Mencintai Diri Sendiri

IMG_5186

saya sedang menyukai konsep mencintai diri sendiri. kali pertama memahami konsep ini saat menonton drama Korea It’s Okay, That’s Love. Continue reading “Mencintai Diri Sendiri”

Advertisements

Takut Saat Menulis

photo-1456324504439-367cee3b3c32
Ilustrasi/Unsplash

Ketika hendak menulis, saya sering berhadapan dengan rasa takut. Contohnya, saat saya menulis tentang kontrasepsi untuk Magdalene. Ide dasar tulisan itu berasal dari pengalaman pribadi, yang kemudian berkembang menjadi sebuah pertanyaan.

Continue reading “Takut Saat Menulis”

Dalam Menulis, Jujur Atas Ketidakwarasan Seperti Yayoi Kusama adalah Kunci

IMG_5161
(Aku di antara lukisan karya Yayoi Kusama/Insaf Albert Tarigan)

Beberapa teman pernah bertanya kepada aku tentang cara menulis. Ada pula yang bertanya lebih spesifik tentang bagaimana cara supaya bisa menulis seperti aku. “Pakai hati,” jawabku kepada seorang teman yang mengajukan pertanyaan spesifik itu beberapa hari lalu.

Continue reading “Dalam Menulis, Jujur Atas Ketidakwarasan Seperti Yayoi Kusama adalah Kunci”

Para Pemimpi Benar-Benar Tidak Pernah Bisa Dijinakkan

Sebuah email membuyarkan konsentrasi saya kemarin siang. Email tersebut datang dari salah satu penerbit yang berada di bawah perusahan penerbit besar. Kurang lebih, isi email itu adalah tentang pihak penerbit yang sudah menerima manuskrip novel saya, dan mereka menawarkan beberapa pilihan terkait penerbitannya.

Meski masih mempertimbangkan banyak hal terkait tawaran tersebut, perasaan senang terus berkembang di hati saya. Pengalaman ini juga membuat saya bersentuhan kembali dengan satu peristiwa di masa lalu.

Lo mau bikin novel, Jeng? Novel tentang apa? Pengalaman pribadi lo? Emang ada yang mau baca?

Demikian kata salah satu teman saya, ketika saya mengutarakan keinginan untuk menjadi penulis. Saya ingat sekali, saya masih kuliah waktu itu. Kami mengobrol di suatu tempat, dan saya tidak akan pernah lupa akan mimik wajahnya yang menyeringai, tanda meremehkan.

Saya juga tidak pernah bisa mengabaikan satu komentar dari seorang teman yang lain di media sosial dulu. Walaupun tidak ada hubungannya dengan peristiwa sebelumnya, komentar yang satu ini, entah mengapa, masih melekat di benak saya.

Jadi, ketika itu, saya mengunggah potret judul sebuah bab dari buku Aleph, Paulo Coelho, di Instagram. Ada tertulis begini: Para Pemimpi Tidak Pernah Bisa Dijinakkan.

Lantas, seorang teman yang lain itu berkomentar: Kalau tukang mimpi gimana, Jeng?

Entah mengapa, membaca kalimat itu membuat hati saya kelu. Saya tidak mampu menggerakkan ibu jari untuk memberikan tanggapan. Apakah ini karena kalimat itu semenyakitkan kata-kata seorang teman yang sebelumnya?

Barangkali, ya.

Dulu, saya sempat jatuh karena ucapan-ucapan itu. Saya pernah merasa tidak percaya diri dengan segala yang sudah saya kerjakan. Tapi, karena saya benar-benar suka menulis, suka mengutarakan segala sesuatu lewat tulisan, saya kembali menghadapi kertas putih dan merangkai kata.

Lima tahun, saya merampungkan manuskrip novel pertama saya. Kini, semua itu sudah berbuah—meski saya masih bimbang dan belum mengambil keputusan apa pun atas tawaran penerbit.

Tentu, lima tahun merupakan proses yang sangat lambat. Namun, di dalamnya ada pergulatan yang mendewasakan saya. Kalimat negatif kala itu kadang muncul saat saya mulai kepayahan sendiri. Saya harus berusaha keras meyakinkan diri sendiri bahwa saya mampu.

Dan, saat ini, saya sudah sampai di titik ini, titik di mana saya akan mengatakan kembali bahwa Para Pemimpi Benar-Benar Tidak Pernah Bisa Dijinakkan.

Lebih Asyik Mana, Popolo Coffee Bogor atau Sentul?

image1
Cappuccino di Popolo Coffee Bogor. Porsi yang pas untuk perut yang sensitif terhadap kopi.

Saat sedang penat dengan Jakarta, saya selalu melarikan diri ke Bogor. Beberapa tempat makan di sini menyajikan menu yang nikmat di lidah, sekaligus interior yang sedap di mata. Popolo Coffee Bogor merupakan salah satunya.

Continue reading “Lebih Asyik Mana, Popolo Coffee Bogor atau Sentul?”

Surat Pemberitahuan: Dilan, Aku Mencintai Kamu Sore Ini

Dilan, aku bukan Milea, melainkan Ajeng. Aku adalah perempuan yang ingin mengenal kamu secara instan melalui film. Ketika aku tahu bahwa trailer film kamu sudah beredar, aku langsung menonton, dan aku langsung suka kamu, Dilan.

Continue reading “Surat Pemberitahuan: Dilan, Aku Mencintai Kamu Sore Ini”

Empat Jam Sebelum Hari Ulang Tahunmu

Untuk segala sesuatu yang sudah tamat, semestinya tidak ada kata ‘bersambung’. Kita pun seharusnya demikian. Untuk hubungan yang sudah selesai, semestinya tidak tidak ada lagi pertemuan. Namun mengapa kita lagi-lagi melanggar rumus itu dan meluangkan waktu bersama di Kopibar?

Continue reading “Empat Jam Sebelum Hari Ulang Tahunmu”

Satu Puisi Menjadi Sebuah Lagu

Saya punya teman yang pandai membuat lagu. Dia adalah Maria Dewi Setyorini. Saya bertemu dia kali pertama di acara peluncuran buku kumpulan puisi seorang teman yang lain. Di situ, dia dan suaminya membuat musikalisasi puisi. Hasilnya, indah. Dari situ, saya kepingin.

Continue reading “Satu Puisi Menjadi Sebuah Lagu”