Selama ini, kebanyakan orang mungkin hanya mengenal metode IVF konvensional, di mana pasien diberikan stimulasi hormon dalam dosis tinggi untuk merangsang ovarium menghasilkan banyak sel telur.
Metode ini memang meningkatkan peluang keberhasilan, tetapi juga memiliki risiko efek samping, seperti sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS), ketidaknyamanan akibat banyaknya suntikan, serta biaya yang lebih besar.
Namun, ada juga metode yang lebih alami, minim risiko, dan tetap efektif dalam meningkatkan peluang kehamilan, yakni mild stimulation IVF. Apa itu mild stimulation IVF dan bagaimana tahapan metode ini? Yuk, kita kenalan lebih lanjut.
Apa Itu Mild Stimulation IVF?
Nah, di sinilah mild stimulation IVF menjadi alternatif yang lebih nyaman. Metode ini tetap menggunakan obat hormon, tetapi dalam dosis lebih rendah, sehingga lebih alami, mengurangi risiko efek samping, dan lebih ramah bagi tubuh.
Menurut dr. Muhammad Dwi Priangga, Sp. OG, Subsp.FER, Direktur PT Kato Ojin Group, metode ini lebih lembut bagi tubuh dan tetap memberikan peluang keberhasilan tinggi. “Dengan stimulasi yang lebih ringan, sel telur yang dihasilkan cenderung lebih sehat dan lebih siap untuk implantasi. Selain itu, metode ini mengurangi risiko keguguran, kelahiran prematur, hingga pre-eklampsia,” jelasnya.
Tak hanya itu, dibandingkan dengan metode konvensional, mild stimulation IVF lebih hemat biaya karena penggunaan obat yang lebih sedikit dan tidak memerlukan terlalu banyak intervensi medis. Artinya, pasien bisa mencoba program IVF lebih sering dalam waktu yang lebih singkat, meningkatkan peluang keberhasilan tanpa harus melalui prosedur yang berat.
Tahapan Program Mild Stimulation IVF
![]() |
Ilustrasi. (Foto: Freepik) |
Menurut dr. Eko Santoso, SpOG, tidak ada batasan usia khusus untuk menjalani program ini, asalkan pasien masih berada dalam usia produktif dan memiliki cadangan sel telur yang cukup. Justru, metode ini sangat cocok bagi pasien yang memiliki cadangan sel telur rendah atau ingin menghindari penggunaan obat hormon dalam jumlah besar.
Namun, jika cadangan sel telur sudah benar-benar habis atau pasien sudah memasuki masa menopause, metode ini tidak bisa lagi dilakukan. Oleh karena itu, konsultasi awal dengan dokter fertilitas sangat penting untuk menentukan program yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Sebelum memulai program IVF dengan stimulasi ringan, ada tahapan persiapan yang berlangsung sekitar satu siklus haid. Selama periode ini, pasien akan menjalani drug-free follow-up untuk melihat kondisi kesuburan dan persiapan lainnya.
Selain aspek medis, menjaga kesehatan fisik dan mental selama program IVF juga sangat penting. Pasien dianjurkan untuk menerapkan gaya hidup sehat, seperti:
- Konsumsi makanan bergizi tinggi yang mendukung kesuburan.
- Tidur cukup dan mengelola stres dengan baik.
- Berolahraga secara rutin tanpa berlebihan.
- Mendapatkan dukungan emosional dari pasangan dan keluarga.
“Dukungan dari pasangan dan keluarga juga berperan besar dalam keberhasilan IVF. Pilihlah waktu yang tepat untuk menjalani program ini, misalnya tidak dalam kondisi pekerjaan yang sangat sibuk atau dalam situasi keluarga yang kurang stabil,” tambah Eko.
KOIC: Klinik Fertilitas untuk Mild Stimulation IVF
Dengan pendekatan yang lebih alami dan minim risiko, KOIC membantu pasien bukan hanya untuk hamil, tetapi juga menjalani kehamilan yang sehat hingga persalinan. Bahkan, tingkat keberhasilan KOIC mencapai 62,5 persen, jauh di atas rata-rata keberhasilan IVF di Indonesia yang berkisar 30-40 persen.
Bagi kalian yang sedang mempertimbangkan program bayi tabung, mungkin mild stimulation IVF bisa menjadi pilihan terbaik. Dengan metode yang lebih alami, minim risiko, dan lebih hemat biaya, perjalanan menuju dua garis biru bisa jadi lebih nyaman. Jangan lupa, selalu konsultasikan dengan dokter spesialis fertilitas untuk mendapatkan rekomendasi terbaik sesuai kondisi tubuh kalian.