Review Film Netflix Get Smart With Money: Solusi Masalah Finansial Bukan Melulu Investasi

Apa jadinya kalau orang tua kita tidak hanya mewariskan aset, tapi juga kebiasaan finansial destruktif seperti boros dan menumpuk utang? Ya, inilah yang terjadi pada Ariana, salah satu klien dalam film dokumenter Netflix Get Smart With Money.

Ariana dibesarkan oleh orang tua yang selalu merasa layak membeli apa pun. Saat kuliah, dia pun merasa wajar-wajar saja mengambil pinjaman dana pendidikan (student loan) tanpa mengetahui konsekuensi bunga besar di balik keputusannya.

“Tak ada yang bilang kalau pinjaman dana pendidikan aku berbunga sejak pertama kutandatangani. Atau kenapa kau izinkan anak 18 tahun pinjam 25 ribu USD (sekitar Rp414,5 juta) per tahun?” Ariana mengeluh.

Keputusan yang diambil tanpa kesadaran penuh itu membuatnya hidup dalam tumpukan utang sebesar 100 ribu USD (sekitar Rp1,6 miliar). Dia bahkan sudah memakai kartu kredit untuk membiayai gaya hidupnya sejak belia.

Seiring kehidupannya bertumbuh menjadi keluarga kecil dengan dua anak, Ariana pun menambah kartu kredit dengan utang mencapai 45 ribu USD (sekitar Rp746 juta).

Tak cuma Ariana, klien lainnya, Lindsey, juga terjebak dałam masalah finansial dengan keluhan berbeda. Lindsey bermimpi menjadi fashion desainer, tapi dirinya malah terjebak dalam dua pekerjaan yang membuatnya tak punya waktu untuk dirinya sendiri: pramusaji dan pelayan bar.

Lindsey menyadari bahwa gaji dari kedua pekerjaannya itu tak pernah cukup buat membayar tagihan dan membeli asuransi kesehatan guna mengobati depresi dan kecemasannya. Meski sudah bekerja keras dan lembur, gajinya selalu habis dan ia tidak perdah bisa menabung.

Dua klien lainnya adalah pasangan suami istri John dan Kim, serta atlet football Jalen "Teez" Tabor. Keduanya sama-sama memiliki banyak uang, namun kesulitan mengatur pengeluaran.

Kisah Tabor adalah yang cukup unik, menurutku. Di umur 21 tahun, dia mendapat cek pertamanya senilai 1,6 juta USD (sekitar Rp26,5 miliar). Dia banyak menghabiskan uangnya untuk jalan-jalan sampai akhirnya tersisa 280 ribu USD (sekitar Rp4,6 miliar).

Untuk dapat menjaga kestabilan finansialnya, dia terus berkarier sebagai atlet. Namun di satu momen, kakinya mengalami patah tulang. Tabor tidak lagi dilibatkan dałam tim football manapun.

Empat Penasihat Finansial yang Fokus pada Akar Masalah


Film dokumenter yang dirilis pada September 2022 ini melibatkan empat penasihat finansial. Mereka mendampingi masing-masing kliennya selama setahun untuk dapat keluar dari kemelut finansial.

Saat mendengar profesi penasihat finansial atau perencana keuangan, kebanyakan dari kalian mungkin langsung mengidentikkannya dengan investasi. Namun di film ini tidak cuma bicara soal saham atau reksadana. Setiap penasihat finansial di film ini memberikan saran berdasarkan akar permasalahan masing-masing kliennya.

Nasihat untuk berinvestasi hanya diberikan oleh financial educator, RO$$ MAC, kepada Tabor. Sejak menderita cedera, Tabor mulai menyadari untuk lebih memikirkan langkah finansial selanjutnya.

Kita semua tahu bahwa atlet yang mengalami cedera kemungkinan besar sulit kembali ke arena. Dengan sisa uang yang ada dari masa kejayaannya di usia 21 tahun, Tabor mulai memikirkan peluang investasi.

John dan Kim juga memiliki kesamaan dengan Tabor. Mereka berada di fase hidup dengan penghasilan bulanan tertinggi, sehingga berencana untuk pensiun dini. Sayangnya, mereka terkendala oleh pengeluaran bulanan yang juga meroket.

Karena pembelanjaan terbanyak adalah makanan, mereka diminta belajar menekan pengeluaran dengan membandingkan harga bahan makanan saat peri ke supermarket. Sisa uang dari penghematan ini bisa dialokasikan ke kantong-kantong investasi.

Solusi Masalah Finansial Bukan Melulu Investasi


Berbeda dengan Tabor serta John dan Kim, Lindsey lebih membutuhkan penghasilan tambahan. Jangankan berinvestasi, Lindsey bahkan tak punya sisa uang dari gaji bulanannya.

Karena itu, pendiri Afford Anything, website yang membantu orang-orang membangun kesejahteraan dan memaksimalkan hidup, Paula Pant, mengarahkan Lindsey untuk menemukan cara lain mencari uang yang lebih sustainable.

“Cara yang sesuai dengan bakatmu dan memercikkan gairahmu,” kata Paula.

Awalnya, Paula menyarankan Lindsey menghemat pengeluaran kebutuhan rumah, transportasi, dan makanan, agar data menabung. Selanjutnya, Paula meminta Lindsey mencari pekerjaan sampingan.

Cara paling cepat bagi Lindsey untuk mendapat uang tambahan adalah dengan menjadi penjaga anjing. Dia juga memiliki bakat di bidang seni, yakni membuat ilustrasi. Dengan cekatan, Paula langsung menangkap ide berupa value tambahan untuk pekerjaan sampingan Lindsey.

Paula bilang, “Jika kau bisa menggambar cepat, bayangkan jika kau ke taman anjing dan kau dekati seseorang lalu bilang, ‘Hei, aku suka anjingmu. Boleh aku gambar anjingmu sebentar?’ Beri mereka sketsanya. Cantumkan nomormu di bawah."

Tak selesai di situ, Paula mengarahkan Lindsey mencari pekerjaan sampingan lainnya yang mengandalkan talentanya. Lindsey diminta membangun bisnisnya sendiri di bidang seni untuk jangka waktu yang lebih lama.

Lantas, bagaimana dengan Ariana yang hidupnya terkubur dalam utang?

Penulis buku Get Good With Money, Tiffany Aliche, yang telah banyak mengadakan seminar financial literacy untuk perempuan, mengajak Ariana untuk lebih mindfulness dalam menggunakan uang. Dengan demikian, Ariana bisa menyisihkan sedikit demi sedikit uangnya untuk melunasi student loan dan utang kartu kreditnya.

Satu nasihat yang menurutku sangat berkesan dari Tiffany, “Mika kau terus takut akan uangmu, itu akan memengaruhi secara negatif bagaimana kau atur keuanganmu.”

“Jika kau seseorang yang pandai soal uang, keberlimpahan dan pertumbuhan, maka itu akan memengaruhi cara uangmu muncul dalam hidupmu. Uangmu takkan pernah lebih baik dari pola pikirmu,” kata Tiffany lebih lanjut.

Menurutku, film ini mengajak kita mengubah perspektif soal uang. Meski masing-masing klien memiliki latar belakang beragam, ada satu definisi yang seragam soal uang. Kehadiran uang di dalam hidup mereka sempat memberikan dampak destruktif.

Kehadiran empat penasihat finansial di film ini menjadi penting, karena berhasil mengubah sudut pandang para klien soal uang. Uang yang sempat menjadi sumber utang, ketamakan, dan kesengsaraan, telah berubah fungsi menjadi alat yang membantu mewujudkan impian mereka.

0 Comments