Berdaya dalam Belajar: Pilih Mentor yang Sudah Berdamai dengan Diri Sendiri
Setelah bertemu dengan beberapa mentor dan menyimak konten para coach, aku mulai menyadari ada perbedaan dalam cara mereka membimbing.
Ada mentor atau coach yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Salah satu ciri utamanya adalah dia memiliki detachment dengan mentee secara alami. Dia bisa tetap mendampingi tanpa merasa perlu mengendalikan.
Terlepas mentor atau coach itu sadar atau nggak dengan detachment itu, ada rasa percaya dalam dirinya bahwa setiap orang—termasuk mentee—punya perjalanan hidup dan pembelajaran masing-masing. Perannya sebagai mentor atau coach adalah mendukung dan membimbing, bukan mengambil alih keputusan.
Karena itu, yang ia bagikan lebih banyak seputar hal-hal yang benar-benar bermanfaat, baik untuk pengembangan diri maupun profesionalisme. Tidak ada ambisi tersembunyi untuk mencari keuntungan, baik secara materi, ketenaran, maupun pengaruh.
Sebaliknya, ada juga mentor atau coach yang masih bergulat dengan dirinya sendiri. Biasanya, mereka lebih cenderung mengontrol, memberikan arahan berdasarkan keinginan pribadi, bukan berdasarkan kebutuhan mentee.
Kadang, saran yang mereka berikan bukan murni untuk kepentingan mentee, tapi lebih sebagai refleksi dari luka atau trauma yang belum selesai.
![]() |
Ilustrasi. (Foto: Freepik) |
Misalnya, seorang coach yang sangat ambisius mungkin akan mendorong mentee untuk terus mengejar target, meskipun mentee tersebut sebenarnya lebih nyaman dengan pendekatan yang lebih hati-hati dalam mengambil keputusan. Alih-alih memahami, mentor atau coach seperti ini bisa saja melabeli mentee sebagai "kurang usaha" atau "pemalas".
Ada pula yang merasa keberhasilan mentee adalah cerminan dirinya, sampai muncul kalimat seperti: "Dia bisa sampai di titik ini karena aku. Tanpa aku, dia gak akan berhasil."
Tentu, tulisan ini bukan tentang menghakimi mentor atau coach yang masih dalam proses penyembuhan. Setiap orang punya luka dan tantangan hidupnya sediri.
Coach yang aku anggap sudah selesai dirinya sendiri pun juga pernah mengalami turbulensi dalam hidupnya. Namun, yang membedakannya adalah ia tidak menjadikan mentoring sebagai tujuan utama sejak awal.
Perjalanan kariernya sebagai coach justru dimulai setelah ia memperbaiki diri, lalu menceritakan nasil pembelajarannya di blog atau media sosial—dan dari situlah kesempatan untuk membimbing orang lain datang secara alami.
Seperti yang pernah disampaikan oleh coach aku dalam diskusi personal di antara kami, "Nah, coach yang lain kadang kulihat, mereka belum selesai sama diri lalu ingin ngajarin orang lain. Niatnya langsung jadi coach, padahal kalau international coach yang aku ikuti, kayak Lenka Lutonska sama April Mason, mereka menyelesaikan masa lalu pahit mereka, bikin buku atau bisnis, baru mereka ngajarin orang, energinya beda.”
Jadi, tulisan ini bukan untuk menilai siapa yang lebih baik, melainkan sebagai pengingat bagi kita—para pembelajar—agar tetap berdaya dalam perjalanan mencari ilmu.
Ketika belajar dari seorang mentor atau coach, kita tetap perlu aktif dan kritis dalam menerima masukan. Karena pada akhirnya, keputusan atas hidup kita tetap ada di tangan kita sendiri.
0 Comments