Bukan Hoki, Tapi Kegigihan yang Membuka Pintu Kesempatan Mewujudkan Mimpi


Dalam setiap sesi bagi-bagi doorprize di acara komunitas atau organisasi tertentu, kita pasti ketemu orang yang namanya sering dipanggil ke panggung untuk menerima hadiah. Bingkisan demi bingkisan dia bawa pulang, sementara kita yang duduk di kursi cuma bisa tepuk tangan sambil bergumam, “Dia emang selalu hoki.”


Ucapan itu sering keluar begitu saja, seolah-olah keberuntungan adalah sesuatu yang jatuh dari langit dan cuma milik orang-orang tertentu. Tapi gimana dengan mereka yang dicap 'gak hoki'? Apa artinya mereka gak akan bisa dapat apa-apa dalam hidup?


Sebelum menjawab pertanyaan itu, aku ingin berbagi pengalaman saat menghadiri sebuah sesi doa di komunitas. Pada suatu pagi di Februari 2025, aku mengikuti forum doa bertema "Chasing Luck." Tema ini terasa begitu spesial bagiku—unik, menggugah, dan membangkitkan rasa ingin tahu.


Masih segar di ingatan aku tentang apa yang diucapkan oleh pembicara. Dia bilang bahwa keberuntungan itu bisa dikejar dengan memantaskan diri—terus belajar, upgrade skill, memperbaiki mindset, dan yang terpenting, gak berhenti berusaha—sehingga kita menjadi manusia dengan versi lebih baik hari kemarin. 


Setiap hari, meski banyak tantangan, kita terus mencoba hidup mindfulness, dengan sadar mengambil keputusan yang baik dan benar menurut nilai dan keyakinan diri sendiri.


Itulah kegigihan yang bila dipupuk setiap hari bisa menjadi “keberuntungan”—label yang sering diberikan ke orang-orang yang berani mengejar mimpinya.


Dari Gagal Nge-War Tiket Taylor Swift Sampai Akhirnya Nonton Konser


Taylor Swift's The Eras Tour di Singapura. (Foto: Birgitta Ajeng)

Momen itu mengajak aku merefleksikan perjalanan aku dalam mengejar salah satu bentuk 'keberuntungan' dalam hidup, yakni menonton Taylor Swift's The Eras Tour di Singapura tahun 2024. Sebagai Swiftie garis keras, konser ini bukan sekadar hiburan buat aku. Ini adalah impian yang telah Aku rawat bertahun-tahun.


Taylor Swift adalah penyanyi perempuan favorit aku. Lagu-lagunya banyak mengisi hari-hariku, menginspirasiku, dan bahkan mengubah hidupku. Karena itu, aku kepingin banget menonton konsernya.


Namun ketika hari nge-war tiket konser tiba, seorang temanku bilang, “Gak gampang emang mau war-war gitu Jeng. Hoki lo mesti gede. Kemarin gue Coldplay Jakarta dan Singapura aja gagal.”


Temanku mungkin ada benarnya. Hokiku memang kecil, karena aku emang gagal nge-war tiket konser saat itu. Tapi, ada faktor lain yang lebih besar dari hoki, yaitu kegigihan.


Kalau aku percaya 100 persen bahwa keberuntungan itu cuma soal hoki, mungkin aku bakal nyerah. Tapi aku tahu, selalu ada cara lain. Aku mulai cari jalan lain: tanya teman, cek komunitas, sampai akhirnya, setelah berbulan-bulan mencari, aku dapat tiket dari IBU DIBJO.


Jangan Biarkan Orang Lain Mendefinisikan Hoki Kita


Bisa menonton konser Taylor Swift itu lebih dari sekadar kesenangan. Itu bukti bahwa mimpi yang kita rawat lama gak akan sia-sia kalau kita cukup gigih untuk mengejarnya.


Banyak orang menganggap keberuntungan adalah faktor utama kesuksesan. Padahal, lebih sering, keberuntungan adalah hasil dari usaha yang tak terlihat.


Kalau ada orang lain bilang, "Gak gampang. Hoki lo harus gede. Gue aja gagal.”—gak berarti kita harus berhenti mencoba dan gagal seperti dia.


Di dunia ini, pasti ada banyak jalan untuk meraih mimpi-mimpi kita. Pasti ada jalan untuk mendapatkan sesuatu yang membuat hati kita bahagia, bahkan sejak saat kita membayangkannya. Perjalanannya mungkin gak mudah, rutenya bisa jadi berbelok-belok dan gak selurus tol, tapi yang terpenting ada jalannya, kan?

0 Comments