caesar sangat sulit. Terlebih, luka bekas operasi masih memberikan sensasi nyeri yang hebat di bagian perut bawah. Jadi untuk bangun dari tempat tidur, duduk, berdiri, berjalan, menyusui, dan memerah ASI, semua itu saya lakukan dengan sangat pelan, sambil menahan rasa sakit.

Beberapa hari kemudian, saya juga sempat mencoba mencuci pakaian Sheryl yang sudah menumpuk. Awalnya, saya sanggup, tetapi ketika sudah terlalu lama berdiri, kepala saya pening dan keringat menetes. Akhirnya, saya duduk sepanjang menyuci dan menjemur baju.

Waktu itu, saya pernah bilang kepada ibu untuk segera mempekerjakan seorang asisten rumah tangga. Namun ibu menjawab bahwa saya terlalu manja. Untuk apa ada asisten rumah tangga, toh saya kan masih cuti sampai tiga bulan. Begitulah kira-kira pemikiran ibu. Akhirnya, saya minta ditemani bulik (Bahasa Jawa dari kata “tante”) yang tinggal di dekat rumah.

Kehadiran bulik memang sangat membantu. Namun hal itu tetap tidak dapat menjauhkan saya dari satu masalah lain: Baby Blues Syndrome, yang datang dan pergi berulang kali sepanjang dua minggu pertama setelah melahirkan. Saya bisa tiba-tiba menangis saat menyusui, mandi, atau ketika hendak tidur, karena merasa belum siap atau tidak mampu menjadi seorang ibu.

Ditambah dengan jam tidur Sheryl belum teratur di bulan pertama setelah melahirkan. Jadi, saya terpaksa bangun tengah malam atau dini hari untuk menyusui Sheryl. Lagi-lagi, saya melakukan ini dengan kondisi tubuh yang belum sehat.

Kalau ingin dijabarkan satu per satu, rasanya masih banyak hal-hal melelahkan lainnya pasca-melahirkan yang terkadang menguras air mata dan amarah. Namun di balik semua rasa lelah itu, saya menemukan kebahagiaan yang jumlahlah dua kali lipat dari rasa lelah.

Saya bahagia karena saya dan Abang telah dimampukan dan dikuatkan melewati fase tersebut, sehingga tidak terasa Sheryl sudah berusia satu tahun.

Saya juga bahagia karena Sheryl yang awalnya adalah seorang bayi mungil yang saya tidak kenal, kini telah tumbuh menjadi seorang anak yang…

selalu teriak dan tunjuk tangan ke atas saat melihat cicak, selalu duduk dan tepuk tangan saat bangun tidur, selalu mencium dengan giginya saat saya minta dia mencium pipi saya, selalu bilang nyem nyem nyem saat minta minum, selalu meluncur saat merangkak, selalu joget saat mendengar lagu, selalu tersenyum saat main ci luk ba pakai selimut, selalu nangis kencang setiap tangannya kejepit atau kepalanya terantuk sedikit saja, dan masih banyak lagi polahnya yang menggemaskan sekaligus menyebalkan.

Saya sadar, kehadiran dia, yang sempat membuat saya lelah jiwa raga, ternyata telah memberikan kesempatan kepada saya untuk merasakan jatuh cinta lagi.

Kini, saya sangat bersyukur karena bisa mendampingi Sheryl meniup lilin ulang tahunnya yang pertama. Rasa lelah yang kemarin biarlah menjadi pelajaran yang membuat saya dan keluarga lebih tabah menghadapi kelelahan lain di kemudian hari. Dan, kalau ada orang lain yang bertanya lagi, bagaimana rasanya punya anak, jawaban saya mungkin akan masih sama. Senang dan lelah tetap satu paket.

631201719155
Selamat ulang tahun, Sheryl.

Chester Bennington dan Kita yang Sempat Ingin Bunuh Diri

675091390
istockphoto.com

Saya bukan penggemar Linkin Park, bukan pula pengagum Chester Bennington. Saya justru adalah orang yang sebal dengan lagu mereka karena gaduh. Namun setelah kabar Chester meninggal lantaran bunuh diri mulai ramai, saya baru mendengarkan Numb dan Heavy secara saksama.

Di dalam lagu itu, ternyata, saya menemukan diri saya sendiri yang pernah kelam.

Continue reading “Chester Bennington dan Kita yang Sempat Ingin Bunuh Diri”